Afan Gaffar


Guru Besar Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) kelahiran Tente, Bima, Nusa Tenggara Barat, 21 Juni 1947, ini, walaupun bukan orang Jawa, terkenal sebagai orang yang sangat nJawani. Ia dikenal luas para tetangganya karena banyak bergaul dan sering keliling dengan naik motor. Dia secara mendadak meninggal dunia ketika hendak memangkas rambut di belakang rumahnya di Yogyakarta, Rabu (8/1/2003), sekitar pukul 14.00.

Jenazah pengajar dan pengamat politik, ini disemayamkan di Balairung UGM dan selanjutnya dimakamkan di Sidoarum, Godean, Yogyakarta. Afan Gaffar meninggalkan seorang istri, Sujiyatni Purwaningsih yang memberinya empat anak, Nina Ulfah Nulatutadjie Gaffar, Adi Prasetijo, Erlangga Dwiyanto Aditya Gaffar, dan Ika Ujiwulansari, serta dua cucu Kian dan Bima.

Afan dikenal sebagai ilmuwan yang aktif menulis di berbagai media massa, kerap memberikan pelatihan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun DPRD dan pernah menjadi anggota KPU (Komisi Pemilihan Umum). Ia juga seorang pengamat politik yang dekat dengan  Jabatan terakhir sebagai Ketua Program Studi Ilmu Politik Lokal dan Otonomi Daerah serta Sekretaris MWA (Majelis Wali Amanah ) UGM.

Penggemari olah raga Kempo, golf dan renang, yang sempat menjadi ketua Perkemi DIY (1991-1993), ini dalam tiga bulan terakhir, sebelum meninggal, dia sibuk untuk menyelesaikan kurikulum program S3 ilmu politik. Hal itu dilakukan terutama setelah dia menyelesaikan penyusunan Rancangan Undang-undang tentang Keistimewaan DIY. Walaupun Afan Gaffar kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat, namun ia terpilih sebagai Ketua Penyusunan RUU itu.

Intelektualitas
Ayahnya, Ahmad Daeng Ta’asia, seorang pegawai di kantor pendidikan di Bima. Ibunya, Hamimah binti Haji Yusuf, buta huruf (Latin). Namun masa kecil Affan diwarnai suasana intelektualitas. Sebab, keluarga ini juga memiliki toko buku terlengkap di kota kelahirannya itu. Toko buku yang menjual buku-buku agama (Islam), ilmiah dan sastra. Sehingga sejak kecil, dia sudah sering membaca, termasuk membaca buku-buku sastra.

Sejak kecil, dia sudah terbiasa hidup bersahaja. Terutama sejak ayahnya meninggal ketika Affan berumur 10 tahun. Semasa SMP 1960, ia harus berjalan kaki sejauh lima kilometer. Karena di desanya, Tente belum ada SMP, ia harus bersekolah di Bima-Raba.

Anak kesepuluh dari sebelas bersaudara, ini sejak SMA juga harus membiayai sekolahnya sendiri. Hal Ini akibat tidak menuruti keinginan ibunya agar Afan masuk ke Sekolah Guru Atas (SGA) dan kelak menjadi guru seperti kakak-kakaknya. Namun, Afan malah nekat masuk SMA, secara diam-diam. Dia lebih bercita-cita jadi pejabat atau dokter daripada jadi guru.

Ayahnya pun ketika masih hidup mengharapkan dansering membangga-banggakan kepada teman-temannya, bahwa kelak anaknya akan menjadi seorang dokter.

Pada mulanya, ibunya tidak tahu dia masuk SMA. Namun, tak berapa lama kebohongannya terungkap. Ibunya marah sekali. Akhirnya, Sang Ibu, yang berwatak keras, membiarkannya masuk SMA, tapi dengan syarat, harus membiayai sendiri sekolahnya.

Hal itu tidak menjadi masalah bagi Affan remaja. Sebab sejak SMP pun, boleh dibilang, dia sudah bekerja membantu ibu, sepeninggal ayahnya. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci, hingga menyeterika.

Tapi cita-cita ayahnya agar Affan menjadi seorang dokter, tak bisa dia penuhi. Lantaran nilai pelajaran aljabarnya tidak bagus. Ia pun memilih jurusan budaya. Sebab dia menyukai pelajaran sejarah dan sastra.

Selepas SMA (1966), dia pun masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada di (1972-1978)Yogyakarta.  Semasa kuliah, ia pun bekerja sebagai penjaga malam di sebuah proyek bangunan, yang dilakoni sejak 1969 hingga 1970. Setiap hari, ia mendapat upah Rp 50, dan seminggu Rp 350. Dia pun berusaha menghemat uangnya, antara lain, dengan selalu makan bersama buruh bangunan di proyek.

Kemudian, setamat sarjana muda (BA) tahun 1970 dia dipercaya menjadi asisten dosen. Lalu, setelah lulus S1dari Fisipol UGM (1973), Affan diangkat menjadi dosen jurusan Ilmu Pemerintahan di almamaternya.

Pada masa kuliah di UGM, ia berkenalan dengan Sudjiatmi Purwaningsih, yang menjadi istrinya. Ia mengenalnya sejak 1972, di Pagelaran Alun-alun Utara. Kebetulan Fakultas Hukum, tempat Sudjiatmi kuliah, berdampingan dengn Fisipol. Mereka pun menikah dan dikaruniai empat anak. Dia sangat membanggakan peran isteri dalam perjalanan karirnya.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya 1976, ia pun mendapatkan dua tawaran beasiswa S-2. Beasiswa pertama berasal dari Konrad Adenauer Stichtung untuk studi ke Jerman. Namun tawaran ini tidak dia gunakan karena berpikir akan mengalami kesulitan dalam bahasa (Jerman). Tawaran beasiswa kedua dari The Rockefeller Foundation, Amerika Serikat, dia manfaatkan dengan baik hingga meraih gelar Master of Art Political Science, Northern Illnois University (1978).

Ketika awal semester, Affan sempat merasa shock. karena harus belajar ekstrakeras. Sebab dia tidak punya waktu beradaptasi. Sebaik tiba di AS dia langsung kuliah. Selain harus belajar ekstra bahasa Inggris tetapi juga pola belajar yang menuntutnya banyak membaca buku. Apalagi pada semester pertama itu, ia juga terpaksa meninggalkan istri dan dua anaknya di Indonesia.

Barulah pada semester berikutnya, setelah mengenal situasi dan mendapatkan rumah yang layak, ia memboyong keluarga ke Amerika. Karena sudah terbiasa belajar sambil bekerja, meskipun nilai beasiswa lebih dari cukup, Affan juga bekerja paruh waktu di perpustakaan. Di sana, dia juga sempat menjabat Ketua Permias, organisasi mahasiswa Indonesia di Amerika.

Hampir sepuluh tahun berikutnya, dia mengambil gelar doktor di Ohio State University (1988). Saat dia mengikuti program doktor itu, ibunya meninggal. Ia tidak sempat menungguinya, pengalaman yang amat menyakitkan baginya. Namun, ia berharap ibunya merasa bangga kepadanya, karena telah memenuhi keinginan ibunya agar ia menjadi guru, bukan guru biasa, tapi guru sekolah tinggi. Dan, walaupun dia tidak berhasil memenuhi harapan ayahnya untuk menjadi dokter, tetapi dia berhasil menjadi doktor.  e-ti/cr

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/562-orang-bima-yang-sangat-njawani

Berikut adalah disertasi beliau “Javanese Voters: A Case Study of Election Under A Hegemonic Party System”, 1988, Department of Political Science, The  Ohio State University

GaffarAfan1988 sm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s