Category Archives: artikel

Antara Masyarakat Ulu dan Ilir di Sumatra


Catatan tentang buku “To Live As Brother; Southeast Sumatra in the Seventeenth and Eighteenth Centuries”
Barbara Watson Andaya
University of Hawaii Press, Honolulu, 1993.

Bagi saya buku ini adalah buku yang penting untuk memahami sibak tabir budaya kelompok-kelompok masyarakat yang ad adi Sumatra, khusus Sumatra bagian tengah dan pesisir timur. Mengapa demikian ? karena dalam pembahasannya banyak hal temuan Andaya, meskipun pada abad 17 & 19 masehi, relevan dihubungkan dengan konteks kebudayaan masyarakat Sumatra saat ini.

Tesis Andaya adalah ketika ia membagi masyarakat Melayu Jambi menjadi 2 sub kebudayaan yaitu kebudayaan masyarakat Melayu yang ada didaerah hulu (pedalaman) dan hilir (pesisir) dimana keduanya mempunyai bentuk kebudayaan yang berbeda. Masyarakat pedalaman, menurutnya hidup secara independen dan tersebar berada di kawasan sumber daya alam yang produktif. Menurut Andaya, Orang Kubu adalah salah satu bentuk kelompok masyarakat Melayu yang menjadi penghuni hutan. Selain Orang Kubu, terdapat orang-orang Bathin, suatu komunitas tertua yang ada di Jambi (Andaya,1993;14). Continue reading

Rethinking Ethnicity, Argumens and Explorations: Richard Jenkins Sage Publications, London, 1997.


Resensi:

adi prasetijo

Barth menekankan bahwa identitas etnik adalah dihasilkan, dikonfirmasikan atau ditranformaikan di dalam bagian/corak (course) interaksi dan transaksi antara pengambilan keputusan, dan strategi individu. Etnisitas dalam Barth  menjadi bahan politik, pengambil keputusan, dan orientasi tujuan (jenkin, 12).

  • Etnik/suku bangsa adalah tentang perbedaan kultural – meskipun , menulangi pertanyaan tema utama dari identitas sosial, identitas adalah selalu merupakan dialektika antara kesamaan & perbedaan
  • Etnisitas  adalah dipusatkan pada perhatian dengan kebudayaan – makna yang dibagi bersama (shared meaning)- tetapi ini juga berakar di dalam, dan pada suatu kepentingan yang luas ttg hasil dari interaksi sosial
  • Etnisitas tidak lagi mapan atau tak berubah daripada kebudayaan dari dimana ini merupakan sebuah komponen atau situasi dimana ini diproduksi dan direproduksi
  • Etnisitas sebagai sebuah identitas sosial adalah kolektif/kumpulan dan individual, dieksternalisasikan di dalam interaksi sosial dan diinternalisasikan dalam identifikasi diri personal (Jenkins, 13-14). Continue reading

Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural


Parsudi Suparlan

*Simposium Jurnal Antropologi ke 3, Bali 16-21 Juli 2002

Pendahuluan

Dalam tulisan saya (Suparlan 2001a, 2001b) telah saya bahas dan tunjukkan bahwa cita-cita reformasi untuk membangun Indonesia Baru harus dilakukan dengan cara membangun dari hasil perombakan terhadap keseluruhan tatanan kehidupan yang dibangun oleh Orde Baru.  Inti dari cita-cita tersebut adalah sebuah masyarakat sipil demokratis, adanya dan ditegakkannya hukum untuk supremasi keadilan, pemerintahan yang bersih dari KKN, terwujudnya keteraturan sosial dan rasa aman dalam masyarakat yang menjamin kelancaran produktivitas warga masyarakat, dan kehidupan ekonomi yang mensejahterakan rakyat Indonesia.  Bangunan Indonesia Baru dari hasil reformasi atau perombakan tatanan kehidupan Orde Baru adalah sebuah “masyarakat multikultural Indonesia” dari puing-puing tatanan kehidupan Orde Baru yang bercorak “masyarakat majemuk” (plural society).  Sehingga, corak masyarakat Indonesia yang bhinneka tunggal ika bukan lagi keanekaragaman sukubangsaa dan kebudayaannya tetapi keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia. Continue reading

Orang Kubu Dalam Kaca Mata Edwin Loeb


Resensi Sumatra, Its History And People, By Edwin M.Loeb (1935 ?)

Oleh Adi Prasetijo

Buku ini sebenarnya menceritakan sejarah pulau Sumatra dan masyarakat yang hidup di pulau itu. Salah satu yang menjadi kajian Loeb adalah Orang Kubu. Loeb membagi tulisannya tentang orang Kubu dalam 4 bagian, yaitu; pendahuluan yang berisi sejarah Orang Kubu, lokasi mereka, dan pengistilahan Kubu sendiri; kehidupan ekonomi yang mencoba menjelaskan mata pencaharian mereka; organisasi sosial yang menjelaskan dengan singkat tentang sistem kekerabatan, perkawinan, dan daur hidup mereka (kelahiran – kematian); dan yang terakhir tentang agama mereka.
Continue reading

Struktur Sosial, Agama, dan Upacara: Geertz, Hertz, Cunningham, Turner, dan Levi-Strauss


Oleh Parsudi Suparlan

Tulisan ini adalah tulisan lawas beliau. Bahan ada dibuku Hubungan Antar Suku Bangsa, 2004

PENDAHULUAN

Struktur sosial sebagai suatu tujuan pendefinisian dan alat operasional telah merupakan sebagian dari sejumlah perhatian utama antropologi. Bahkan ada sejumlah tokoh antropologi yang menganggap bahwa struktur sosial adalah satu-satunya perhatian utama dalam antropologi, sehingga menjadikannya sebagai suatu kekuatan pendorong bagi pembentukan teori-teori dalam antropologi.

Dalam kenyataannya para ahli antropologi telah dihadapkan pada suatu tantangan, yaitu memberikan penjelasan mengenai berbagai konsep yang nampaknya samar-samar tetapi selalu ada dalam setiap sistem sosial dan kebudayaan, dan bahkan juga terwujud dalam berbagai kegiatan manusia pada tingkat kenyataan sosial. Oleh para ahli antropologi, sistem-sistem konseptual yang ada pada berbagai aneka ragam kehidupan manusia dilihat sebagai perwujudan dari prinsip-prinsip struktur sosial; dan karenanya maka hasil pengkajian mereka itu menjadi sistem-sistem konseptual dari para ahli antropologi. Continue reading

Komuniti Lokal dan Akses Peran Serta Mereka Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam


Oleh: Adi Prasetijo

Tulisan ini pernah dimuat dibuku “Akses Peran Serta Masyarakat”, terbitan ICSD, 2003

Indonesia adalah sebuah negara yang masyarakatnya bersifat majemuk (plural society). Masyarakat majemuk adalah suatu masyarakat yang penduduknya terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan sosial yang berbeda dimana mereka hidup dalam satuan-satuan kelompoknya masing-masing dan hanya bertemu dalam arena-arena publik saja. Sebagai suatu masyarakat yang majemuk, Indonesia dipersatukan oleh suatu sistem nasional yang mempersatukan suku-suku bangsa dan kebudayaan yang beraneka warna tersebut.  Sistem nasional itu adalah bhinneka tunggal ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Meskipun mempunyai bermacam-macam suku bangsa namun tetap satu, yaitu Indonesia. Berdasarkan survey penduduk terakhir yang dilakukan Kennedy dimana ia mengelompokkan penduduk Indonesia berdasarkan suku bangsanya, tidak kurang ia menemukan bahwa di Indonesia terdapat 3.000 suku bangsa. Masing-masing suku bangsa ini mempunyai kebudayaan yang berbeda (Kennedy,1935). Tidak mengherankan kemudian masyarakat di Indonesia mempunyai berbagai bentuk dan jenis kebudayaan yang berbeda. Dari mulai kebudayaan berburu dan meramu hingga kebudayaan industri, seperti Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Continue reading

Definisi Kebudayaan Menurut Parsudi Suparlan (alm.)


Tulisan-tulisan alm. Pak Parsudi ini gw kumpulin semenjak kuliah dulu dari beberapa situs, gw sendiri juga lupa alamat situsnya dan sumbernya. Jadi silahkan dijadikan bahan rujukan pemahaman tentang pemikiran pak parsudi ttg kebudayaan tapi jangan dikutip untuk karangan ilmiah. Lebih baik cari bukunya “Hubungan Antar Sukubangsa”, terbitan YIK (Yayasan Ilmu Kepolisian), thn 2003 (kalo nggak salah)….

prasetijo@gmail.com

Definisi Kebudayaan

“Kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia, dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan tindakan-tindakannya.” (Hlm. 2-18 alinea I) Continue reading

Nasionalisme Kita


Oleh :Adi Prasetijo

Pendahuluan

Dalam suatu seminar yang diadakan untuk mengenang 100 tahun Dr Johannes Leimena di Jakarta pada bulan September 2005, terungkap kekhawatiran para ahli bahwa nasionalisme Indonesia telah banyak mengalami kemunduran atau kalau boleh dikatakan sebagai meranggas. Fakta terungkap bahwa bukannya nasionalisme sebagai bangsa yang menguat tapi gejala komunalisme-lah yang semakin menguat dan mengakar dimasyarakat. Peristiwa-peristiwa konflik antar kesukuan dan kelompok atas nama agama dan sentimen kesukuan menguat (Kompas, 26/9/2005). Terungkap juga dalam kesempatan yang lain bahwa semangat nasionalisme dikalangan para anak muda bangsa kita yang sedang giat-giatnya membangun mengejar ketertinggalan juga menunjukkan kemerosotan. Dalam catatan merah suatu sarasehan Dinamika Pemuda dan Budaya Indonesia yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta pada bulan Februari 2006, terkuak bahwa para generasi pejuang yang turut memerdekan bangsa ini semakin khawatir aras tergerusnya nilai-nilai dan semangat nasionalisme dikalangan anak muda Indonesia (Kompas, 18/2/2006). Continue reading

Belajar tentang kekerasan dari anak-anak “City of God”…


Sebenarnya sudah lama ingin nonton film ini. Rasanya keinginan itu muncul sudah sekisaran 3 atau 4 tahun lalu ketika film ini menjadi booming. Tapi entah bisa kesampaian sabtu kemarin. Aku tertarik karena berita awardnya yang didapat dari film ini. Berapa kali film ini untuk mendapatkan award. Aku kira hampir setiap koran atau majalah kritik film memuatnya sebagai salah satu film yang bermutu tahun itu. Bayanganku, pasti ini film yang bagus dan sarat dengan nuansa kedalaman yang tinggi. Ternyata lepas dari 4 tahun baru bisa aku saksikan dan nyatakan dalam pikiranku…….sungguh sayang. Dan memang film ini telah menginspirasi tentang makna dan dampak kekerasan yang dalam. Bahkan makna yang terdalam menurutku. Continue reading

Hubungan Patron Klien


oleh: adi prasetijo (tijok)

Tulisan ini sebenarnya merupakan rangkuman dari tulisannya James Scott (Moral Petani, Perlawanan kaum Petani, dll). Hubungan patron klien adalah pertukaran hubungan antara kedua peran yang dapat dinyatakan sebagai kasus khusus dari ikatan yang melibatkan persahabatan instrumental dimana seorang individu dengan status sosio-ekonominya yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumber dayanya untuk menyediakan perlindungan, serta keuntungan-keuntungan bagi seseorang dengan status yang dianggapnyanya lebih rendah (klien). Klien kemudian membalasnya dengan menawarkan dukungan umum dan bantuan termasuk jasa pribadi kepada patronnya. Sebagai pola pertukaran yang tersebar, jasa dan barang yang dipertukarkan oleh patron dan klien mencerminkan kebutuhan yang timbul dan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing pihak Continue reading