Belajar tentang kekerasan dari anak-anak “City of God”…


Sebenarnya sudah lama ingin nonton film ini. Rasanya keinginan itu muncul sudah sekisaran 3 atau 4 tahun lalu ketika film ini menjadi booming. Tapi entah bisa kesampaian sabtu kemarin. Aku tertarik karena berita awardnya yang didapat dari film ini. Berapa kali film ini untuk mendapatkan award. Aku kira hampir setiap koran atau majalah kritik film memuatnya sebagai salah satu film yang bermutu tahun itu. Bayanganku, pasti ini film yang bagus dan sarat dengan nuansa kedalaman yang tinggi. Ternyata lepas dari 4 tahun baru bisa aku saksikan dan nyatakan dalam pikiranku…….sungguh sayang. Dan memang film ini telah menginspirasi tentang makna dan dampak kekerasan yang dalam. Bahkan makna yang terdalam menurutku.

Cerita film ini dimulai ketika “Rocket” siwartawan muda, yang tumbuh di daerah kumuh “city of god” harus memilih antara lari menyelamatkan diri atau memegang ayam yang lari padanya karena memang Lil’Z (bos gang) menyuruhnya demikian. Sekilas kemudian film ini beranjak ke asal muasal dimana kehidupan gang di city of god bermula. Semua diawali oleh persahabatan 3 brandal yang suka bermain pistol dan merampok di city of god. Hingga akhirnya kekerasan yang dilakukan oleh mereka bertiga menular dan ditiru oleh anak-anak sekitarnya. Dan cerita kekerasanpun berlanjut sampai film ini berakhir.

Film ini memang film yang brutal. Betapa tidak kita bisa melihat bagaimana anak kecil yang seumuran SD mampu membawa pistol dan membunuhi orang-orang dewasa dengan enaknya dan tertawa-tawa girang. Mainan baru rupanya. Film ini sungguh brutal. Sensitivitas nalar kita diuji kebenarannya sesuai dengan tag name dibawahnya “Based on true story”. Gila apakah memang se-brutal itu orang-orang dibrazil…Tampak gambar meringis ketakutan seorang anak, yang mungkin seumuran anakku, menangis karena kakinya ditembak oleh seorang bos gang di city of god lantaran menganggu toko-toko yang menjadi area jajahannya. Memang benar, anak seumuran anakku telah mati tertembak mati disana. Alur film kemudian beralih ke perang antar gang yang melibatkan anak-anak menjadi prajuritnya. Tembak sana tembak sini bukanlah menjadi perkara yang sulit bagi anak-anak itu. Tinggal tarik pemicu pistol dan selesai masalah. Penyesalan dan rasa kasihan juga bisa dibangun, namun juga bisa dimatikan. Di dalam film ini kita bisa belajar bagaimana cara rasa welas asih atau penyesalan dimatikan dan berlanjut. Anak-anak tetap anak-anak. Mereka juga melihatnya dalam konteks mainan atau bermain. Jika permainan itu tidak menarik atau berganti menjadi permainan baru, sudah waktunya mereka berpindah. Dan kekerasan itu menjadi salah satu jalannya. Dan matilah pula para dewasa yang mengajarkan kekerasan itu ditangan anak-anak yang dulu dibinanya.

Belajar dari anak-anak city of god adalah belajar tentang kekerasan yang tumbuh dan disirami dalam anak-anak . Siapa bilang pistol beneran itu berbahaya jika itu memang mereka lihat sehari-hari bak mainan pistol-pistolan plastik made in china. Dan siapa bilan menembak orang sampai mati atau memukuli orang hingga berdarah-darah sampai mati pula adalah perbuatan melanggar hukum jika itu pula mereka lihat setiap harinya dari para dewasa. Jangankan hukum, apalagi kata Tuhan. Tumbuhnya kekerasan adalah buah dari pohon milik para dewasa. Bukan buah yang tumbuh dengan sendirinya. Ia tumbuh berkembang disirami dengan air mata dan darah dari orang-orang yang mati dan terluka. Memang sadis dan brutal. Tapi itulah kenyataan yang harus dituai oleh masyarakat sebuah peradaban jika mengabaikan anak-anak yang tumbuh dari benihnya. Seyogyanya kekerasan harus dimatikan dalam suatu peradaban. Kekerasan mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada masalah yang selesai karena sebuah kekerasan yang dibalas dengan kekerasan yang lain. Saya teringat atas tulisan seorang romo brazil yang menulis tentang spiral kekerasan. Romo Dom Helder Camaro (kalau nggak salah ingat namanya). Dalam bukunya ia mengatakan bahwa kekerasan bak spiral yang berputar dan tak akan berhenti. Kekerasan yang dijawab dengan kekerasan akan semakin mengentalkan putaran spiral itu dan akan semakin mengencangkannya. Dan lambat laun akan membuat dampaknya akan bertambah panjang dan semakin menggenaskan. Mungkin agama telah mengatakan itu. tapi sebaliknya anak-anak city of god telah menunjukkan realitas itu…

Mungkin juga minimum “damai” yang dikatakan oleh Johan Galtung bahwa “damai adalah suatu kondisi tanpa kekerasan” akan sulit juga kita penuhi. Jadi mari kita mulai sekarang jangan ajarkan atau tunjukan anak-anak kita tentang kekerasan sekecil apapun. Yakinlah suatu saat perbuatan itu akan berbuah bagi dirinya dan orang lain…

Catatan:

Kekerasan tidak hanya diartikan perbuatan menekan atau memaksa dengan menggunakan fisik dan secara mental (verbal dll) kepada orang lain, tetapi juga kekerasan yang dimaknai secara struktural dimana bagaimana suatu sistem (biasanya negara atau kelompok) melakukan pembiaran terhadap suatu kekerasan atau kondisi sebuah kelompok menuju kebinasaan.

4 thoughts on “Belajar tentang kekerasan dari anak-anak “City of God”…

  1. aqU jadi berTanya-TanYa,,,
    kenaPa juduL nya “ciTy of God” ya mas Adi ??

    and…….
    maY I borrow youR DVD ??

    heheH….
    agNiE

  2. Rationale-nya sederhana. Ketika seseorang mempunyai suatu kekuatan (dalam konteks ini diibaratkan dengan senjata), manusia akan berlaku sebagai layaknya seorang Tuhan. Menentukan mati hidup manusia lainnya. Coba bayangkan kalo kita pegang senapan, kita bisa menentukan mati hidup-nya orang itu hanya dengan menekan pelatuk kecil dan itu hanya memerlukan sedetik waktu.

  3. film ini kutonton atas rekomendasi om tijok…..
    kutonton sekali…. masih belum mengerti keistimewaan film ini….
    penasaran (kata om tijok film ini bagus), kutonton yang kedua kalinya….
    baru aku faham… keistimewaan film ini
    ini film yang memaparkan kekerasan dan kekuasaan yang memang menjadi segala-galanya…
    film yang cukup unik… yah yang pasti lebih menarik dibandingkan sinetron yang terus ditayangkan di tv….
    hehehehe….

  4. Anak-anak belajar dari apa yang diajarkan orang dewasa, maka harus berhati-hati dalam mengajarkannya. Berikan lah kasih sayang dan tuntunan yang tepat dalam hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s