Bhinneka Tunggal Ika: Keanekaragaman Sukubangsa atau Kebudayaan?


Oleh Parsudi Suparlan (alm.), Hubungan Antar Sukubangsa, YKIK 2004

 

Pendahuluan: Masyarakat Majemuk Indonesia dan Permasalahannya 

Dalam berbagai tulisan, antara lain Suparlan (2001a, 2001b), telah saya tunjukan bahwa corak masyarakat majemuk, atau bhineka tunggal ika, Indonesia di tandai oleh penekanannya pada kesukubangsaan yang mengacu pada kelompok-kelompok atau masyarakat-masyarakat sukubangsa dengan masing-masing kebudayaanya yang dipersatukan dan diatur secara administratif oleh sistem nasional Indonesia yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945. di bawah pemerintahan presiden Suharto sistem nasional tersebut didominasi oleh coraknya yang sentralistik, otoriter-militeristik, korup, pemanipulasian SARA dan juga pemanipulasian hukum legal, hukum adat dan berbagai konvesi sosial untuk kepentingan penguasa/pejabat dan kekuasaan rezim. Hak warga dan komuniti (masyarakat lokal atau kolektiva sosial) diabaikan atau tidak dihargai, dan hak hidup sukubangsa dan kebudayaannya serta pranata-pranatanya ditekan selama tidak mendukung keberadaan dan kemantapan penguasa dalam rezim Suharto, yang dalam kegiatan rezim ini melakukan eksploitasi secara maksimal atas semua sumber-sumber daya yang ada di Indonesia. Read more ›

Tagged with:
Posted in antropologi

Tehnik-tehnik Berburu Suku Penan Benalui di Taman Nasional Kayan Mentarang


Oleh Adi Prasetijo, Tulisan lama 2001, hasil pengamatan Ekspedisi Bahau (1994) WWF & Mapagama

 

 

Masyarakat Punan

Sebenarnya Suku Punan ini merupakan salah satu kelompok orang Dayak. Penamaan Punan atau Penan mengacu kepada kelompok orang dayak yang punya daya jelajah/mobilitas yang tinggi. Nama Punan sendiri berasal dari nama yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda.[1] Masyarakat Punan di Taman Nasional Kayan Mentarang, pada zaman dulu merupakan kelompok suku pengembara yang berasal dari Sungai Malinau. Di S. Malinau ini, mereka mendiaminya bersama Suku Berusu’. Ketika terjadi perpindahan Suku Merap dari Sungai Bahau, mereka kemudian tersebar ke seluruh penjuru wilayah tengah Kalimantan hingga ke Sarawak. Read more ›

Posted in tulisan

Kebakaran Hutan dan Perkebunan Sawit


Oleh Adi Prasetijo

Ini adalah tulisan lawas  (15 Juni 2001), tapi sepertinya masih layak untuk disimak karena kebarakan hutap tetap saja terjadi.

 

Latar Belakang

Pada tahun 1997-1998, di Indonesia terjadi kebakaran hutan yang dashyat. Kebakaran hutan di Indonesia pada waktu itu, terjadi bersamaan dengan fenomena El-Nino.[1] Dari hasil pemantauan CRISP (The Singapore Center for Remote Sensing) tercatat bahwa di tahun 1997, diperkirakan ada 1,5 juta ha. areal telah terbakar di Sumatra dan 3 juta ha ketika itu. di Kalimantan. Menurut kesimpulan CRISP sebagian besar kebakaran terjadi di daerah hutan dataran rendah yang berdekatan dengan sungai dan jalan, hutan diareal pegununangan tidak tersentuh api pada tahun itu (Barber & Schweithelm, 2000, 11). Hasil deteksi satelit pada tahun 1997 menunjukkan, titik-titik itu di atas 90 persen berasal dari hutan yang dikonversi. Dari ketiga lokasi kebakaran yang ditangkap oleh titik-titik hot spot yang terjadi di Kalimantan, yaitu di lokasi hutan rawa gemuk (peat swamp), hutan rawa-rawa (wetland) dan hutan dataran rendah, WWF menemukan bahwa sebagian besar titik hot spot tersebut ditemukan di lokasi hutan dataran rendah. Read more ›

Tagged with: ,
Posted in artikel

The Root of Green Budgeting


By: Adi Prasetijo & Pia Buschman (2014) – Indonesia Center for Sustainable Development

Green Budgeting

Within the region of South-east Asia, Indonesia is one of the most vulnerable countries to multiple climate change hazards like drought, floods, sea-level rise and landslide. These aspects of a warming climate will have a negative impact on food security, water resources, coastal areas, forests, marine biodiversity, farming and coastal livelihoods, and health, disproportionally affecting the poorest Indonesians. Climate change has a strong influence on the economic development of Indonesia, representing the highest potential cost to the economy in a long-term perspective. By the end of the century these costs mount up to annual losses of between 2.5 and 7.0 percent of GDP. Generating almost 10 percent of the total sum of the world’s greenhouse gases, Indonesia represents the second largest greenhouse gas emitter among developing countries in the region and one of the world’s leading emitters. The main sources of the Indonesian emissions represent illegal logging, forest fires, and peatland degradation (World Bank, 2009).

Read more ›

Tagged with: ,
Posted in Social, tulisan

Perang Yang Tak Pernah Usai


Resensi  Film Dokumenter “This is What Winnings Looks Like”

Penang, 28 Maret 2014

 

Film ini adalah film journal dokumenter oleh Ben Anderson tentang sisa-sisa perang Afghanistan. Ben adalah salah satu journalis spesialis perang kontemporer. Ia mendapatkan pujian dari hasil beberapa karyanya. Terutama tentang Afghanistan.

Ben Anderson

Film “This is What Winnings Looks Like” – adalah hasil dokumentasinya mengikuti satuan marinir Amerika dikota Sangin. Seperti diketahui tahun 2014 adalah batas terakhir seluruh penarikan tentara Amerika dan Inggris dari Afghanistan. Tidak segan mereka mengatakan “It is our Victory over Taliban”. Dan kemudian Obama merencanakan bahwa semua ‘security action’ akan diambil alih oleh tentara dan polisi Afghanistan (ANA). Amerika mendeklarasikan bahwa keadaan aman dan Amerika hanya berfungsi sebagai pengawas dan penasihat tentara dan polisi Afghanistan.  Dan film ini menunjukan kenyataan sebaliknya. Sama seperti judulnya “This is what winnings look like” . Apakah memang seperti ini rupa kemenangan itu ? Read more ›

Tagged with:
Posted in artikel

Pers dan Kapitalisme


 Adi Prasetijo

Tulisan ini berusaha untuk memperlihatkan dinamika dunia pers selama masa Orde baru & pasca Orde Baru. Dinamika pers di Indonesia, dapat dikatakan sebagai usaha pers sendiri dalam mencari identitas jati dirinya. Apabila dalam masa perjuangan, pers dikenal sebagai alat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan, sehingga disebut sebagai pers “perjuangan”, maka ketika masa orde lama, pers menjadi corong partai politik, sehingga kemudian disebut sebagai “pers politik/partisan” (ada keharusan media untuk berafiliasi dengan partai politik pada masa Orde Lama). Kemudian pada masa orde baru, pers telah berubah menjadi suatu industri media yang merupakan bagian dari kapitalisme Orde baru & kapitalisme global, sehingga disebut sebagai pers “industri”. Read more ›

Posted in tulisan

Bagan dan Seribu Stupa


Dimana Bagan ?

Myanmar adalah negara yang baru terbuka terhadap perubahan. Mereka sekarang banyak menerima turis asing dari berbagai negara. Harapannya tentu saja devisa dan pekerjaan bagi rakyatnya. Di Yangon, jalan layang pertama baru saja diresmikan. Fasilitas publik masih minim. Pesawat kami dari Yangon ke Bagan, penuh sesak. Sehari ada 3 kali penerbangan ke Bagan dari Yangon. Read more ›

Posted in tulisan
Archives
Blog Stats
  • 309,979 hits
Manila this morning from my window
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,726 other followers