Capitalism love story: Cerita lain Michael Moore tentang negaranya


Capitalism. Kapitalisme. Ya kapitalisme. Meskipun film ini dirlis tahun 2009 ketika krisis ekonomi telah berakhir (mungkin tidak juga) namun film ini masih memberikan warnanya yang kental tentang apa yang sesungguhnya yang terjadi.

Seperti biasanya, Michael Moore mengajak kita untuk melihat amerika dari sisi yang lain. Sisi yang tidak mengenakan kalau boleh saya bilang. Dari tangan Michael Moore, amerika seperti menjadi negara-negara yang lain layaknya negara berkembang. Simak saja filmnya dia tentang asuransi kesehatan (Sicko) atau tentang tata laksana persenjataan (Bowling for Columbine) atau yang paling ekstrem Fahrenheit 9/11. Dimatanya amerika seperti negara yang rezimnya amat tersangat buruk. Jadi kalau anda penggemar Michael Moore mesti tidak akan kaget tentang kejutan nakal yang diberikannya dalam film ini. Misalnya bagaimana ia mencoba meminta uang ke Bank untuk diberikan kepada korban pekerja2 yang terkena PHK. Atau misalnya ia mengajukan pertanyaan sepele kepada narasumbernya dan mereka tidak bisa menjawab – jadi dimana sebenarnya uang kami disimpan. Dan para bankir serta analis keuangan itu kelimpungan tak bisa menjawab. Atau bagaimana dia mencoba untuk menyegel gedung Bank of America dan memerintahkan pegawainya untuk pulang. Memang unik gayanya. But, it’s really his style.

Jadi apa itu kapitalisme ?. Kalau kita lihat definisi wikipedia, “Capitalism is an economic system in which the means of production are privately owned; supply, demand, price, distribution, and investments are determined mainly by private decisions in the free market, rather than by the state through central economic planning or through democratic planning; profit is distributed to owners who invest in businesses, and wages are paid to workers employed by businesses. “.Tuh khan panjang banget. Intinya ya kepemilikan modal yang dimiliki pribadi dan diputuskan dalam pasar bebas. Peran negara menjadi hanya pengawas bukan pengontrol. Memang bagus. Kepemilikan kapital dimiliki perseorangan. Individu memang kebebasan untuk mencari kesejahteraannya sendiri dan dilindungi hak-haknya oleh negara. Dan memang begitu propaganda yang dimunculkan oleh pemerintah dari tahun ke tahun dan dari abad ke abad. Dalam kaca mata Michael Moore, kapitalisme ternyata tidak membawa kesejahteraan bagi sebagian besar rakyat amerika. Ia mencoba memperlihatkan kejadian-kejadian dan fakta-fakta yang menarik dibalik propaganda yang dibangun oleh pemerintah amerika bahwa kapitalisme justru telah membawa amerika ke era yang tidak peduli akan sesamanya serta kehancuran. Moore banyak menunjukan peristiwa-peristiwa kecil yang mungkin luput dari amatan kita yang jika dikumpulkan serpihan-serpihan tersebut akan membuat suatu paramida kebenaran yang tak terbantahkan. Simak misalnya penuturan seorang istri yang suaminya meninggal dengan banyak meninggalkan keuntungan ke perusahaan akibat klaim asuransi kematian, sedangkan ia tidak sepeserpun mendapatkannya dari perusahaan dimana suaminya bekerja. Ironis memang. Tapi memang begitulah cara kapitalisme bekerja. Ambil keuntungan sebanyak-banyaknya.

Puncaknya adalah krisis ekonomi yang dilanda amerika. Semua kemudian orang paham bahwa ternyata bangunan fondasi ekonomi amerika dibangun dari tatahan kosong. Peraturan sering dirubah demi untuk mendapatkan keuntungan yang lebuh banyak dan lebih banyak lagi. Kalau cerita tentang itu memang sudah sering kita dengar dari banyak media ataupun buku. Tapi dari Moore, kita mendapatkan prespektif lain tentang krisis ekonomi amerika. Ia bisa menunjukan dimensi lain dari krisis bahwa ternyata itu juga membangunkan kesadaran orang awam akan haknya dari kibulan-kibulan masal. Pemerintah dan pengusaha menjadi sisi yang sama. Sama-sama menjadi pusat pihak yang dipersalahkan. Begini memang jika pemerintahan diisi oleh orang-orang perusahaan. Dan Moore menunjukannya dengan baik kekomplotan itu.

Jadi apa yang menarik dari film ini ? Bagi saya bagaimana melihat kapitalisme bekerja dan memberikan efek buruknya tetaplah enak untuk ditonton. Maklum selama ini hanya sering hanya baca dibuku dan melihat secara faktanya dilapangan. Namun menjadi suatu rangkaian untuk menjadi tontonan yang enak dan mudah dicerna adalah suatu kenikmatan tersendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s