Rethinking Ethnicity, Argumens and Explorations: Richard Jenkins Sage Publications, London, 1997.


Resensi:

adi prasetijo

Barth menekankan bahwa identitas etnik adalah dihasilkan, dikonfirmasikan atau ditranformaikan di dalam bagian/corak (course) interaksi dan transaksi antara pengambilan keputusan, dan strategi individu. Etnisitas dalam Barth  menjadi bahan politik, pengambil keputusan, dan orientasi tujuan (jenkin, 12).

  • Etnik/suku bangsa adalah tentang perbedaan kultural – meskipun , menulangi pertanyaan tema utama dari identitas sosial, identitas adalah selalu merupakan dialektika antara kesamaan & perbedaan
  • Etnisitas  adalah dipusatkan pada perhatian dengan kebudayaan – makna yang dibagi bersama (shared meaning)- tetapi ini juga berakar di dalam, dan pada suatu kepentingan yang luas ttg hasil dari interaksi sosial
  • Etnisitas tidak lagi mapan atau tak berubah daripada kebudayaan dari dimana ini merupakan sebuah komponen atau situasi dimana ini diproduksi dan direproduksi
  • Etnisitas sebagai sebuah identitas sosial adalah kolektif/kumpulan dan individual, dieksternalisasikan di dalam interaksi sosial dan diinternalisasikan dalam identifikasi diri personal (Jenkins, 13-14).

internal atau identifikasi diri-baik yg dimiliki individu / kelompok-adalah bagaimanpun juga, tidak hanya mekanisme dari formasi identitas etnik. Orang-orang adfalah tidak selalu dlm posisi utk memilih siap mereka atau apa   arti identitas mereka dlm term konsekuensi sosial. Perbedaab kekuatan adalah penting disini.(jenkins, 47).

Barth menekan bahwa Identitas etnik, diproduksi dan direproduksi dlm intertaksi sosial yg rutin, haruslah dibicarakan sebagai bagian problematik realitas sosial yg penting, prperti darurat yg ada dlm tiap hari. Etnografer harus menuji praktek dan proses, baik etnisitas dan batas etnik yg secara sosial dikontruksikan. Nah, starting poinnya adalah pengaktegorian yg sifatnya askripsi & identifikasi oleh mereka sendiri (Jenkins, 18).

Berdasrkan Barth, Analisis etnisitas dimulai dari definisi situasi  dipegang/disimpan oleh aktor sosial. Yg kedua adalah fokus pd  perhatian lalu menjadi pemeliharaan dari batas etnik: interaksi yg terstruktur amntara kita dan mereka dimana mengambil tempat melewati batas etnik. Yg ketiga identitas etnik tergantung dr askripsi, antara kewduanya oleh anggota dari kelompok etnik dlm pertanyaan & oleh orang luar. Yg keempat etnisitas tidak baku/tetap, ini didefinisikan secara situasional. Kelima isu ekologi adalah khusus berpengaruh dlm mendeterminan idntitas etnik, sebab sebagai kompetisi utk ruang ekonomi bermain sebagai aturan penting dlm generasi etnisutas (Jenkins, 19).

  • Etnisitas menekankan pada perbedaan kultural(meslipun identitas adalah proses dialektika antara persamaan & perbedaan)
  • Etnisitas adalah kultural-berdasarkan makna yg dibagi bersama- tetapi ini diproduksi dan direproduksi dlm interaksi sosial
  • Etnisitas adalah merupakan variabel luas dan bersifat manipulatif, bersifat tidak tetap &7 tak berubah
  • Etnisitas sebgai identitas sosial adalah keseluruhan antara kolektif & individual, dieksternalisaikan & diinternalisasikan (jenkin, 40).

Jika etnisitas adalah transaksional, maka transaksi berdasarkan 2 macam dasar:

    1. proses definisi internal: aktor menandakan berada di dlm atau di luar kelompok anggota definisi diri atau keadaan atau identitas. Ini dpt disebut sbg egosentris, baik proses individual/kelompok,
    1. definisi eksternal, terjadi  dlm interaksi aktif sosial. Kedua kapasitas campur tangan sukses dlm hidup orang lain baik kekuatan atau kekuasaan.

Kelompok/group adalah  kesadaran diri secara kolektif, yg berakar dlm proses definisi internal, ketika kategorisasi eksternal didefinisikan.  (jenkins,53-54)

Dari beberapa contoh diatas, sebenarnya nampak penggunaan identitas etnik oleh orang Pathun selain tergantung dari kesempatan yang ada untuk menonjolkannya, juga mampukah identitas itu menanggapi dengan baik hambatan-hambatan yang ditemuinya. Apabila tidak berhasil, maka ia akan memakai identitas yang lain atau menggunakan kriteria lain menentukan identitas etnik itu. Seperti kasus asimilasi orang Pathun pada suku Baluch, Kohistan, atau berpindahnya identitas mereka pada kebudayaan Persia di Kabul sebab mereka tidak punya kesempatan untuk menonjolkannya. Tetapi ketika identitas etnik itu dinilai mampu menanggapi hambatan-hambatan yang ditemui dan mereka mempunyai kesempatan untuk menonjolkan, identitas etnik tersebut akan dipertahankan dan dikukuhkan secara terus-menerus. Yang kadang membuat suku-suku lain berasimilasi dengan mereka. Atau terjadi pembedaan batas etnik yang tegas dengan etnik lain yang dinilai pesaing.

Dalam karangan ini, Barth ingin menunjukkan bahwa dalam menilai suatu etnik tertentu, orang Pathun, kelompok etnik tersebut dan orang lain yang berhubungan dengannya mempunyai kriteria sendiri. Kriteria itu dibentuk oleh ciri-ciri etnik yang diperlihatkan oleh orang Pathun, baik berupa gejala yang nampak maupun dalam nilai-nilai pedoman. Serangkaian ciri-ciri itu membentuk suatu identitas etnik mereka. Identitas etnik menjadi perlu untuk dipertahankan sebab dalam berinteraksi manusia membutuhkannya untuk mengetahui posisinya yang sebenarnya. Orang Pathun akan mempertahankan identitas etnik mereka jika identitas etnik itu berhasil dinampakkan dan penggunaannya dianggap mampu menanggapi hambatan-hambatan yang dihadapinya. Namun  kalau mereka mengalami kesulitan untuk menonjolkan, mereka akan meninggalkan dan memilih identitas lain. Atau jika identitas etnik itu sudah tidak dianggap tidak mampu merespon hambatan-hambatan yang dihadapinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s