Kajian Kesukubangsaan Dalam Antropologi


Oleh Adi Prasetijo (Tijok),prasetijo@gmail.com

Dalam Antropologi, kajian mengenai kesukubangsaan (etnisitas) telah mengalami pergeseran fokus kajian yang cukup mendasar. Dari kajian kesukubangsaan yang berfokus pada isi kebudayaan suatu suku bangsa berwujud dalam suatu taksonomi kebudayaan, berubah menjadi suatu kajian yang lebih berfokus kepada identitas suku bangsa yang muncul dan ada dalam interaksi sosial. Sebagai ilustrasi kajian kesukubangsaan yang mendasarkan pada isi kebudayaan dapat kita simak bagaimana misalnya Ruth Benedict mencoba mengklasifikasikan dan mengkontraskan 3 kebudayaan dari 3 suku bangsa yang berbeda, yaitu masyarakat Indian Pueblo (Zuni & Hopi), masyarakat Dobu yang tinggal di pantai selatan timur Papua New Guinea, dan masyarakat Indian barat laut (Tsimshian, Kwaliutl, Coast Salish) yang hidup antara Puget Sound dan barat daya Alaska. Sebagai contoh ia menulis bahwa masyarakat Dobu adalah kelompok yang paranoid dan bernafsu. Ia menyebutnya sebagai masyarakat yang berwajah keras, sopan, dan bernafsu, diliputi oleh rasa keirian, kecurigaan dan kemarahan. Lalu kemudian ia mengkontraskannya dengan masyarakat Zuni sebagai kelompok masyarakat yang penuh dengan martabat dan kesopanan. Suatu masyarakat yang tidak mempunyai keingingan untuk memimpin dan seseorang yang tidak pernah mengleluarkan komentar atas tetangganya. Dan yang terakhir ia mengkarakterkan masyarakat Pueblo sebagai kelompok masyarakat yang tenang dan harmonis. Masyarakat Kwalitul sendiri, ia lihat sebagai masyarakat yang memperkaya diri sendiri dan mengagungkan diri-sendiri (Jerry D. Moore,1997,79-87).

Benedict tidak hanya menceritakan prasangkanya tentang masyarakat tersebut, ia juga menawarkan generalisasi etnografi tentang perbedan nilai dari masyarakat yang berbeda. Ia meminjam istilah yang dikemukakan oleh Nietzche, yaitu Apollonian dan Dionysian. Kemudian ia mengkontraskan konfigurasi kebudayaan masyarakat Zuni atau masyarakat Puebloan, dengan masyarakat Kwakiutl dan masyarakat Amerika Utara dengan meminjam istilah Nietzche tersebut. Ia membicarakan tentang 2 cara dalam melihat nilai-nilai yang ada. Dionysian merupakan nilai-nilai yang menghapuskan batas-batas kebiasaan dan batas eksistensi manusia untuk mencapai momen yang paling berharga dengan menembus di luar batas panca indra, agar dapat mencapai eksistensi yang lain. Ia melihat Dionysian dalam pengalaman personal dan ritual, adalah melalui pencapaian keadaan psikologi tertentu agar mencapai perbuatan yang diluar batas/berlebihan (excess). Analogi terdekat dengan apa yang ia lihat adalah emosi yang ia lihat dalam kedaan kemabukan dan ia nilai sebagai iluminasi dari kegilaan. Ia percaya bagian dari perbuatan di luar batas akan menuju kepada tempat yang bijak. Masyarakat Indian secara keseluruhan termasuk di Mexico, menurutnya adalah tipe yang Dionysian dimana mereka dinilai dari semua pengalaman kekerasan, dimana semuanya berarti manusia mungkin memecahkan sensor rutin kebiasaan, dan semua pengalaman yang mereka alami akan diatribusikan sebagai nilai tertinggi (Jerry D. Moore,1997,79-87).

Pengklasifikasian dan pentaksonomian kebudayaan atas nilai-nilai budaya yang menjadi pola kebudayaan suku bangsa seperti yang dilakukan oleh Benedict diatas adalah salah satu contoh kajian kesukubangsaan yang mengacu kepada isi kebudayaan. Hal ini akan membawa konsekuensi bahwa batasan suku bangsa sebagai dasar identitas suatu suku bangsa hanya akan mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang berkenaan dengan perbedaan suku bangsa yang mengacu kepada perbedaan ras, budaya, sosial, dan bahasa semata (Barth,1980;12). Ia tidak akan mampu menjawab gejala-gejala fenomena yang lebih mendalam. Seperti proses dinamika terbentuknya suatu suku bangsa. Lebih jauh Barth mengenalkan kemudian konsep kajian kesukubangsaan yang berfokus kepada identitas suku bangsa yang muncul dan ada dalam interaksi sosial dimana fokus kajiannya akan mengarah kepada bagaimana proses identitas/jati diri suku bangsa tersebut dibentuk, dimiliki, dan dipelihara. Kajian kesukubangsaan yang difokuskan pada identitas suku bangsa seperti ini memungkinkan ia untuk menjawab akan proses dinamika terbentuknya suatu suku bangsa (Barth,1980). Dalam prespektif seperti ini pula, konsep kesukubangsaan tidak lagi bersandar pada kajian yang bersifat pembandingan antar kebudayaan, pola-pola kebudayaan, akulturasi kebudayaan, atau perubahan kebudayaan tetapi akan menyandarkan dirinya kepada kajian interaksi sosial dimana identitas suku bangsa para pelaku digunakan sebagai atribut dalam berinteraksi (Suparlan,1998;38-39).

Barth melihat suku bangsa sebagai suatu tatanan sosial dimana batas-batas kesukubangsaannya ditekankan kepada batas-batas yang sifatnya sosial, yaitu lebih kepada bagaimana kelompok tersebut menentukan “aturan main” yang dipahami bersama oleh kelompok itu sendiri. Lebih kepada bagaimana kemampuan untuk berbagi sifat budaya yang sama, sehingga membuat suatu ciri khusus tersendiri. Namun lebih lanjut ia menerangkan sebagai suatu tatanan sosial, suku bangsa mempunyai ciri khas yang mendasar dan secara umum menentukan seseorang termasuk kelompok suku bangsa yang mana, yaitu ciri khasnya yang sifatnya kategoris askripsi (categorical ascription) atau ciri khas yang mendasarkan seseorang termasuk ke dalam kelompok suku bangsa tertentu berdasarkan dari latar belakang asal-usulnya. Ciri-ciri tersebut diberikan, baik oleh sesama anggota kelompok maupun oleh kelompok lain. Menjadi penting kemudian untuk mengetahui tujuan pelaku berinteraksi dengan suku bangsa lainnya. Ciri suku bangsa befungsi sebagai kategori untuk menentukan pengelompokan dan untuk berinteraksi sehingga bisa saja identitas dipertahankan apabila berhasil dipakai/dipelihara dengan mudah, kalau tidak anggota suku bangsa yang bersangkutan akan mengantikan dengan memilih identitas lain, atau mengubahnya. Dalam lingkungan yang berbeda tentunya akan menuntut penampilan yang berbeda pula karena identitas suku bangsa berkaitan dengan nilai budaya standar yang ada, sehingga pada keadaan tertentu seseorang dapat tampil dengan identitasnya tetapi dilain lingkungan/keadaan dibutuhkan nilai standart yang berbeda pula (Barth,1980).Identitas sendiri sebenarnya adalah sebuah konsep pengakuan diri berdasarkan ciri-ciri yang melekat pada dirinya sehingga berdasarkan ciri-ciri tersebut ia dapat menggolongkan dirinya dalam suatu kelompok tertentu. Identitas muncul dan ada didalam interaksi sosial dimana dalam interaksi tersebut manusia membutuhkan suatu pengakuan diri atas keberadaannya. Pengakuan atas identitas diri seseorang tergantung dari konteks interaksi yang melibatkan arena interaksi yang bersesuaian dengan corak interaksinya sehingga seorang individu bisa mempunyai banyak identitas yang sifatnya multiple (berlapis-lapis). Corak interaksi ditentukan oleh suatu hubungan peranan seseorang dimana ia akan menentukan status atau posisinya dalam suatu struktur karena interaksi sendiri terwujud dalam suatu struktur dimana dalam struktur tersebut terdapathubungan antar status individu sesuai dengan peranan yang dipunyainya, dimana peranan seseorang tersebut tergantung dari nilai yang menjadi kesepakatan bersama. Identitas suku bangsa berlaku ketika seorang pelaku menggunakan ciri-ciri kesukubangsaannya sebagai dasar penggolongan kelompoknya (Barth, 1980).

Meskipun begitu identitas suku bangsa bukanlah merupakan sejumlah total keanggotaan individu-individu dan tidak juga merupakan sejumlah strategi total yang diadopsi oleh anggotanya secara independen. Norma, keyakinan, dan nilai adalah berlaku efektif dan mempunyai kekuatan yang mereka konstruksikan sendiri karena anggota kelompok suku bangsa merupakan representasi kolektif dari kelompok dan didukung oleh tekanan kelompok. Individu akan memanipulasi adat yang berlaku apabila ia menjadi bagian dari kelompok, mengadopsi simbol yang ada. Tetapi ia juga akan membayar harga dari keanggotaan dengan berpartisipasi dalam aktivitas simbolik kelompok dan pengukurankesetiaan pada tujuan kelompok (Cohen,1974;xiii). Singkatnya identitas suku bangsa adalah sebuah identitas yang dibangun secara kolektif oleh para anggota pendukungnya (Tambiah,1994). Dengan kondisi tersebut maka akan ada variasi pada tataranperilaku manusia sebagaimana mereka ekspresikan dalam interaksi sosial sehari-hari, termasuk didalamnya ekspresi kesukubangsaan. Ekspresi kesukubangsaan disini dapat kita lihat sebagai suatu manifestasi dari gambaran mental individu atau interpretasi dari dirinya, orang lain dan lingkungannya (Suparlan,1995;xvii). Namun seperti diungkapkan dalam penelitian Parsudi Suparlan tentang Orang jawa di Suriname, varian adalah perasaan dalam individu yang tetap ditentukan oleh status sosial, ekonomi, dan politik dalam sistem orang Jawa dan sistem sosial di Suriname. Perasaan ini menjadi faktor yang penting dalam cara individu mengorganisasi dan memanipulasi identitas suku bangsa dan nilai budaya mereka. Mereka mengekspresikannya secara bervariasi dalam hubungan sosial diantara orang Jawa sebagaimana dengan suku bangsa yang lain (Suparlan,1995;xvii). Variasi memang akan terjadi ketika si pelaku membentuk perilaku kelompok yang berbeda dengan kategori kelompok yang ada, sehingga akhirnya ia membuat kategori yang sesuai dengan sasaran hidupnya. Memang keanggotaan seseorang dalam kelompok suku bangsa sangat tergantung pada asal usulnya dan identitasnya yang kini tampak. Tapi orang dapat juga memanfaatkan ciri suku bangsa, ketika menemui kegagalan dalam tipologi kategorialnya (Barth,1980).

Berkenaan dengan batas-batas sosial, batas-batas sosial suku bangsa ditentukan oleh penilaian sosial yang dijadikan pedoman untuk menentukan sistem keanggotaan kelompok tersebut. Batas sosial suku bangsa akan berubah apabila dasar penilaian sosialnya juga berubah karena ia bersifat fluktuatif, tergantung dari tanggapan individu dan kelompok terhadap lingkungannya. Dasar-dasar penilaian sosial tergantung pula dari konteks sosial dan strategi pencapaian tujuan yang ingin didapatkan oleh si pelaku sehingga proses pembentukan identitas suku bangsa tidak lebih sebagai suatu proses perluasan atau pengecilan batas-batas suku bangsa yang dasar penilaiannya mereka buat sendiri (Horowitz,1975;118). Dengan demikian maka seseorang sebagai anggota kelompok dapat berafiliasi secara kolektif dengan identitas kelompok tertentu sesuai dengan keinginannya (Aparno Rao,1999;82). Perubahan batas-batas suku bangsa akan terjadipula ketika nilai-nilai yang dibagi bersama sesama anggota yang berfungsi sebagai pengikat anggota kelompok tersebut kabur karena telah direproduksi dalam setting sosial yang berbeda. Kaburnya batas-batas lokalitas tersebut menurut Irwan Abdullah disebabkan oleh tingkat mobilitas manusia yang semakin meluas dan intensif (Irwan Abdullah,1999), sehingga ia akan menyebabkan batas-batas kesukubangsapun lambat laun juga akan menjadi kabur dan berubah. Bagi Horowitz perubahan identitas suku bangsa terjadi lebih karena akibat dari modifikasi perilaku kelompok dan modifikasi untuk mempersempit atau memperlebar batas-batas suku bangsanya (Horowitz;1975;114). Didalam pandangan seperti ini memang yang terjadi bukanlah upaya untuk mengkorelasikan antara konsep kesukubangsaan dengan asimilasi dimana dipahami bahwa asimilasi akan sejajar dengan hilangnya kesukubangsaan seseorang karena melebur pada identitas kepada yang lebih dominan. Seperti apa telah yang diungkapkan oleh Bruner pada hasil penelitiannya di Bandung dan di Medan dimana ia menuliskan bahwa pengaruh dominan atau tidaknya suatu kebudayaan kelompok suku bangsa tetentu terhadap kelompok suku bangsa yang lain dipengaruhi oleh 3 komponen yaitu rasio populasi atau demografi sosial yang tidak hanya berfungsi sebagai fakta heterogenitas tetapi lebih kepada kondisi yang secara khusus memberikan konteks dominasi, mantapnya kebudayaan lokal setempat dan bagaimana sesungguhnya pengartikulasiannya, dan yang terakhir adalah adanya ruang bagi kekuasaan dan distribusinya diantara kelompok –kelompok suku bangsa yang lain(Bruner, …255). Identitas suku bangsa akan selalu muncul dalam bentuknya yang disusun oleh pendukungnya sendiri. Apabila dikaitkan dengan pandangan pluralisme budaya, maka identitas suku bangsa akan tetap selalu ada dan muncul karena sifatnya yang askriptif (Deddy Mulyana,2000). Barth lebih lanjut menjelaskannya dalam konteks batas-batas suku bangsa bahwa bisa saja masyarakat akan mengidentifikasikan dirinya kepada identitas yang lebih dominan jika ada dukungan dari kondisi sosial yang memungkinkan dan adanya pilihan yang berkesesuaian dengan tujuan yang ingin dicapainya namun lebih kepada bagaimana identitas suku bangsa diartikulasikan oleh para anggota kelompoknya.. Tidak terlepas pula dari konteks sosial yang meliputinya dimana menurutnya konteks sosial ini dibangun atas dasar suasana perkembangan politik yang terjadi didaerah tersebut (Aparno Rao,1999).

One thought on “Kajian Kesukubangsaan Dalam Antropologi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s