Douglas, Mary “The Abomination of Leviticus “, dalam Reader in (‘omparative Religion: an Anthropological Approach, (William A Lessa and E. Vogt), New York: Harper & Row, 1979


resensi..

Adi Prasetijo

Artikel ini sebenarnya ingin mencoba untuk menjelaskan dan menggambarkan bahwa upacara yang sifatnya suci dan tidak suci adalah menciptakan suatu kesatuan yang tunggal dan tidak dapat dipisahkan. Taboo (pantangan) secara umum dapat diartikan sebagai suatu  interpretasi akan ketidakbersihan (kotor) danpenghindaran terhadap pelanggaran yang merusak keharmonisan hubungannya dengan alam, apabila terjadi pelanggaran maka sangsinya ada di dunia, misalnya penyakit, gempa bumi dsb.

Orang yang sedang dilingkupi pantangan (taboo), dinyatakan bahwa dirinya  akan selalu dalam keadaan bahaya dan ia akan diikuti oleh larangan-larangan tertentu untuk menjaga keadaan bahaya tersebut agar sesuatu yang lebih berbahaya  tidak terjadi, misalnya seorang laki-laki akan dinyatakan dalam keadaan bahaya bila istrinya sedang hamil tua, dan ia (laki-laki tersebut) dilarang untuk melakukan perbuatan tertentu yang dapat berakibat pada kehamilan istrinya, seperti tidak boleh membunuh binatang, tidak boleh berburu dsb.

Dalam kepercayaan, (Frazer) perbedaan antara sakral dan ketidak bersihan menurut masyarakat sederhana tidak dibedakan, misalnya pada masyarakat Syria, babi adalah haram, keharaman ini disebabkan karena babi adalah tidak bersih sedangkan lainnya beranggapan bahwa babi ini suci sehingga diharamkan. Begitu juga dengan taboo yang tidak membedakan antara kekudusan dan pencemaran.

Dalam melegitimasi suatu tindakan atau tingkah laku politik para penganut suatu agama akan menggunakan kekuatan supranatural yang muncul melalui  simbol-simbol yang dimunculkan oleh kelompoknya atau dengan kata-kata (doa) yang diucapkannya. Sama halnya dengan aturan ideal masyarakat yang menjaga dan bahaya yang mengancam para pendosanya. Kepercayaan terhadap bahaya ini lebih mengancam dimana seseorang menggunakan kekuatan lain sebagai bahaya yang dirinya sendiri takut.

Dalam artikel ini dijelaskan juga bahwa suatu kenyataan sosial, aturan moral dikaitkan dengan hukum alam atau sebaliknya. Adanya penyakit lebih disebabkan karena adanya kedewasaan atau perkawinan, pada tahap kedewasaan atau penkawinan maka akan ada suatu penyakit. Begitu juga dengan perubahan gejala alam yang dikaitkan dengan ketidak loyalan dalam politik. Nilai moral dipegang dan aturan sosial didefinisikan oleh kepercayaan pada marabahaya. Perwujudannya merupakan analogi, seperti kepercayaan bahwa setiap jenis kelamin dianggap bahaya kalau mereka saling berhubungan kelamin. Biasanya hanya satu jenis kelamin yang dianggap bahaya dalam berhubungan dengan lainnya, dan biasanya adalah laki-laki dibandingkan dengan perempuan.

Ide-ide tentang bahaya hubungan sex diinterpretasikan sebagai simbol-simbol hubungan antara bagian-bagian masyarakat sebagai disain pada penerapan sistem yang lebih besar. Apakah pencemaran sex juga dapat mencemarkan seluruh badan. Apakah pencemaran pada bagian-bagian masyarakat dapat berakibat pencemaran pada masyarakat. Duajenis kelamin menggambarkan tentang hubungan-hubungan dan perbedaan dan unit-unit sosial.

Ide-ide tentang pencemanan (pollution) penting dalam setiap agama, karena dalam agama, yang diperlukan adalah kebersihan yang mutlak; ritus adalab suatu proses purification (pensucian). Di dalam taboo ada pelarangan berat dan ada yang ningan, berat dalam arti tidak bisa dibersihkan lagi kanena tetah menyebar dalam aliran darah, misalnya makan hewan yang dipantangkan (babi untuk orang Islam dan Yahudi). Sedangkan pelanggaran lainnya dapat dibersmhkan atau disucikan kembali, seperti berzina, mabuk dsb. Pollution begitu penting dalam agama karena selalu terkait dengan mitos dalam sistem kiasifikasi kosmos.

Dalam kebudayaan, nilai-nilai dan ide-ide yang berkaitan dengan pola-pola positif digolongkan sebagai aturan yang tergolong bersih. Ada hal-hal yang tergolong mudah dibersihkan dan hal-hal yang kotor dan ada juga hal-hal yang bersifat keduanya dan ini dihindari. Sesuatu hal mempunyai kedua sifat tersebut dikatakan sebagai ambiguity (kesarnaran) atau anomali. Ciri-ciri dan hal-hal yang anomali tersebut antara lain:

1.   Mempunyai interpretasi yang berbeda-beda dalam perwujudannya dalam tingkat indvidu, ada yang menggolongkan sebagai kotor dan ada juga yang menggolongkan sebagai bersih jadi bersifat makruh.

2.   Keberadaan anomali dapat diatur secara pisik. Misalnya bayi lahir kembar, maka hams dipisah secara pisik keduanya.

3.   Dicoba untuk dihindari dan dikelompokkan sebagai hat yang tidak disukai.

4.   Peristiwa anomali dikategorikan sebagai suatu hal yang bahaya. Individu kadang-kadang merasa sedih dan bersalah bila dia dalam keadaan anomali.

5. Simbol-simbol ambigu dapat digunakan dalam ritual untuk akhir yang sama sebagaimana mereka memasukkannya sebagai puisi dan mitos, memberikan perhatian kepada warga masyarakat.

Pantangan atau taboo pada masyarakat primitiflebih diberikan penekanan yang besar dan akan menyebar luas pada pranata-pranata sosial lainnya.Pantangan ini bisa berarti juga pengharaman terhadap jenis-jenis makanan tertentu (hewan), dan dikaitkan dengan sifat dan hewan tersebut yang pada dasarnya di ciptakan dalam alam (udara, tanah dan air). Hewan udara hidup diudara dengan dua kaki dan dua sayap, jika ada hewan berkaki empat dapat terbang maka hewan tersebut dianggap tidak bersih. Hewan air, ia bersirip untuk berenang, sedangkan hewan darat bergerak dengan empat kakinya untuk berjalan. Hewan yang memiliki dua kaki dan dua tangan namun ia berjalan dengan keempat tungkainya dipandang tidak bersih karena tidak sempurna, seperti kadal, tikus, buaya dan bunglon. Hewan dianggap tidak bersib bila ia merayap, merangkak atau bergerak secara berombongan di atas tanah atau di air.

Hewan-hewan yang mempunyai ciri ketiga jenis alam tersebut merupakan hewan yang kotor yang diharamkan. Pada agama Yahudi, hewan darat yang bisa dimakan adalah hewan yang berkuku genap, jadi bila berburu, kijang memenuhi syarat untuk ini, sedangkan unta dan babi tidak termasuk. Babi merupakan binatang yang tidak berkuku ganda dan selain itu orang Yahudi tidak terbiasa untuk memelihara babi, sehingga tidak tahu pola hidup babi sebenarnya.

Kesucian merupakan atribut ke -Tuhanan yang arti pada awalnya adalah terpisah. Karya Tuhan melalui berkat yang diberikan-Nya pada dasarnya adalah untuk menciptakan keteraturan, sehingga manusia dapat hidup sejahtera dan hal ini dijanjikan jika manusia mampu menjaga penjanjian dengan Tuhan dan mematuhi peraturan-peraturannya dan upacara-upacaranya. Jika tidak maka bencana akan menimpanya. Upacara pada masyarakat pnimtif ada dasarnya adalah untuk menjaga kesucian Tuhan dalam kehidupan manusia yang berawal dan keterpisahan.

Hal ini mempengaruhi pola makan dan pengharaman pada jenis-jenis hewan tertentu. Untuk menjadikan din manusia bersih seperti sifat Tuhan maka manusia dilarang untuk memakan jenis hewan tertentu hewan yang dipandang tidak sempurna. Kesempurnaan fisik dapat terlihat pada kamp-kamp tentara, dimana kalau mau buang air harus keluar rumah. Juga pemurnian keturunan ternak. Persilangan juga mengakibatkan kebingungan (ambiguity) sehingga dilarang.

One thought on “Douglas, Mary “The Abomination of Leviticus “, dalam Reader in (‘omparative Religion: an Anthropological Approach, (William A Lessa and E. Vogt), New York: Harper & Row, 1979

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s