Adi Prasetijo, Penang, 10 Mei 2013
Bagi antropolog yang suka membaca karya-karya antropologi klasik, karya antropolog David Schneider (1918-1995) mestinya tidak terlewatkan. Kajian Scheneider memang jauh dari hingar-bingar publisitas, namun karyanya tentang teori kekerabatan sangatlah fundamental dan menjadi banyak pijakan teori-teori antropologi berikutnya. Terutama untuk kajian keluarga, gender, feminis dan kajian homoseksualitas. Continue reading
Tag Archives: antropologi
Masalah Keetnikan dan Kelas Sosial
Adi Prasetijo (2011), Penang
Tulisan sambil nunggu ngantuk…
Pengantar
Studi yang membahas hubungan antara dominant dan sub-ordinate group dalam konteks kehidupan etnik minority sesungguhnya bukanlah suatu studi yang baru. Kajian ini banyak menyangkut dengan kajian yang berhubungan dengan hubungan dominasi kelas atas terhadap kelas sub-ordinate yang ada dibawahnya. Keberadaan hubungan dominasi tidak lepas dikaitkan dengan struktur hirarki yang ada dimasyarakat. Shubutani dan Kwan (1970: 29) mengatakan sebagai berikut; Continue reading
Ketakwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
(Faith to One God) (Editor: Parsudi Suparlan and Harisun Arsyad). Book. Jakarta , Dept. Agama , RI, Balitbang Agama, 2000
Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat dilihat sebagai puncak atau inti dari keyakinan keagamaan yang dipunyai oleh para penganut agama-agama tradisi besar, yaitu Islam, Katolik, Kristen, Hindu dan Budha. Agama-agama tradisi besar dikenal sebagai mempunyai keyakinan akan adanya keesaan Tuhan. Continue reading
Ruth Benedict dan Pola Kebudayaan
Adi Prasetijo
Ruth Benedict, Ilmuwan Sosial Perempuan Yang Tangguh
Fokus utama kajian Ruth Benedict adalah kepada hubungan antara individul dan masyarakatnya. Ruth Benedict merupakan wanita pertama yang mencapai keunggulan sebagai ilmuwan sosial dan menunjukkan keteguhannya dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam hidupnya ketika berhadapan dengan permasalahan yang dihadapi wanita dalam masyarakat Amerika saat itu.
Ruth Benedict mendapatkan pendidikan yang kuat di Vassar College, sebuah sekolah terkenal di thn 1880. Sebuah sekolah yang bertujuan untuk mendidik wanita agar sejajar dengan laki-laki. Awalnya, Ruth Benedict tertarik kepada bidang kesastraan dan puisi. Pada masa selanjutnya ia menerbitkan puisi dalam berbagai majalah puisi dan jurnal. Pengalamannya dengan berbagai kritik analisis sastra nantinya berpengaruh kepada ke-antropologiannya. Continue reading
Kemajemukan, Hipotesis Kebudayaan Dominan dan Kesukubangsaan
oleh Parsudi Suparlan
dimuat dalam Jurnal Antropologi, tahun XXIII No. 58, Januari-April 1999
Pendahuluan: Hipotesis Kebudayaan
Kesukubangsaan di antara para migran di kota Bandung dan Medan, Bruner (1974) telah menunjukkan kegunaan hipotesis kebudayaan dominan yang dibuatnya sebagai model analisis. Hipotesis kebudayaan dominan adalah sebuah model substantif yang merefleksikan kenyataan hubungan antar sukubangsa dalam sebuah konteks struktur kekuatan setempat. Produk dari hubungan antar suku tersebut ditentukan oleh corak hubungan di antara suku-suku bangsa yang ada, dan oleh corak hubungan antara masing-masing suku bangsa tersebut dengan struktur kekuatan setempat yang ada. Continue reading
Membaca Eric Wolf
Pagi yang buta. Sebentar lagi menjelang terang. Mata belum terkantuk. Pathways of power dan Europe People Without History milik Eric Wolf masih tergeletak disamping laptopku. Membaca kedua buku ini memang seakan menjelajahi pemikiran Marx dalam konteks yang lain. Jika biasanya membaca Marx dalam konteks gerakan maka marx ditangan Wolf seakan hidup dalam konteks sejarah dan budaya. Memang Wolf bukan orang pertama yang membaca Marx dalam antropologi. Tetapi bagi saya ia yang membumikan dan mempopulerkan pemikiran Marx dalam kajian antropologi. Ia mengotak-atik mode of production dan power seakan menjadi hidup. Kalau biasanya konteks itu hidup dalam masyarakat modern, Wolf menghidupkannya dalam sisi-sisi masyarakat tradisional dan menghubungkannya dengan masyarakat. Continue reading
Pendekatan Budaya Terhadap Agama
Oleh Parsudi Suparlan (alm.)
Disampaikan dalam Pelatihan Wawasan Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Dosen Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, R.I. Tugu, Bogor, 26 November 1994
Pendahuluan
Dalam salah satu tulisan saya (1988: v), saya kemukakan bahwa: “Agama, secara mendasar dan umum, dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan lingkungannya”. Dalam definisi tersebut, agama dilihat sebagai sebuah doktrin atau teks suci sedangkan hubungan agama dengan manusia yang meyakininya dan khususnya kegiatan-kegiatan manusia penganut agama tersebut tidak tercakup dalam definisi tersebut. Para ahli ilmu-ilmu sosial, khususnya Antropologi dan Sosiologi, yang perhatian utamanya adalah kebudayaan dan masyarakat manusia, telah mencoba untuk melihat agama dari perspektif masing-masing bidang ilmu dan pendekatan-pendekatan yang mereka gunakan, dalam upaya mereka untuk dapat memahami hakekat agama dalam kehidupan manusia dan masyarakatnya. Continue reading
Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural
Parsudi Suparlan
*Simposium Jurnal Antropologi ke 3, Bali 16-21 Juli 2002
Pendahuluan
Dalam tulisan saya (Suparlan 2001a, 2001b) telah saya bahas dan tunjukkan bahwa cita-cita reformasi untuk membangun Indonesia Baru harus dilakukan dengan cara membangun dari hasil perombakan terhadap keseluruhan tatanan kehidupan yang dibangun oleh Orde Baru. Inti dari cita-cita tersebut adalah sebuah masyarakat sipil demokratis, adanya dan ditegakkannya hukum untuk supremasi keadilan, pemerintahan yang bersih dari KKN, terwujudnya keteraturan sosial dan rasa aman dalam masyarakat yang menjamin kelancaran produktivitas warga masyarakat, dan kehidupan ekonomi yang mensejahterakan rakyat Indonesia. Bangunan Indonesia Baru dari hasil reformasi atau perombakan tatanan kehidupan Orde Baru adalah sebuah “masyarakat multikultural Indonesia” dari puing-puing tatanan kehidupan Orde Baru yang bercorak “masyarakat majemuk” (plural society). Sehingga, corak masyarakat Indonesia yang bhinneka tunggal ika bukan lagi keanekaragaman sukubangsaa dan kebudayaannya tetapi keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia. Continue reading
Dari Masyarakat Terasing ke Komunitas Adat Terpencil
Paradigma Indigenous People dari Negara
Adi Prasetijo
Pengantar
Paradigma adalah jendela sudut pandang yang mendasari kita dalam melihat suatu gejala tertentu dimana dalam paradigma itu bersandar pada suatu konsep/teori tertentu yang mendasari keseluruhan sudur pandang kita. Demikian pula ketika Depsos/pemerintah dalam melihat gejala “masayarakat terasing” ini. Kebijakan yang mereka hasilkan terhadap “masyarakat terasing” merupakan cerminan dari sudut pandang pemerintah dalam menghadapi permasalahan ini. Tentunya sudut pandang/paradigma yang mereka gunakan juga tidak lepas dari paradigma ilmu-ilmu sosial yang digunakan dalam pembangunan Indonesia. Continue reading
Definisi Kebudayaan Menurut Parsudi Suparlan (alm.)
Tulisan-tulisan alm. Pak Parsudi ini gw kumpulin semenjak kuliah dulu dari beberapa situs, gw sendiri juga lupa alamat situsnya dan sumbernya. Jadi silahkan dijadikan bahan rujukan pemahaman tentang pemikiran pak parsudi ttg kebudayaan tapi jangan dikutip untuk karangan ilmiah. Lebih baik cari bukunya “Hubungan Antar Sukubangsa”, terbitan YIK (Yayasan Ilmu Kepolisian), thn 2003 (kalo nggak salah)….
prasetijo@gmail.com
Definisi Kebudayaan
“Kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia, dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan tindakan-tindakannya.” (Hlm. 2-18 alinea I) Continue reading