SINOPSIS Actions, Variations, and Change: The Emerging Anti-Essentialist View in Anthropology By Andrew Vayda


Adi Prasetijo;

resensi buku lawas Andrew Vayda, tp masih perlu utk dibaca

Vayda mengatakan  bahwa sebenarnya munculnya pandangan bahwa pola dan “order” dalam studi antropologi terlalu dilebih-lebihkan dan sebaiknya variasi dan variabilitaslah yang seharusnya diteliti oleh para peneliti. Kemudian ia  menggunakan terminologi anti-esesensialist untuk menggambarkan  peneliti (Pelto & Pelto, Borosfsky, Fredrick Barth &Vayda sendiri) yang berusaha menghindarkan atau menghilangkan studinya dari orientasi pola dan menggantikannya dengan orientasi variasi dan proses bagaimana pengetahuan itu didapatkan, dipertahankan, dan ditransmisikan, yang kesemuanya itu bersifat kontekstual. Ia kemudian menggunakan terminologi essensialist untuk menggambarkan para peneliti(ernest & Pearl Beaglehole) yang melihat unsur pola sebagai orientasi penelitiannya, yang tentu saja berdasar pada keseragaman kultural dan bersifat struktural. Juga pada reaksi mereka yang lebih cenderung kepada data sebagai suatu yang sudah dijadikan pedoman dan cenderung stabil serta dianggap lebih, daripada data lain yang bersifat oposisi.

Kemudian, Pelto & Pelto melihat variasi sendiri sebagai suatu yang menjadi dasar yang penting, contohnya sebagai adaptasi pada lingkungan yang mikro atau pada konteks yang  tidak kekal, dan sebagai bahan baku untuk penyebaranluasan sosial/perubahan sosial. Pelto & Pelto lebih menekankan studinya pada bagaimana terjadinya variasi dari pada membuat tipe-tipe pola, sebagai obyek studinya. Dalam penelitiannya, kaum anti esensialist dipandu dengan pertanyaan tentang perilaku aktual dan konsekuensinya daripada mempertanyakan pertanyaan tentang pola kebudayaan.Ada pandangan lain yang melihat bahwa variasi, sebagai tindakan yang berdasarkan situasi personal (Wilson).

Vayda mengkritik para esensialist, lebih kepada pentipologian dan kultur sebagai norma sebagai tujuan mengapa orang di Papua Newguinea berkelahi/berjuang. Dengan data-data yang didapatkannya, ia melihat bahwa tidak semua orang Maring berjuang berdasarkan pada alasan yang sama, yaitu demi tanah. Ternyata menurut Vayda variasi ditemukan diantara motivasi berjuang itu; demi tanah dan kehormatan. Golton juga memberikan kontribusinya dalam penelitiannya di Zambia. Yaitu bahwa dalam masing-masing dekade yang ada di Gwembe sangatlah berbeda resiko dan kemungkinannya. Karena itu masyarakat lalu bereksperimen dengan tantangan yang berbeda, kemudian mereka memikir ulang dan merubah tujuan mereka. Disini terlihat bahwa nilai dapat dianggap sebagai dasar petunjuk khusus bagi masyarakat ketika berhubungan dengan masyarakat lainnya dan dengan lingkungan mereka yang menjadi situasional dan dihubungkan waktu.

Barth melihat bahwa prosesi ritual tidak dapat direproduksi terus-menerus dengan secara sempurna, modifikasi terjadi dimana tergantung pada faktor memori dari para ahlinya dan sumber daya mereka untuk berimproviasi. Dari Barth dapat diambil kesimpulan bahwa modifikasi dapat menghasilkan variasi.  Kemudian Vayda menjelaskan variasi dalam mode kontekstual, yang melihat kontektualisasi tindakan atau konsekuensi dengan melakukan penjelajahan urutan pengaruh yang berdasarkan ruang yang ada diluar dan waktu yang ada sebelumnya. Untuk mendukung penjelasan dari tindakan dalam kasus tertentu, sebaiknya didukung oleh  hubungan yang dibangun dalam tindakan yang tertentu pula, alasan tertentu, dan konteks tertentu dimana mereka berada.

Kemudian dalam penelitian Etnografi Pukapukannya, Borofsky melihat bahwa   keaneragaman/diversity dibangun tidak hanya dibangun dalam tataran ide tentang bagaimana untuk menampilkannya, misalnya dalam aktivitas tetapi juga menggunkan pengetahuan mereka digunakan untuk mengorganisasikan masyarakat dan mengalokasikan sumber dayanya. Oleh Borosfsy, variasi dapat dijelaskan dalam proses bagaimana pengetahuan diperoleh, dipertahankan, dan ditransmisikan.

Jadi sebenarnya, dalam anti-esensialist pola tidak lagi dilihat sebagai suatu hal mutlak ada dalam kultur, bahkan dianggap tidak ada lagi. Nilai-nilai yang dibagi rata kepada semua anggota dianggap sebagai pembatas pada peran individu. Kemudian nilai-nilai itu tidak memberikan kesempatan untuk invidu beroposisi. Nilai-nilai yang dibagirata ini, juga dipertanyakan karena tidak ada nilai-nilai yang benar-benar sama dipeedomanni,  haruslah sesuai dengan konteks waktu  dan situasional yang ada. Anti-esensialis lebih cenderung untuk menggunakan istilah pengetahuan daripada nilai. Kemudian menjadi penting untuk mengtahui darimana dan proses seperti apakah pengetahuan itu didapat oleh individu.  Lalu bagaimana individu tersebut mempertahankannya, karena ia berhadapan dengan permasalahan yang aktual dan haruslah sesuai dengan tujuan/kepentingannya. Lebih lanjut, bagaimanaka pengetahuan tersebut ditransmisikan kepada individu lain atau direpresentasikan dalam aktivitas.

One thought on “SINOPSIS Actions, Variations, and Change: The Emerging Anti-Essentialist View in Anthropology By Andrew Vayda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s