Mengapa Sawit Begitu “Perkasa”


Oleh : Adi Prasetijo 

Awalan

Berikut adalah tulisan kecil mengapa sawit begitu kelihatan perkasa. Tentu saja sudut pandang tulisan ini adalah sudut pandang sejarah dan ekonomi singkat saja. Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) berasal dari Afrika Utara dan mulai dikenal di Indonesia mulai tahun 1848, ketika ditanam di Kebun Raya Bogor. Sejak tahun 1911, mulai diusahakan komersial dalam skala perkebunan di Sumatra Utara oleh perusahaan Franco-Belgia Corporation Socfin. Pada tahun 1939, Sumatra Utara dan Aceh  telah menjadi eksportir dan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Adanya perang kemerdekaan hingga tahun 1968, Indonesia telah tertinggal oleh Malaysia yang pada waktu itu mendominasi dunia. Dan perluasan dan usaha perkebunan kelapa sawit digalakkan kembali pada tahun 1980’an oleh pemerintah.

Apabila kita mengacu kepada model kepemilikan lahan perkebunan sawit, yaitu kepemilikan oleh negara (state), olehkelompok (smallholder) dan oleh pribadi (private), maka yang terjadi pada zaman penjajahan Belanda ( 1870-1930) lahan kepemilikan perkebunan sawit dikuasai oleh negara. Setelah zaman kemerdekaan terjadi peralihan kepemilikan lahan dari perusahaan perkebunan Belanda ke Perusahaan Negara Baru pada tahun 1957, yang kemudian berubah menjadi PTP (Perseroan Terbatas Perkebunan) pada tahun 1968. Meskipun begitu pola kepemilikan lahan tetap tidak berubah, yaitu pola kepemilikan lahan oleh negara. Kebanyakan lokasi dari perkebunan sawit milik negara ini berada di Sumatra Utara, meneruskan kepemilikan Belanda dahulu. Continue reading “Mengapa Sawit Begitu “Perkasa””

The Root of Green Budgeting


By: Adi Prasetijo & Pia Buschman (2014) – Indonesia Center for Sustainable Development

Green Budgeting

Within the region of South-east Asia, Indonesia is one of the most vulnerable countries to multiple climate change hazards like drought, floods, sea-level rise and landslide. These aspects of a warming climate will have a negative impact on food security, water resources, coastal areas, forests, marine biodiversity, farming and coastal livelihoods, and health, disproportionally affecting the poorest Indonesians. Climate change has a strong influence on the economic development of Indonesia, representing the highest potential cost to the economy in a long-term perspective. By the end of the century these costs mount up to annual losses of between 2.5 and 7.0 percent of GDP. Generating almost 10 percent of the total sum of the world’s greenhouse gases, Indonesia represents the second largest greenhouse gas emitter among developing countries in the region and one of the world’s leading emitters. The main sources of the Indonesian emissions represent illegal logging, forest fires, and peatland degradation (World Bank, 2009).

Continue reading “The Root of Green Budgeting”

Budaya Kontrol Dalam Organisasi


 Oleh Adi Prasetijo

Sumber:  Disadur & diolah dari Control and Ideology in Organizations,  dalam Buku  “Organization Theory. Modern, Symbolic, and Postmodern Prespectives”, Mary Jo Hatch, 2006

Dalam tulisan ini dibahas tentang aspek kontrol dalam organisasi dan teori-teori modern yang membahasnya. Dalam periode klasik, Fayol melihat bahwa kontrol adalah salah satu fungsi dari manager, selain dari fungsi yang lain yaitu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staff, dan kepemimpinan. Pada saat ini, kontrol organisasi (organizational control) merupakan bagian penting dari keuangan, akuntasi, dan sistem manajemen informasi yang dianggap sebagai  teori organisasi. Di dalam teori organisasi modern, kontrol organisasi diartikan sebagai suatu Continue reading “Budaya Kontrol Dalam Organisasi”

Sedikit Tentang Green Budgeting


Gagasan tentang “green budgeting” sesungguhnya bukanlah gagasan yang baru. Gagasan ini muncul pada era akhir 90’an selaras dengan semakin berkembangnya konsep sustainable development. Gagasan tentang green budgeting adalah suatu gagasan praktis tentang penerapan sustainable development dalam system anggaran dan budgeting pemerintah. Continue reading “Sedikit Tentang Green Budgeting”

Antara Masyarakat Ulu dan Ilir di Sumatra


Catatan tentang buku “To Live As Brother; Southeast Sumatra in the Seventeenth and Eighteenth Centuries”
Barbara Watson Andaya
University of Hawaii Press, Honolulu, 1993.

Bagi saya buku ini adalah buku yang penting untuk memahami sibak tabir budaya kelompok-kelompok masyarakat yang ad adi Sumatra, khusus Sumatra bagian tengah dan pesisir timur. Mengapa demikian ? karena dalam pembahasannya banyak hal temuan Andaya, meskipun pada abad 17 & 19 masehi, relevan dihubungkan dengan konteks kebudayaan masyarakat Sumatra saat ini.

Tesis Andaya adalah ketika ia membagi masyarakat Melayu Jambi menjadi 2 sub kebudayaan yaitu kebudayaan masyarakat Melayu yang ada didaerah hulu (pedalaman) dan hilir (pesisir) dimana keduanya mempunyai bentuk kebudayaan yang berbeda. Masyarakat pedalaman, menurutnya hidup secara independen dan tersebar berada di kawasan sumber daya alam yang produktif. Menurut Andaya, Orang Kubu adalah salah satu bentuk kelompok masyarakat Melayu yang menjadi penghuni hutan. Selain Orang Kubu, terdapat orang-orang Bathin, suatu komunitas tertua yang ada di Jambi (Andaya,1993;14). Continue reading “Antara Masyarakat Ulu dan Ilir di Sumatra”

Memerangi Prasangka


Adi Prasetijo
prasetijo@gmail.com

Pada tahun 2005 yang lalu di Sydney muncul kerusuhan antar ras yang dipicu oleh kabar yang tak jelas, dimana “katanya” seorang pemuda keturunan Arab telah menganiaya seorang petugas penjaga hingga babak belur. Tak pelak lagi berita “katanya” itu tiba-tiba telah menyebar luas melalui omong per omong dan SMS. Berita “katanya” itu kemudian menyulut rasa sentimen anti Arab di Australia. Dan tak lama kemudian menyulut dan merembetan tindakan-tindakan pemukulan, pengrusakan barang-barang milik publik, dan penyerang petugas keamanan terjadi. Bahkan seorang pemuda kulit putih tanpa sebab yang jelas memburu dan memukuli mereka yang berpenampilan Arab tanpa sebab musabab yang jelas (Kompas, 21/12/05). Ditenggarai prasangka terhadap imigran yang berlebihan dan membabi-buta adalah penyebab pokok kerusuhan rasial itu. (Kompas,12/12/05). Kebencian dan perasaan marah yang demikian luar biasanya dirasakan oleh para perusuh sehingga mampu menggerakan keinginan untuk merusak, melukai, bahkan membunuh sekalipun. Continue reading “Memerangi Prasangka”

Good Governance dan Pembangunan Berkelanjutan


Adi Prasetijo
dr berbagai sumber

dalam: Meretas Pemikiran Naya: Apreasiasi 37 Tahun Masa Pengabdian Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat, Ph.D, ICSD & SBM ITB, Bandung 2009

Dalam suatu percakapan informal seorang teman bertanya; Mengapa, lingkungan hidup Indonesia semakin memprihatinkan?. Apakah dapat diperbaiki dan bagaimana memperbaikinya?.

Pertanyaan tersebut tidak hanya diajukan oleh kawan tersebut tetapi oleh banyak kawan lainnya yang ikut prihatin dengan kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang kita miliki bersama. Jawaban politisnya mudah yaitu; karena kita miskin dan semakin miskin maka lingkungan hidup yang sudah rusak semakin rusak. Jawaban simplistik yang menyalahkan kemiskinan sebagai penyebab semakin parahnya kerusakan lingkungan hidup bukanlah jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan. Continue reading “Good Governance dan Pembangunan Berkelanjutan”

Konflik Antar Sukubangsa Melayu dan Dayak Dengan Madura di Kab. Sambas, Kalbar


Oleh Parsudi Suparlan
dimuat dalam buku beliau di Hubungan Antar Sukubangsa, Terbitan YPKIK, UI, 2004

Pendahuluan
Tulisan ini adalah mengenai konflik antar sukubangsa yang telah terjadi di Kabupaten Sambas antara sukubangsa atau orang Melayu dan orang Dayak disatu pihak dengan orang Madura di pihak lain. Konflik antara orang melayu dengan orang madura telah terjadi pada tahun 1999, yang merupakan sebuah konflik yang pertama terjadi dan yang terakhir. Karena setelah konflik tersebut berakhir orang-orang Madura terusir dari wilayah Kabupaten Sambas. Sedangkan konflik antara orang Dayak dan Madura telah berlangsung selama 11 kali sejak tahun 1962 yang berakhir pada tahun 1999. Konflik pada tahun 1999 terjadi pada saat sedang berlangsungnya konflik antara orang melayu dengan orang Madura. Continue reading “Konflik Antar Sukubangsa Melayu dan Dayak Dengan Madura di Kab. Sambas, Kalbar”

Pinjam meminjam budaya itu biasa bung..


Klaim tari pendet, klaim batik, wayang, dan lain-lain, jadi membuat saya berpikir tentang batasan budaya suatu bangsa.  Apa bener proses klaim mengklaim seperti ini juga baru terjadi sekarang-sekarang saja ?, Jadi berpikir kemudian apa sih yg namanya identitas budaya, kemudian apa batas identitasnya dan dimana sih  batasnya.. Continue reading “Pinjam meminjam budaya itu biasa bung..”

Pendekatan Budaya Terhadap Agama


Oleh Parsudi Suparlan (alm.)

Disampaikan dalam Pelatihan Wawasan Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Dosen Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, R.I. Tugu, Bogor, 26 November 1994

Pendahuluan

Dalam salah satu tulisan saya (1988: v), saya kemukakan bahwa: “Agama, secara mendasar dan umum, dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan lingkungannya”. Dalam definisi tersebut, agama dilihat sebagai sebuah doktrin atau teks suci sedangkan hubungan agama dengan manusia yang meyakininya dan khususnya kegiatan-kegiatan manusia penganut agama tersebut tidak tercakup dalam definisi tersebut. Para ahli ilmu-ilmu sosial, khususnya Antropologi dan Sosiologi, yang perhatian utamanya adalah kebudayaan dan masyarakat manusia, telah mencoba untuk melihat agama dari perspektif masing-masing bidang ilmu dan pendekatan-pendekatan yang mereka gunakan, dalam upaya mereka untuk dapat memahami hakekat agama dalam kehidupan manusia dan masyarakatnya. Continue reading “Pendekatan Budaya Terhadap Agama”