Antara Masyarakat Ulu dan Ilir di Sumatra


Catatan tentang buku “To Live As Brother; Southeast Sumatra in the Seventeenth and Eighteenth Centuries”
Barbara Watson Andaya
University of Hawaii Press, Honolulu, 1993.

Bagi saya buku ini adalah buku yang penting untuk memahami sibak tabir budaya kelompok-kelompok masyarakat yang ad adi Sumatra, khusus Sumatra bagian tengah dan pesisir timur. Mengapa demikian ? karena dalam pembahasannya banyak hal temuan Andaya, meskipun pada abad 17 & 19 masehi, relevan dihubungkan dengan konteks kebudayaan masyarakat Sumatra saat ini.

Tesis Andaya adalah ketika ia membagi masyarakat Melayu Jambi menjadi 2 sub kebudayaan yaitu kebudayaan masyarakat Melayu yang ada didaerah hulu (pedalaman) dan hilir (pesisir) dimana keduanya mempunyai bentuk kebudayaan yang berbeda. Masyarakat pedalaman, menurutnya hidup secara independen dan tersebar berada di kawasan sumber daya alam yang produktif. Menurut Andaya, Orang Kubu adalah salah satu bentuk kelompok masyarakat Melayu yang menjadi penghuni hutan. Selain Orang Kubu, terdapat orang-orang Bathin, suatu komunitas tertua yang ada di Jambi (Andaya,1993;14). Masyarakat yang ada didaerah hulu hidup secara berkelompok berdasarkan klan-nya dan mempunyai wilayah territorial tertentu yang sudah jelas batas-batasnya dengan kelompok yang lain.
Berbeda dengan masyarakat yang hidup daerah ulu, kehidupan masyarakat hilir mempunyai gaya hidup yang berbeda dimana kebudayaan mereka telah disentuh oleh dunia luar. Walaupun di sepanjang pantai Jambi dan Palembang merupakan wilayah kebudayaan dasar Melayu, namun dalam kenyataannya Andaya melihat dalam berbagai tingkatan derajat tertentu kebudayaan mereka telah banyak dipengaruhi kebudayaan Jawa sehingga terbentuk suatu struktur masyarakat yang struktural hirarkis layaknya masyarakat di Jawa (Andaya,1993;14). Struktur hirarkis ini dapat juga dilihat dalam dasar pengelompokan yang digunakan oleh kelompok masyarakat ini yang bersifat askriptif dan struktural. Andaya melihat bahwa dalam masyarakat ilir ini terdapat 3 kelompok masyarakat yang dibedakan atas dasar klan atau garis keturunan kesultanan Jambi yang berjenjang, yaitu suku kraton, suku perban, dan suku raja empat puluh. Berbeda dengan masyarakat yang ada di ulu, pengelompokannya berdasarkan garis keturunan dan kewilayahan tertentu yang kemudian menjadi basis oranganisasi sosialnya yang dinamakan marga (Andaya,1993,16-17).

Pengaruh kebudayaan Jawa pada masyarakat Melayu pesisir Jambi ini dapat kita telusuri lagi pada abad-abad sebelum abad 17 dan 18 dimana ditemukan banyak bukti sejarah dan arkeologi yang menyatakan bahwa wilayah Jambi di pesisir yang sebelumnya adalah wilayah Sriwijaya adalah wilayah pelabuhan persinggahan dagang yang cukup ramai sehingga menarik minat perhatian dari berbagai pihak luar, termasuk didalamnya adalah kerajaan-kerajaan Jawa (McKinnon,1992). Menurut Lapian, pada abad 9 dimana dominasi Sriwijaya di Asia Tenggara mulai digoyang oleh beberapa kekuatan lain, diantaranya Kerajaan Cola dan Airlangga, pusat kekuatan Sriwijaya beralih ke Jambi. Perpindahan kekuatan ini pada akhirnya melemahkan kekuatan Sriwijaya karena memunculkan kekuatan-kekuatan baru di Sumatra dan wilayah-wilayah jajahan Sriwijaya. Dan pada abad 14, wilayah Jambi berada di kekuasaan Kertanegara, raja Singhasari dari Jawa Timur (A.B.Lapian,1992;146). Dengan pengaruh Jawa yang cukup erat ini memang tidak mengherankan apabila masyarakat Melayu di wilayah pesisir Jambi mendapatkan pengaruh yang cukup luas dari Jawa. Pengaruh Jawa tersebut juga mendapatkan dukungan dari Tome Pire yang berdasarkan catatannya di tahun 1512 menyatakan bahwa masyarakat Jambi lebih menyerupai sebagai orang Palembang dan Jawa daripada orang Melayu sendiri (Andaya,1993;14)(A.M. Lapian,1992;148).

Sebagai komunitas terbesar di Jambi, keberadaan masyarakat Melayu ada dalam sektor-sektor ekonomi yang selama ini menjadi andalan propinsi Jambi yaitu usaha-usaha pengelolaan sumber daya alam seperti perkebunan, pertanian dan kehutanan. Terutama untuk perkebunan karet, kopi, kelapa, cengkeh, kayu manis, palma, tembakau, dan kelapa sawit. Usaha-usaha pengelolaan sumber daya alam ini kemudian menjadi tumpuan perekonomian masyarakat Jambi sejak masa lampau, khususnya perkebunan karet. Suatu usaha perkebunan yang ada sejak zaman kolonial Belanda. Hal ini didukung pula dengan wilayah dataran rendah Jambi yang relatif subur untuk usaha-usaha perkebunan dan perladangan. Juga tranportasi sungai Batang Hari yang membelah wilayah Jambi turut pula mempermudah penyaluran hasil-hasil perkebunan karet dan hasil sumber daya alam lainnya (Budihardjo,2001;4). Disamping Sungai Batang Hari dan sungai-sungai lainnya di Jambi tersebut berfungsi sebagai jalur tranportasi ekonomi, sungai-sungai itu juga menjadi arena pertemuan budaya kedua belah pihak. Interaksi antar kedua masyarakat ini lalu membentuk suatu struktur interaksi yang bersifat hubungan antar status (Andaya,1993).
Orang-orang tertarik untuk mengeksploitasi Sumatra bagian tenggara, khususunya area yang dikenal dengan Jambi, mulai untuk diperluas atau dikembangkan. Sejak beberapa lama sebelumnya, Jambi tidak begitu dikenal, ia berada dibawah bayang-bayang Palembang. Jambi hanya memainkan peran yang minor dalam perdagangan regional. Dengan pengembangan lada sebagai tanaman perkebunan selama abad 16, bagaimanapun juga Jambi dinilai sebagai nilai kepentingan yang tiunggi dalam perdangan internasional dan menarik bagi Belanda dan English East India Companie yang pada akhirnya mengatur pos-nya pada thn 1615.
Secara alami orang-orang Eropa pada waktu itu tidak sadar bahwa interaksi dari 2 area ini merupakan fitur dari Sumatra tenggara untuk/pada kemungkinan hingga ribuan tahun. Inskripsi lokal dan sumber-sumber Cina mengindikasikan bahwa paling tidak pada abad 17 pusat utama dari otoritas distuasikan di daerah/sepanjang daerah sungai yang terpanjang di Sumatra yaitu Batang Hari dan Musitelah bersaing untuk saling mengdominasi. Yang dipicu oleh kompetisi supremasi komersial di selat Malaka. Meskipun keduanya dihubungkan dengan hubungan keluarga, tetapi saja terjadi proses aliansi dan antagonism yang berjalan bercampur. Pada waktu Belandan dan Inggris datang pada wal abad 17, Palembang dan Jambi berhubungan, tetapi bukan berarti hubungan ini dalam keadaan harmonis yang tidak terganggu, hubungan darah dan kewilayahan yang menyebabkan pertikaian itu. orang Eropa berupaya bahwa jambi dan palembang seharusnya hidup berteman dan as a brother.

Salah satu yang meresap seperti keasyikan dari hubungan antara ulu dan ilir. Pensejajaran antara daerah hulu dan daerah hilir adalah signifikan. Pengidentifikasian antara orang-orang ulu dan ilir berorientasi pada lingkungan mereka. orang barat mengatakan pd abad 19 bahwa “ orang akan berkata daerah hulu dan hilir meskipun disana tidak diketahui ada airnya “ dan ini mengindikasikan situasi dari tempat berdasarkan acuan sederhana pada daerah yang mendaki/datran tinggi dan datran rendah sungai. Pembedaan antara ulu dan ilir menjadi penting karena dominasi ilir pada daerah ulu tidak pernah dilihat sebagai ketidakerelakkan, dan memecah identitas dari daerah pedalaman yang secara konsisten diartikulasikan oleh orang-orang.

Kehidupan masyarakat daerah ulu berbeda dengan daerah hilir, hal itu dapat dilacak dari sejarah yang panjang. Dari temuan arkeologi dan bukti kebahasaan membuktikan bahwa daerah pedalaman, baik Palembang dan Jambi masyarakatnya hidup secara independen jauh dari pantai. Dari seorang prehistorian diketahui bahwa daerah-daerah didataran tinggi Sumatra, yaitu Danau Kerinsi , ditemukan kehidupan sejak 2000 SM oleh Austronesian awal. Sebenarnya ini membuktikan bahwa kehidupan masyarakat di pedalaman lebih tua dan hidup secara independen dan terpisah-pisah.

Berbeda dengan daerah ulu, kehidupan masyarakat hilir mempunyai gaya hidup yang berbeda dimana telah disentuh oleh dunia luar. Sepanjang pantai Jambi dan palembang merupkan kebudayaan dasar Melayu, tetapi secara geografis kira-kira dalam berbagai tingkatan derajat telah dipengaruhi orang-orang jawa.

Di daerah pedalaman, penduduk asli mungkin telah menjadi penghuni pengembara hutan, orang kubu, dan di Jambi komunitas yang tertua yang telah berdiam adalah orang-orang bain, kelompok batin ini diassosiakan dengan pemimpin non muslim yang ada di hutan dan manusia laut. Karakter dari kelompok batin ini termodifikasi oleh penetrasi oleh pengaruh orang Minangkabau. Meskipun orang Minangkabau telah berkawin dengan orang lokal, dalam area tertentu dominasi kebudayaan dan bahasa masih membekas, seperti dalam pengamtan Belanda pada abad 19 yang mendeskripsikan populasi Jambi dalam term 2 divisi yaitu orang batin dan penghulu. Penghulu nama yang diberikan oleh orang Minangkabau kpd kepala keluarga dan yang menunjukan kelompok ini mendapatkan pengaruh Minangkau (14).

Pada abad 17 diwilayah kapital hilir Jambi dan Palembang, berkembang konsep suku sebagai kelompok garis keturunan yang diassosiasikan dengan wilayah tertentu yang merupakan hasil percampuran dengan/pengaruh masyarakat maritim lainnya. Tentunya batas-batas sukunya jelas. Dan beragam Islam. Dalam klan kerajaan Jambi ada 3 suku, yaitu suku kraton, suku perban, dan suku raja empat puluh. Jadi di bagian hilir, masyarakatnya bersifat patronase/garis klan.

Berbeda dengan daerah hilir, daerah hulu, garis teritorial lebih jelasnya pada basis organisasi sosial, dimana kelompok bertempat tinggal di desa-desa seperti didaerah Minangkabau di Tujuh dan Sembilan Koto di daerah hulu Batang hari atau menyebar di area luas seperti suku pindah (moving clan). Pada abad 18, ada nama kelompok klan yang diacu dalam piagem yaitu marga, term yang beredar di antara Palembang-Jambi, Pasemah disebut sumbai, Lampung Komering disebut buwai. Konsepnya adalah kelompok keluarga besar yang mempunyai/dihubungkan dengan asal-usul dan dihubungkan dengan area tertentu.

Pada abad 17 –18, perbedaan antara ulu dan ilir ada dalam bahasa dan adat, serta gaya hidupnya. Yang dipengaruhi juga oleh lingkungan fisik dan ekonominya. Daerah lir, tidak sesuai dengan pertanian karena daerah rawa-rawa, dan tidak mendukung untuk pemukiman dalam jumlah yang besar. Basis ekonominya adalah pencarian ikan, koleksi produksi rawa-rawa dan laut, dan mengatur pusatnya perdagangan intermasional, dimana kemudian mereka tinggal dimuara-muara sungai. Kemudian untuk daerah hulu, lebih kondusif untuk pertanian dan tempat tinggal manusia, perladangan, dan perkebunan dapat dilaksanakan ditanah yang subur di daerah lowland.

Pada abad 17 orang Belanda melihat orang ulu sebagai “orang yang kaya”, maksudnya mempunyai potensi wilayah yang subur dan sesuai untuk perkebunan yang dikembangkan oleh Belanda. Daerah yang mendukung untuk pertanian, seperti suburnya, kemudian lokasinya yang relatif lowland dan daerah pegunungan untuk perkebunan, juga cuacanya yang mendukung menyebabkan/salah satu faktor pertumbuhan penduduk berkembang dengan baik. Apalagi sistem padi kering/lahan kering untuk padi juga membutuhkan tenaga yang berlimpah untuk menggarapnya namun demikian ukuran populasi dapat berseimbang dengan ekologi limngkungannya. Sehingga dengan demikian banyak orang yang tinggal didaerah pedalaman di sepanjang sungai batang hari dan Musi. Mereka membangun ekonomi lokal dimana ia kemudian membangun jaringan distribusinya dengan menmpatkannya sebagai pusat populasi. Area hilir menjadi fokus utama aktivitas komersial, daerah ulu dikarakterkan oleh sejunlah pertukaran yang dibangun pada lintasan sungai-sungai penting.
Pada masa-masa tertentu ketika sungai mengering, komunikasi antara hulu-hilir terputus karena tidak busa melewatinya sehingga daerah hulu menjadi daerah terisolir. orang ulu tidak familir dengan orang hilir, untuk perdagangan di daerah hilir tidak begitu menjadi perhatian utana mereka sehingga orang hilir yang kehulu melalui sungai dan jln darat. Perbedaan geografis juga memberikan kontribusi pada sikap mutul yang ada dalam bahasa dan budaya. Kunci hubungan mereka adalah ambiguitas. Disatu sisi, daerah hulu juga menakutkan bagi orang-orang yang hidup didaerah pantai. Ada asumsi yang berkembang bahwa orang hulu adalah orang bahaya, banyak mitos yang berkembang ttg kekejaman dan keanehan-keanehan yang berkembang pada masyarakat hulu. Seperti orang bunian, orang gugu dll.

Hubungan antara orang hulu dan hilir, adalah hubungan kekuatan. orang hilir menawarakan perlindungan & patrinase bagi orang hulu, dan sebaliknya orang hulu memberikan hadiah/upeti pada mereka. orang hulu akan menjual brg-brgnya jika mereka dapat diyakinkan untuk mendapatkan pertukaran yang seimbang/hasil yang baik. Salah satu yang menjadi obyek pertukarannya sebagai upetinya adalah wanita orang ulu, sebagai tenaga kerja yang baik bagi kerabat orang gilir. Raja/sultan dan keluarganya menjadikan orang hulu menjadi selirnya untuk mengikat hubungan patronasenya. Hubungan yang mutual antara ulu-ilir. Orang-orang ulu akan memberikan upeti brg, dan tenaganya sebagai imbalannya orang ilir akan memberi pengharagaan dan perlindungan. Namun hubungan ini tidak menjadi mantap ketikan hubungan itu bersifat rentan. orang ilir akan mempertahankan sumber pemasokannya dari orang-orang hulu sehingga hanya pasif menerima upeti dan komoditi yang diperjualbelikan. Kemudian ada peningkatan pengumpulan hasil lada dengan menggunakan kekerasan untuk menjamin supply lada, upeti dan wanitanya. Ambiguitas hubungan ulku-ilir direfleksikan dalam cerita-cerita yang menggambarkan hubungan raja dengan orang hulu. Orang hulu membutuhkan perlindungan karena ketakutan-ketakutan akan dunia hilir yang dinilainya bahaya. Dan mereka perlu mendapatkan jaminan akan perdagangan yang jujur & seimbang. Ada beberapa yang mempengaruhi ketegang keduanya, (1). tidak seperti beras atau kapas, lada adalah tanaman yang lambat untuk berbuah. (2), investasi tenaga yang dibutuhkan ketika panen. Yang mengandalkan famili sebagai dasarnya. Kemudian berkembang, pasokan yang berlebihan, penggunaan uang sebagai nilai tukar (menimbulkan kecurigaan orang hulu pd orang hilir), ukuran yang berbeda antara orang hilir dan hulu, sistem pembayaran yang digunakan oleh Belanda untuk membayar dengan menggunakan hutang/kredit. orang Eropa ngak ngerti bahwa hutang tidak biasa dalam hubunga hulu an hilir atau nggak lazim sehingga banyak orang huku yang terjebak hutang dan tidak mampu membayarnya. Lalu kemudian menggantikannya dengan tenaganya, kebiasaan ini lalu cenderung menjadi perbudakan. Dengan intimidasi dan kekerasan yang dilakukan oleh negara maka yang terjadi adalah perbudakan/pengambilan tenaga-tenaga Orang Kubu bagi kepentimngan mereka. Juga berlaknya kemudian sistem ijon sehingga membuat orang hulu semakin terikat pada mereka. Juga kemudian bergeser dengan kepemikan kayu dan sumber-sumber alam. Lalu juga berkembang kompetisi dintara orang Minang kabau dan wilayah Jambi dan palembang karena lokasi yang berdekatn dengan sumatra barat, sehingga ada kompetisi untuk menguasai.

Dari paparan Andaya diatas dapat kita lihat bahwa perbedaan antara masyarakat ulu-ilir tidak saja mencerminkan perbedaan kewilayahan, ulu dengan daerah pegunungannya dan hutannya dengan daerah ilir yang identik dengan daerah pesisir, tetapi hal ini berhubungan erat dengan identitas sosial budaya yang melibatkan perbedaan aktivitas ekonomi, pola kehidupan, dan budaya. Orang ulu dengan pertanian dan hasil hutannya dan orang ilir dengan perdagangan dan birokrasi kerajaanya. Orang ilir sangat rendah memandang orang ulu. Tidak aneh ketika itu orang-orang ilir mengambil paksa para wanita yang telah bersuami dan gadis-gadis orang ulu sebagai selir atau budak. Dan orang ilir juga memperlakukan pajak yang tinggi kepada masyarakat ulu. Tidak mengherankan kemudian jika orang-orang ulu lebih dekat hubungannya dengan orang-orang Minangkabau. Namun disisi yang lain Orang ilir sangat membutuhkan orang ulu sebagai penyuplai utama komoditi perdagangan yang akan diperjualbelikan ditingkat antar wilayah, bahkan antar negara. Bahkan pemerintah Hindia Belanda pada abad 17 melihat orang ulu sebagai “orang yang kaya” dibandingkan orang hilir, sesuai dengan kepentingan Belanda akan kebutuhan wilayah perkebunan. Demikian pula halnya dengan Orang Ulu. Mereka masih membutuhkan orang ilir sebagai orang yang mampu memberikan perlindungan dan pengayoman. Terlebih dengan simbol-simbol kerajaan yang dimilikinya. Selalu ada ketegangan dalam hubungan antar 2 kelompok masyarakat, ulu dan ilir ini. Dan ketegangan ini yang mempengaruhi proses perjalanan sejarah masyarakat Melayu yang ada di Jambi.

One thought on “Antara Masyarakat Ulu dan Ilir di Sumatra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s