Struktur Sosial, Agama, dan Upacara: Geertz, Hertz, Cunningham, Turner, dan Levi-Strauss


Oleh Parsudi Suparlan

Tulisan ini adalah tulisan lawas beliau. Bahan ada dibuku Hubungan Antar Suku Bangsa, 2004

PENDAHULUAN

Struktur sosial sebagai suatu tujuan pendefinisian dan alat operasional telah merupakan sebagian dari sejumlah perhatian utama antropologi. Bahkan ada sejumlah tokoh antropologi yang menganggap bahwa struktur sosial adalah satu-satunya perhatian utama dalam antropologi, sehingga menjadikannya sebagai suatu kekuatan pendorong bagi pembentukan teori-teori dalam antropologi.

Dalam kenyataannya para ahli antropologi telah dihadapkan pada suatu tantangan, yaitu memberikan penjelasan mengenai berbagai konsep yang nampaknya samar-samar tetapi selalu ada dalam setiap sistem sosial dan kebudayaan, dan bahkan juga terwujud dalam berbagai kegiatan manusia pada tingkat kenyataan sosial. Oleh para ahli antropologi, sistem-sistem konseptual yang ada pada berbagai aneka ragam kehidupan manusia dilihat sebagai perwujudan dari prinsip-prinsip struktur sosial; dan karenanya maka hasil pengkajian mereka itu menjadi sistem-sistem konseptual dari para ahli antropologi. Continue reading “Struktur Sosial, Agama, dan Upacara: Geertz, Hertz, Cunningham, Turner, dan Levi-Strauss”

Definisi Kebudayaan Menurut Parsudi Suparlan (alm.)


Tulisan-tulisan alm. Pak Parsudi ini gw kumpulin semenjak kuliah dulu dari beberapa situs, gw sendiri juga lupa alamat situsnya dan sumbernya. Jadi silahkan dijadikan bahan rujukan pemahaman tentang pemikiran pak parsudi ttg kebudayaan tapi jangan dikutip untuk karangan ilmiah. Lebih baik cari bukunya “Hubungan Antar Sukubangsa”, terbitan YIK (Yayasan Ilmu Kepolisian), thn 2003 (kalo nggak salah)….

prasetijo@gmail.com

Definisi Kebudayaan

“Kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia, dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan tindakan-tindakannya.” (Hlm. 2-18 alinea I) Continue reading “Definisi Kebudayaan Menurut Parsudi Suparlan (alm.)”

Belajar tentang kekerasan dari anak-anak “City of God”…


Sebenarnya sudah lama ingin nonton film ini. Rasanya keinginan itu muncul sudah sekisaran 3 atau 4 tahun lalu ketika film ini menjadi booming. Tapi entah bisa kesampaian sabtu kemarin. Aku tertarik karena berita awardnya yang didapat dari film ini. Berapa kali film ini untuk mendapatkan award. Aku kira hampir setiap koran atau majalah kritik film memuatnya sebagai salah satu film yang bermutu tahun itu. Bayanganku, pasti ini film yang bagus dan sarat dengan nuansa kedalaman yang tinggi. Ternyata lepas dari 4 tahun baru bisa aku saksikan dan nyatakan dalam pikiranku…….sungguh sayang. Dan memang film ini telah menginspirasi tentang makna dan dampak kekerasan yang dalam. Bahkan makna yang terdalam menurutku. Continue reading “Belajar tentang kekerasan dari anak-anak “City of God”…”

The Javanese in Suriname, Ethnicity in an Ethnically Plural Society


oleh Parsudi Suparlan

Arizona State University, Tempe Arizona, 1995

Buku ini bercerita tentang studi identitas etnik dalam konteks pluralitas etnik. Etnisitas adalah fenomena dalam level individu yg muncul dlm interaksi sosial. Hal ini berfokus pada individu dan kelompok, dan keduanya saling mempengaruhi dengan alam dan lingkungan sosial. Lingkungan diartikan didalamnya termasuk kategori etnik dan sistem kultural dari power yg menentukan norma politik, ekonomi, dan sosial. Kategori dan sistem ini kemudian mengajukan alternatif perilaku utk individu dan kelompok dlm hubungan sosial dan hubungan antar etniknya. Seperti, mereka mendukung kemasukakalan yg berdasarkan justifikasi rasional, moral, dan emosional dari pilihan perilaku. Continue reading “The Javanese in Suriname, Ethnicity in an Ethnically Plural Society”

Konsep Kebudayaan Menurut Geertz


Oleh Adi Prasetijo (prasetijo@gmail.com)

Pendahuluan
Konsep kebudayaan yang dikemukakan oleh Geertz memang sebuah konsep yang dianggap baru pada masanya. Seperti dalam bukunya Interpretation of Culture, ia mencoba mendefinsikan kebudayaan yang beranjak dari konsep yang diajukan oleh Kluckholn sebelumnya, yang menurutnya agak terbatas dan tidak mempunyai standard yang baku dalam penentuannya. Berbeda dengan Kluckholn, ia menawarkan konsep kebudayaan yang sifatnya interpretatif, sebuah konsep semiotik, dimana ia melihat kebudayaan sebagai suatu teks yang perlu diinterpretasikan maknanya daripada sebagai suatu pola perilaku yang sifatnya kongkrit (Geertz; 1992, 5). Dalam usahanya untuk memahami kebudayaan, ia melihat kebudayaan sebagai teks sehingga perlu dilakukan penafsiran untuk menangkap makna yang terkandung dalam kebudayaan tersebut. Kebudayaan dilihatnya sebagai jaringan makna simbol yang dalam penafsirannya perlu dilakukan suatu pendeskripsian yang sifatnya mendalam (thick description). Continue reading “Konsep Kebudayaan Menurut Geertz”

Kajian Kesukubangsaan Dalam Antropologi


Oleh Adi Prasetijo (Tijok),prasetijo@gmail.com

Dalam Antropologi, kajian mengenai kesukubangsaan (etnisitas) telah mengalami pergeseran fokus kajian yang cukup mendasar. Dari kajian kesukubangsaan yang berfokus pada isi kebudayaan suatu suku bangsa berwujud dalam suatu taksonomi kebudayaan, berubah menjadi suatu kajian yang lebih berfokus kepada identitas suku bangsa yang muncul dan ada dalam interaksi sosial. Sebagai ilustrasi kajian kesukubangsaan yang mendasarkan pada isi kebudayaan dapat kita simak bagaimana misalnya Ruth Benedict mencoba mengklasifikasikan dan mengkontraskan 3 kebudayaan dari 3 suku bangsa yang berbeda, yaitu masyarakat Indian Pueblo (Zuni & Hopi), masyarakat Dobu yang tinggal di pantai selatan timur Papua New Guinea, dan masyarakat Indian barat laut (Tsimshian, Kwaliutl, Coast Salish) yang hidup antara Puget Sound dan barat daya Alaska. Sebagai contoh ia menulis bahwa masyarakat Dobu adalah kelompok yang paranoid dan bernafsu. Ia menyebutnya sebagai masyarakat yang berwajah keras, sopan, dan bernafsu, diliputi oleh rasa keirian, kecurigaan dan kemarahan. Lalu kemudian ia mengkontraskannya dengan masyarakat Zuni sebagai kelompok masyarakat yang penuh dengan martabat dan kesopanan. Suatu masyarakat yang tidak mempunyai keingingan untuk memimpin dan seseorang yang tidak pernah mengleluarkan komentar atas tetangganya. Dan yang terakhir ia mengkarakterkan masyarakat Pueblo sebagai kelompok masyarakat yang tenang dan harmonis. Masyarakat Kwalitul sendiri, ia lihat sebagai masyarakat yang memperkaya diri sendiri dan mengagungkan diri-sendiri (Jerry D. Moore,1997,79-87).

Continue reading “Kajian Kesukubangsaan Dalam Antropologi”