Antara Superhero, Win, dan WASP


Apa sih hubungannya antara patriotisme dan kebudayaan ?

Hubungan itu baru saja saya temukan ditulisannya Samuel Huntington, “Who Are We”.  Bukunya sudah lama sih, 2004, tapi baru kebaca beberapa hari ini. Penjelasan-penjelasan yang ada dalam buku ini seperti  menyambungkan serpihan kenyataan yang kita lihat tentang Amerika dan masyarakatnya. 

Semua ini berawal dari rasa penasaranku tentang fenomena ” superhero” dalam masyarakat amerika. Sebagai penggemar film-film action Hollywood, yang namanya superhero atau hero selalu menjadi pahlawan dalam setiap semua kesulitan. Entah bagaimanapun sulitnya kondisi yang dihadapi masyarakatnya atau begitu gelapnya sehingga seakan tidak mungkin terselesaikan masalahnya, namun dengan superhero, semua masalah seperti bisa teratasi oada detik-detik akhir. Konteksnya saja yang berbeda-beda. Kadang tentang masalah olahraga. Sudah diramalkan kalah, tanpa punya keunggulan sedikitpun tapi bisa menang. Atau misalnya seorang superhero yang secara fisik kelelahan namun bisa menang akhirnya. Muncul sebuah idiom bahwa “lakone kalah dhisik, menang’e keri”. Yang namanya lakon pasti kalah dulu, baru kemudian menang diakhir.

Selain itu aku juga penasaran kenapa ya film Amerika sangat sering menggambarkan  sesorang sebagai “a losser” yang selalu dihina-hina oleh temannya. Entah karena mukanya atau sikap life stylenya yang tidak sesuai norma keumuman. Misalnya orang-orang gemuk di Amerika. Jamak banget mereka dinilai sebagai a losser, atau yang kalah. Padahal tidak apa-apa khan menjadi gemuk. Atau orang yang kesannya kutu buku dan tidak bergaul, seperti dijauhi oleh teman-temannya. Kemudian suatu saat orang yang dianggap losser itu menjadi penyelemat bagi teman-temannya, menjadi superhero.

Kalau ditelisik kembali,  personifikasi tentang superhero adaah gambaran masyarakat amerika tentang sosok superhero dalam hidupnya. Ada beberapa ciri yang menjadi gambarannya, misalnya adalah sosok yang tidak mudah menyerah atau kalah, – selalu berjuang terus sampai akhir, meskipun kadang situasi yang dihadapi adalah sesuatu yang sangat mustahil untuk diselesaikan.  Kemudian juga kadang sosok superhero muncul dari sosok yang tidak diperkirakan sebelumnya. Dari sosok yang penjahat ternyata kemudian menjadi seorang pahlawan atau seorang yang secara fisik cacat tapi menjadi seorang penolong yang kuat. Fenomena ini kemudian menjadi menguat setelah peristiwa 9/11. Amerika sepertinya membutuhkan sosok pahlawan penakluk kejahatan yang nyata. Gambaran patriotisme Amerika memang sangat nampak dalam penggambaran superhero itu.

Saya mencoba menghubungkan fenomena superhero tersebut dengan penjelasan-penjelasan yang dibuat oleh Hungtinton tentang identitas Amerika. Hungtinton menyebut identitas amerika adalah identitas yang dibangun dari semangat migran yang kental dengan semangat persaingan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kebudayaan Amerika dibangun dari kebudayaan White Anglo Saxon.  Kebudayaan white Anglo saxon adalah kebudayaan kulit putih yang berasal dari tradisi eropa, yang kental dengan nilai-nilai protestan. Gelombang migrasi bangsa eropa ke amerika menurut Hungtinton membentuk karakter kebudayaan bangsa amerika, sebagai bangsa yang memuja pada produktivitas kerja yang tinggi. Ibaratnya sebagai anggota masyarakat akan lebih dihargai apabila dia memberikan hasil yang maksimal terhadap komunitinya. Karakter ini dibangun atas dasar persaingan atau kompetisi antar bangsa yang ada di amerika ketika awalnya tiba dibenua amerika. Kemudian juga semangat ekspansif yang kuat menimbulkan daya dorong kepada penghargaan kepada nilai-nilai perjuangan atau kemenangan yang diraih dengan segenap kerja keras. Ini berbeda dengan kebudayaan white anglo saxon yang ada di eropa sendiri dimana mereka menitikan kepada tradisi kebangsawanannya.

Gambaran tentang superhero atau sebagai pemenang menurut saya sedikit banyak lahir dari kebudayaan WASP – White Anglo Saxon Protestan ini. Pemahaman akan sosok superhero yang selalu menang, anto kalah, dan kebudayaan menang memberikan akar pada nasionalisme serta patriotisme amerika. Apapun yang terjadi, sebagai bangsa amerika harus menang melawan musuhnya, kita tidak boleh kalah, harus berjuang sampai detik terakhir. Semangat ini semakin menjulang ketika peristiwa 9/11. Amerika seperti menemukan titik nasionalismenya secara bersama-sama. Ada beberapa konsekuen dari pemahaman kebudayaan para pemenang ini.

(1) Misalnya bagaimana dengan orang-orang yang dianggap kalah atau marjinal. Dengan selalu menitikberatkan kepada kemenangan pasti ada pihak yang kalah. Tidak ada semuanya yang akan menang terus dan selalu menang. Puncaknya bagaimana kemudian dengan nasib yang kalah ? apakah mereka masih mendapatkan tempat di masyarakat ? saya jadi teringat film SICKO-nya Michael Moore. Begitu bagus dia menggambarkan bagaimana rumah sakit di amerika membuang pasiennya yang tidak bisa membayar gara-gara tidak terdaftar dalam asuransi kesehatan. Sepertinya WASP dan kapitalisme berkawan erat.

(2) Yang kedua kemudian untuk menang, orang selalu membutuhkan kompetitor. Semua kawan dilihat sebagai kompetitor. Harus ada yang menang dan kalah. Tidak ada ceritanya sama-sama menang atau sama-sama kalah. Yang ada menang dan kalah. Jadi memang amerika selalu membutuhkan lawan. We need others to define Who are we .  Hungtinton menjelaskan bahwa dulu amerika membutuhkan Inggris dan perancis sebagai musuhnya, kemudian jerman dan jepang dalam WW II, lalu USSR Soyvet dan negara-negara komunis, dan sempat Korea Utara – Iran – pokoknya negara-negara garis setan kalau Bush menyebutnya demikian, terus para teroris-teroris mulai dari Osama hingga Taliban. Pada dasarnya amerika membutuhkan musuh untuk memperkuat identitasnya. Tanpa lawan identitas diri amerika sebagai bangsa tidaklah menjadi kuat. Dan lawan ini selalu dibangun dari masa ke masa.

(3) yang berikutnya adalah siapa orang amerika itu menurut orang amerika sendiri. Simple-nya begini. Dulu identitas amerika dibangun atas dasar kebudayaan WASP dimana mayoritas berasal dari ras kulit putih. Beberapa dekade ini, ada perubahan mendasar dari orang-orang imigran. Hungtinton menyebutkan bahwa mayoritas imigran baru bukanlah datang dari eropa tapi dari Asia dan Amerika Latin. Asia dan Hispanik. Jelas perubahan ini membawa dampak komposisi ras dan politik terhadap kebudayaan amerika sendiri. Jika dulu keanekaragaman agama bukanlah menjadi permasalahan yang krusial, kini variasi agama mulai menjadi tantangan yang cukup signifikan bagi kebudayaan amerika. Mengapa demikian? WASP dibangun atas dasar nilai-nilai prostestan yang kuat. Kemudian dengan bangsa-bangsa lain yang dasar agamanya buka prostestan  ? masihkah dapat tempat mereka ? jawabanya memang masih. Dengan sistem demokrasi yang liberal dan terbuka semua itu dijaga. Namun secara kebudayaan, untuk dapat mendapatkan peran yang menonjol dalam masyarakat amerika, seseorang haruslah masuk atau mengadopsi kebudayaan WASP dalam dirinya. Kebudayaan WASP dapat dikatakan adalah kebudayaan dominan yang ada dalam kebudayaan amerika. Jadinya jika ada kebudayaan yang diidentifikasikan sebagai musuh atau lawan dari WASP maka sepertinya kebudayaan itu sebagai kebudayaan musuh negara. Ya contoh kongkritnya kebudayaan yang berbau Islam. Semua yang berbau Islam selalu disalahartikan dan diinterpretasikan sebagai sesuatu yang berlawanan.

Jadi lalu apa gunanya diskusi diatas dengan hubungannya antara patriotisme dan kebudayaan.  Titik sambungnya menurut saya adalah bagaimana sesungguhnya patriotisme dan nasionalisme amerika dibangun dari konstruksi identitas kebudayaan amerika yang berintikan WASP.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s