Ketrampilan Mediasi dan Negosiasi


Oleh Adi Prasetijo

Disampaikan dalam training Conflict Resolution  ICSD ,  25-29 Oktober 2004

 

Pemahaman  Singkat Tentang Konflik

Sebelum memahami apa yang disebut mediasi dan negosiasi dan apa hubunganya dengan konflik, sebaiknya memahami terlebih dahulu tentang memahami konflik itu sendiri. Sebab akan berkaitan dengan respon pendekatan yang akan dilakukan terhadap penyelesaian konflik itu sendiri.

Banyak interpretasi tentang arti konflik itu sendiri. Ada beberapa pengertian. Pada awalnya konflik dipahami sebagai suatu perjuangan masing-masing untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Atau lebih merupakan sebuah perjuangan antar-individu atau antar-kelompok untuk memenangkan suatu tujuan yang sama-sama ingin dicapai. Kekalahan atau kehancuran pihak lawan dilihat oleh yang bersangkutan sebagai sesuatu tujuan utama untuk memenangkan tujuan yang ingin dicapai. Dalam konteks ini konflik dipandang  sebagai pertentangan atau pertempuran fisik antar-individu atau antar-kelompok untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan. Implikasi dari pemahaman ini, konflik dilihat sebagai sesuatu yang sifatnya tidak baik atau negatif karena akan mengganggu stabilitas atau kemantapan dari suatu masyarakat. Untuk itu konflik harus segera diselesaikan atau dihilangkan sedemikian rupa sehingga kemantapan kembali tercipta. Konsekuensi dari tindakan ini adalah menisbikan/menghilangkan perbedaan atau keragaman yang dipunyai oleh masing-masing karena perbedaan atau keragaman dianggap sebagai penyebab dari konflik. Ia dipandang sebagai ancaman dari sebuah stabilitas kehidupan suatu masyarakat. Contohnya adalah perbedaan pendapat di masa pemerintahan Orde Baru. Pemerintah tidak mengijinkan perbedaan pendapat karena dianggap mengganggu stabilitas nasional.

 

Seiring berkembangnya dengan paham demokrasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai  HAM, pemahaman tentang konflik juga berubah. Konflik dipahami sebagai suatu hubungan antar pihak (2 atau lebih)  yang mempunyai tujuan yang berbeda. Konflik tidak dianggap lagi sebagai sesuatu yang sifatnya negatif karena dapat mengganggu stabilitas sosial. Namun konflik dipandang sebagai sesuatu yang sifatnya positif sebab dapat memberikan rangsangan untuk perubahan. Dalam pemahaman ini perbedaan dan keragaman tidak lagi dipandang sebagai ancaman karena masing-masing orang punya hak untuk bertindak atau menyuarakan suaranya. Konflik dilihat sebagai bagian alami dari eksistensi manusia karena perbedaan selalu ada dan mubul dalam diri manusia. Untuk itu konflik tidak dapat dihilangkan namun bagaimana caranya dikelola atau dicegah agar tidak menjadi kekerasan dan merusak tatanan. Yang harus diciptakan adalah aturan main yang disepakati bersama dan menjamin bahwa aturan tersebut mengakomodasi dari semua kepentingan, dan menjamin semua pihak mentaati aturan main yang disepakati bersama.

Konsep Konflik dan kekerasan adalah sesuatu yang berbeda. Kekerasan diakibatkan oleh konflik, namun belum tentu konflik selalu menghasilkan kekerasan.  Kekerasan disini diartikan sebagai kekuatan yang digunakan secara sengaja kepada orang lain sehingga mengakibatkan kerusakan/kerugian/kecelakaan secara fisik.

Negosiasi

Negosiasi adalah penyesuaian dari perbedaan. Atau dapat dikatakan sebagai tawar-menawar antar pihak yang bersengketa. Bersifat voluntary dan tidak membutuhkan pihak ke tiga. Masing-masing pihak memilih wakilnya sebagai negosiator dan masing-masing negosiator berunding.

  1. Negosiator membawa misi (agenda) dari pihak yang bersangkutan sehingga yang terjadi adalah negosiasi tapi penekanan kepada pihak lain agar mau menerima agendanya.
  2. Negosiasi mengalami dead-lock karena yang dibicarakan biasanya pada level postion, yang biasanya mengarah pada pemenuhan basic need.
  3. Jika kita berada dalam posisi yang diatas (punya kekuatan) biasanya sulit untuk diajak negosiasi karena kita sama dengan mengurangi kekuatan kita, tapi kalau kita berada dalam posisi dibawah (kekuatan lemah) kita berusaha untuk memohon untuk dialog/negosiasi.
  4. Negosiasi lebih kepada penyelesaian yang “win-win solution”

 

Prinsip dasar melakukan negosiasi adalah pemahaman akan posisi dan kepentingan/interest dari kita dan lawan kita. Penting untuk memahaminya sehingga kita mengetahui apa yang perlu dinegosiasikan. Position yaitu  lebih kepada image apa dari diri kita yang ingin kita beritahukan kepada orang lain. Posisi berdasarkan pada peran kita dalam  suatu masyarakat. Misal: konteks hubungan kaya-miskin. Dan Interest/kepentingan adalah  apa yang ingin kita capai. Lebih kepada pemuasan pemenuhan kebutuhan (parameter of satisfying) . Misal: kebutuhan akan makan. Seberapa banyak makanan yang kita inginkan agar kita merasa kenyang. Sedangkan kebutuhan kita setidaknya ada 4, yaitu:

  1. Biologis: kebutuhan atas dorongan alamiah, seperti makan dll
  2. Identity : kebutuhan akan pengakuan
  3. Security : kebutuhan akan rasa aman
  4. Social : kebutuhan akan berinteraksi/bermasyarakat dan berkembang sesuai dengan lingkungan yang diinginkan

Berikut adalah matriks negosiasi:

Negosiasi Pada Posisi Negosiasi Pada Interest
Karakter
  1. Bertujuan untuk mengalahkan pihak lawan
  2. Pihak yang bertikai sama-sama merasa menjadi korban
  3. Saling mencurigai motif masing-masing pihak
  1. Bertujuan untuk bekerja sama dalam membangun kesepakatan yang mengakomodasikan semua pihak
  2. Pihak yang bertikai mencoba untuk mengidentifikasikan semua interest yang sama
  3. Mencari kesempatan untuk membangun kesepakatan berdasar interest bersama

Strategi

 

  1. Menyembunyikan informasi
  2. Kadang mengharapkan sesuatu lebih daripada yang diterima
  3. Mengukur keberhasilan negosiasi dari apa yang dapat didapatkan dari proses negosiasi ini
 

  1. Identifikasi masing-masing interest yang perlu diakomodasikan
  2. Identifikasi interest bersama sebagai starting pont
  3. Mendiskusikan solusi pemecahannya bersama-sama

Prinsip –prinsip Dalam Negosiasi

  • Bagaimanapun harus percaya kepada pihak yang lain bahwa dia dapat dipercaya
  • Merubah dari konfrontasi menjadi bekerja sama dalam menyelesaikan masalah bersama-sama
  • Hasil dari negosiasi tidak untuk mempertahankan posisi tapi lebih kepada pemuasan pada interest masing-masing pihak
  • Jika anda ingin pihak lain mendengar anda, sebaiknya anda mendengarkan mereka terlebih dahulu
  • Jika anda ingin pihak lain mengetahui dan memahami tentang anda, sebaiknya anda mengetahui dan memahami mereka terlebih dahulu
  • Untuk dapat mendapatkan persetujuan pihak lain, mulailah dengan menyetujui dengan apa yang anda dapat setujui
  • Negosiator yang efektif mendengar lebih banyak daripada bercakap terlalu banyak
  • Jangan pakai kata-kata “Kamu, Anda, dan Saya” tapi lebih banyak menggunakan kata-kata Kita
  • Jangan terlalu banyak bermain dalam tatanan posisi karena sifatnya semu, tidak jangka panjang, dan tidak efisien.
  • Arahkan pembicaraan tetap fokus pada interest masing-masing pihak
  • Munculnya kebutuhan dan pilihan bersama (mutual option) yang dirasakan oleh masing-masing pihak

 

Mediasi 

Mediasi adalah negosiasi yang difasilitasi oleh pihak ketiga yang disebut mediator. Mediator akan mendampingi pihak yang bersengketa to mendiskusikan secara bersama masalah dan pemecahan masalah yang dihadapi bersama. Proses mediasi adalah voluntary based (tidak boleh ada unsur paksaan). Artinya pihak-pihak yang bersengketa/berkonflik mau secara sadar menyelesaikan permasalahanya secara damai.

Mediasi biasanya dilakukan jika konflik yang dalam persengketaan dan bersifat  terbuka, ketika konflik menjadi terlihat jelas dan mengarah kepada destruktif (merusak). Mediator haruslah orang/pihak yang dipercaya oleh keduabelah pihak, harus netral/tidak memihak, dan mediator tidak dapat mengambil keputusan atau memaksakan keputusan kepada pihak lain.Mediator hanya memfasilitasi pihak yang bersengketa untuk mengambil keputusan. Mediator dalam hal ini berperan sebagai pendamping dari masing-masing pihak untuk dapat bersepakat dalam mengambil keputusan akhir.

Biasanya mediasi terjadi jika pihak yang bersengketa secara sadar (kadang yang terjadi dalam posisi paksaan) ingin menyelesaikan permasalahannya dengan pihak lain

 Proses Mediasi

  1. Perkenalan (oleh mediator)
    1. Perkenalan
    2. Penjelasan tentang proses yang akan dilalui dan aturan main
    3. Menetapkan aturan main dalam proses mediasi
  2. Storytelling
    1. Masing-masing pihak menceritakan situasi yang dihadapi dr sudut pandang masing-masing
    2. Mediator menyimpulkan prespektif yang dr masing-masing cerita
    3. Cari isu utama/ fokus perhatian dari masing-masing pihak
  3. Mengidentifikasikan isu bersama
    1. Mediator membuat list isu-isu yang menjadi masalah pihak-pihak yang bersengketa
    2. Mediator mengkonfirmasikan kembali list kpada para peserta
  4. Penyelesaian masalah
    1. Pilih 1 isu utama yang menjadi benar-benar menjadi perhatian bersama dan berusaha memecahkan bagaimana cara menyelesaikannya
      1. Mediator membantu peserta untuk lebih menggali “interest” daripada “posisi”;
      2. Mediator berusaha mengajak peserta untuk menentukan pilihan-pilihan penyelesaian secara bersama-sama
  • Menegaskan kebersamaan pihak yang bersengketa dalam isu-isu utama
  1. Mediator berusaha membangun komunikasi yang konstruktif
  2. Membantu pihak yang bersengketa lebih fokus pada masa depan
  1. Kebanyakan konflik berkaitan dengan isu-isu yang bersifat kongkrit & isu bagaimana membangun hubungan antar pihak yang bersengketa, mana isu utama yang harus diprioritaskan
  1. Kesepakatan
    1. Kesepakatan sedapat mungkin bersifat kongkrit, spesifik, dan jelas
    2. Sedapat mungkin seimbang dan tidak menghakimi
    3. Mengagendakan pendekatan penyelesaian masalah jika terjadi masalah muncul diantara pihak yang bersengketa dimasa depan atau jika ada yang melanggar

 

 

 

Bahan Bacaan Untuk Mediasi & Negosiasi :

  1. Carolyn Schrock-Shenk (ed.), Mediation & Facilitation Training Manual, Mennonite Conciliation Service, 2000
  2. Lederach, John Paul, Building Peace; Sustainable Reconciliation In Divided Societies, United States Institute of Peace, 1997.
  3. Caritas, Peacebuilding Training Manual, Caritas International Network, Vatican City, 2002.
  4. CRS, Perangkat Pembangun Perdamaian (Contoh-contoh Kerja dari para aktivitis perdamaian di Indonesia), CRS, 2003.
  5. Simon Fisher dkk, Mengelola Konflik, British Council, 2000.
  6. CRS, Indonesia Peacebuilding Directory, CRS, 2003.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “Ketrampilan Mediasi dan Negosiasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s