Pinjam meminjam budaya itu biasa bung..


Klaim tari pendet, klaim batik, wayang, dan lain-lain, jadi membuat saya berpikir tentang batasan budaya suatu bangsa.  Apa bener proses klaim mengklaim seperti ini juga baru terjadi sekarang-sekarang saja ?, Jadi berpikir kemudian apa sih yg namanya identitas budaya, kemudian apa batas identitasnya dan dimana sih  batasnya..

Jadi teringat kemudian beberapa bulan yang lalu  ketika  disibukkan dengan tugas kerja  yang cukup menyita waktu tentang mereview,  apa yang disebut dengan pembangunan kebudayaan nasional. Nah lo..salah satu item yang menjadi bahan review adalah tentang yang namanya globalisasi.  Singkatnya menyitir kalimatnya Thomas Friedman, dia  menyebutnya sebagai proses pendataraan dunia yang jadi bulat karena memang batas-batas geografis dan teritorial sudah tidak ada lagi. Ibaratnya the world is flat, no limits, no boundaries. Apa yang terjadi dibelahan dunia sana, pasti akan mempengaruhi belahan dunia sebelah sini.  Apa yang dipakai oleh belahan sini nih, dalam hitungan singkat pasti juga akan ke belahan dunia sono. Identitas kemudian menjadi secair-cairnya. Yang namanya pinjam-meminjam (saya menggunakan istilah pinjam – bukan klaim lho ya) simbol budaya suatu budaya komunitas tertentu jadi tidak ada batasnya. Yang namanya teknologi dan komunikasi membuat batas-batas itu tidak ada. Seeett…muncul diyoutube atau internet, besoknya sdh menjadi trend di India misalnya. Dan proses pinjam-meminjam simbol budaya ini menurut saya sudah berlangsung  jauh sebelum istilah globalisasi diperkenalkan. Bukannya juga misalnya kebudayaan jawa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan India & Budha ? atau kebudayaan Islam Indonesia juga dipengaruh oleh kebudayaan Islam Timur Tengah.  Atau spagetti yg menjadi salah satu ikon makanan Italia – juga asalnya dr Cina ( tanya Marcopolo mengapa ?). Jadi sulit memang untuk mengatakan suatu kebudayaan komunitas dikatakan benar-benar asli, pasti ada pengaruh dari kebudayaan luar. Proses pinjam meminjam simbol budaya, bisa berupa bahasa, struktur sosial, artefak, dll, terjadi. Demikian pula dengan klaim, akan susah untuk menentukan klaim siapa yang paling asli & paling heritage. Zaman dulu tidak ada HAKI bung. India juga nggak protes, ketika kebudayaan Jawa menggunakan simbol-simbol India dalam kebudayaan Jawa dan kemudian diklaim sebagai kebudayaan asli Jawa.

Terus bagaimana pengaruhnya  terhadap identitas bangsa kita ?. Identitas dibangun atas dasar konsep pengakuan diri berdasarkan ciri-ciri yang melekat pada kelompok/bangsa dan kemudian berdasarkan ciri-ciri tersebut menggolongkan diri dalam suatu kelompok tertentu yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Identitas atau jati diri muncul dalam hubungan sosial dimana dalam hubungan tersebut manusia membutuhkan suatu pengakuan diri atas keberadaannya. Identitas mempunyai sifat yang beragam tergantung dari arena hubungan yang berkesesuaian dengan corak hubungannya. Corak hubungan ditentukan oleh suatu hubungan antar peranan dimana ia akan menentukan status atau posisi kelompok/bangsa dalam hubungan tersebut. Dalam konteks hubungan Malaysia – Indonesia, isu-isu politik banyak mewarnainya. Mulai dari isu TKI, perbatasan, ambil alih sumber daya alam, dan akhir-akhir ini klaim simbol budaya. Pinjam-meminjam mulai menjadi masalah ketika mulai mengambil simbol-simbol budaya yang menjadi ciri budaya Indonesia yang notabene juga mulai menyentuh masalah identitas kita sebagai bangsa. Yang disentuh menurut saya bukan masalah budaya tapi sudah masuk ranah politik. Isunya bukan lagi pinjam meminjam atau klaim tapi menyentuh rasa sentimentil nasionalisme (boleh disebut patriotisme tepatnya) kita sebagai bangsa. Dan biasanya, rasa nasionalisme tersebut gampang muncul jika kita ciri-ciri kita diotak-atik oleh orang luar karena ia memunculkan yang namanya musuh bersama (common enemy). Ingat kasus September 11, 2001. Bangsa Amerika bisa sangat patriot dibandingkan bangsa lain.

Jadi percuma kita marah kepada malaysia jika memang kita sendiri tidak memelihara dan mengelola budaya bangsa kita sendiri. kemarahan ke Malaysia hanya mempertontonkan kebodohan kita sebagai bangsa yang tidak menjaga aset-asetnya. Percuma kita patenkan juga atau kita corongkan ke dunia luar, atau ke UNESCO – Batik milik kita – kalau memang kita sendiri tidak mau mempelajari atau mempraktekan budaya kita sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s