Memberi


Memberi. Gw kemarin sempat tercenung memikirkan makna kata memberi dalam hidup gw. Nggak tahu gw sempat terpikirkan kata-kata nasehat adik gw. Dia berkata begini, ” Memberi itu nggak akan membikin kita jadi semakin miskin tapi akan semakin membuat kita semakin kaya”. ” Dengan memberi nggak bakalan membuat kita tambah miskin”. Waktu itu gw tau apa maksudnya. Memberi ya memberi berarti mengurangi sesuatu dari diri kita. Misalnya, kita punya duit sepuluh ribu terus kita kasih ke pengemis jalanan dua ribu berarti uang kita akan berkurang jadi delapan ribu. Nambah kayanya dari mana coba ?. Gw pikir memang ada-ada aja pikiran adik gw itu. Pokoknya mana bisalah memberi menjadi bertambah dikita. Hil yang mustahal !! itu katanya Asmuni almarhum. 

Namun nggak tahu juga. Beberapa hari yang lalu sewaktu gw naik motor sendirian, gw pikir-pikir ternyata kok ada benarnya omongan adik gw itu ya. Gw sepertinya merasakan sesuatu kelegaan yg bagaimana gitu ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain. Memang kalau kita berpikir tentang memberi konotasinya selalu ke materi (uang atau barang). Padahal memberi tidaklah mesti berupa barang atau materi. Bisa saja kita memberi perhatian, bantuan, waktu kita untuk orang lain. Logikanya dengan memberi sesuatu kita akan mengurangi sesuatu juga yang ada didiri kita juga. Kalo kita memberi orang lain waktu kita ya berkurangnya waktu kita sendiri demi orang itu. Atau kalau kita memberikan perhatian atau tenaga kita untuk orang lain maka berkurangnya waktu, tenaga, dan pikiran kita demi orang itu. kadang-kadang kita berpikir ngapain kita capek-capek mikir orang lain, masalah kita sendiri aja sdh susah utk diselesaikan.

Namun setelah lama gw pikirkan kadang kita memberi bukan semata-mata demi untuk orang lain tapi kadang memberi dalam konteks ini adalah untuk kepentingan diri kita sendiri. Ada yang memberi orang lain karena ingin dianggap sebagai orang yang mampu atau lebih sehingga perlu baginya untuk membuktikan dia lebih dari orang lain. Ada juga orang yang memberi karena merasa terpaksa sebab keadaan atau bagaimana sehingga pemberiannya nggak bersifat atas dasar sukarela. Atau juga seseorang memberi karena ingin merasa kasihan terhadap orang yang akan dikasih dan merasa perlu membantunya. Meskipun begitu  ketika kita memberi karena kita merasa orang lain tersebut membutuhkannya pada dasarnya kita memberi ketika itu juga bertujuan untuk kita juga. Misalnya begini kita memberi sesuatu kepada seorang pengemis jalanan yang kita kasihani. Mungkin orang itu sedemikianrupa penampilannua sehingga sangat memelas membuat kita merasa kasihan dan tidak tenang kalo kita tidak membantu atau memberi kepadanya. Dan setelah kita memberi sesuatu kepadanya kita kemudian merasa lega karena kita telah berbuat sesuatu kepadanya dan berharap pemberian itu akan menolong dirinya. Jadi dalam konteks ini kita memberi karena kita nggak tenang melihat sesuatu yang menurut kita nggak cocok atau sesuai dengan pemikiran kita. Setelah kita memberi kita kemudian menjadi tenang karena kita telah melakukan sesuatu. Atau misalnya kalo dalam agama, kita memberi sesuatu karena kita mengharapkan pahala dari Tuhan. Mengharapkan pahala dari Tuhan adalah sesuatu yang sifatnya internal. Dalam artian mau dilihat atau orang ya nggak peduli yang penting. Yang penting gw berbuat begini terserah orang mau lihat atau kagak. Gw jadi teringat sebuah buku yang ditulis Marcell Mauss tentang pemberian atau “gift. Buku lama sih di antropologi tapi kalo gw ingat2 buku itu rasanya cocok banget. Dalam buku itu, Mauss menceritakan bahwa tidak pemberian yang bener-bener free atau gratis even pemberian itu tanpa imbalan sekalipun. Ia memberikan beberapa contoh dalam masyarakat tribal bahwa politik balas jasa atau budi selalu ada, bentuk balas jasanya akan selalu berbeda. Kalo awalnya memberi barang, mungkin nanti dalam balas jasanya bisa berupa sesuatu yg lain. Dalam tingkatan yang personal, politik balas jasa dalam bentuk yang minimal akan terwujud rasa kelegaan atau kepuasaan.

Nah dalam beberapa konteks cerita diatas,  gw akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya dengan memberi kita itu menambah sesuatu dalam diri kita. Dalam konteks memberikan sesuatu tanpa prasyrat kepada orang lain, sesungguhnya keuntungan yang kita dapat bukanlah datang dr orang lain tp datang dari kita untuk kita sendiri.  Bila kita menentukan suatu prasyarat tertentu artinya pemberian kita tidaklah bersifat pemberian tapi proses jual beli atau tukar tambah menurut gw, meskipun bentuk jual belinya adalah bukanlah uang atau barang. Dengan memberikan sesuatu kepada orang lain secara iklhas, gw yakin akan memperkaya kita. At least secara bathin akan membuat hati kita akan semakin terasah atau terbuka melihat  suatu peristiwa, kejadian, atau sesuatu yang nggak cocok dengan hati nurani kita. Gw yakin kalo kita tidak ngapain2 maka semakin lama semakin tertutup hati kita dan beballah hati kita dengan hati nurani kita sendiri. Rasa kasihan kita makin lama makin akan ilang kalo nggak kita asah. Dengan memberi kita bisa menjaga hati nurani kita tetep “worm” dan dalam waktu yang sama kita memperkaya hati kita dengan begitu banyak kebaikan. Atau at least minimal tambahlah pahala kita dihadapan Tuhan. Jadi jangan takut untuk memberi. Pasti ada manfaatnya untuk kita.

One thought on “Memberi

  1. bener bangeeeettttt mas adiiiiii……..I feel the same,,,cuman emang kadang saking sibuk dengan diri sendiri,,,suka lupa memberi…dasar manusia…..

    btw,,,,bagus deH tulisannya….
    ^o^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s