Orang Biasa


167376_1600917468965_1416910229_31510092_5051084_n

Nggak tahu, kenapa saya suka dengan kajian yang bersifat anthropology atau kajian budaya. S1 archeology (UGM), dan S2  antropologi sosial (UI). Sedikit bergaul dengan konflik dan peacebuilding. Pernah training tentang CBT (Community Based Tourism) di Nepal, Conflict Transformation di MPI (Mindanao Peace-building Institute) Philippine, beberapa workshop dan selebihnya belajar sendiri. Sekarang sedang menempuh program doktoral antropologi di USM (Universiti Sains Malaysia).

Pernah bekerja di NGO lokal, internasional, lembaga UN, dan sekarang terdampar jadi social researcher….nggak tahu jadi apa lagi gue ntar. Untuk sementara teliti meneliti dulu….

adi prasetijo/tijok

prasetijo@gmail.com

18 thoughts on “Orang Biasa

  1. Halo Tijok,

    Udah lama ndak kontak. Dimana kamu sekarang? Saya masih tetap ulang-alik Jakarta-Jogja demi sesuap nasi. Blogmu ini semakin bagus, belajar banyak yah utk bisa ngeblog dg baik. Oh ya, blogmu udah saya links di blogku.
    Selamat menulis dan selamat ngeblog.

  2. hal thek..
    hehhee..sama thek. Aku bolak balik jakarta yogya juga demi sesuap mercy baby benz…hahaha..thanks pak komentarnya. Aku khan belajar dr ahlinya..

  3. ampun, Pak…
    ndak sanggup berkomentar…
    berat yak tulisannya…

    bisa bantuin untuk orang seperti aku yang awam dengan anthropologi dan cultural studies? Mungkin, tulisan yang agak lebih ringan bisa menarik. Tapi, tergantung tujuan sih…

    Aku tetap senang belajar bersamamu. thx ya.

  4. Maaf sebelumnya…
    Saya tidak tau harus panggil Bapak, Mas. Om atau apa.
    Saya sangat tertarik dengan blog ini, karena mengangkat tentang kajian antropologi.
    Saya mahasiswa jurusan Sosiologi& Antropologi semester akhir, saya sedang menyusun skripsi tentang “Adaptasi Orang Mingang Perantauan terhadap Budaya Jawa”
    Saya mohon petunjuk dari Anda, untuk dapat memberikan sedikit konsep ataupun literature yang bisa dijadikan acuan berkaitan dengan tema skripsi saya ini. Terimakasih sebelumnya

  5. Terima kasih mbak Nur Indah atas tanggapannya. Adaptasi sebenarnya suatu konsep budaya yg diambil atau dipinjam dr konsep lingkungan tentang adaptasi mahkluk hidup thdp lingkungan alamnya. Konsep2 itu kemudian dipinjam & diterjemahkan dlm konteks teori budaya. Ada beberapa literatur lama tentang ini – John Bennet, Hardestry, dll. Kalau ada yg bisa saya bantu silahkan kontak email japri saya diatas. Thanks

  6. Saya sudah mengirim pesan di E-mail Anda, mohon petunjuk dari Anda. Terimakasih sebelumnya…

  7. Saya ingin tanya lagi Pak…
    kemarin saya ditanya seseorang “apa bedanya orang Minang dengan Suku bangsa Minangkabau?”
    Saya menjawab kalau suku bangsa itu berkaitan dengan sekelompok orang yang mempunyai ciri budaya yang sama dan biasanya disatukan dengan bahasa yang juga sama. tetapi kalau orang minang itu adalah manusianya. Jadi orang minang itu masuk dalam suku bangsa minang.

    Apakah seperti itu Pak?
    Atau bagaimana jawabn yang seharusnya saya lontarkan untuk menjawab pertanyaan tersebut?

  8. Pak, lha kalau jenis masakan itu juga bisa masuk dalam kekayaan budaya ya kan Pak? misal masakan minang dengan masakan jawa itu berbeda, karena selera orang Minang dengan selera makan orang Jawa juga berbeda, yang katanya orang jawa cenderung menyukai masakan yang manis sedangkan orang Minang lebih suka masakan yang pedas. Semua itu sebenarnya dasarnya apa sih Pak?
    Lalu pantasnya pemakain istilah katanya “makanan” atau “masakan” ya Pak?
    Saya masih bingung bedanya antara makanan dengan masakan itu bagaiamana.
    Bapak tau literatur atau situs internet yang membahas makanan/masakan secara antropologis tidak Pak? Kalau makanan atau masakan memang termasuk kekayaan budaya?

  9. Pak, kalau bedanya etnis dengan suku bangsa bagaimana? Ada orang menyebut Jawa dengan etnis Jawa lalu ada juga menyebut Suku Bangsa Jawa.
    Lalu dengan etnis Tionghoa???

  10. #

    Pak, lha kalau jenis masakan itu juga bisa masuk dalam kekayaan budaya ya kan Pak? misal masakan minang dengan masakan jawa itu berbeda, karena selera orang Minang dengan selera makan orang Jawa juga berbeda, yang katanya orang jawa cenderung menyukai masakan yang manis sedangkan orang Minang lebih suka masakan yang pedas. Semua itu sebenarnya dasarnya apa sih Pak?
    Lalu pantasnya pemakain istilah katanya “makanan” atau “masakan” ya Pak?
    Saya masih bingung bedanya antara makanan dengan masakan itu bagaiamana.
    Bapak tau literatur atau situs internet yang membahas makanan/masakan secara antropologis tidak Pak? Kalau makanan atau masakan memang termasuk kekayaan budaya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s