Pendekatan Budaya Terhadap Agama


Oleh Parsudi Suparlan (alm.)

Disampaikan dalam Pelatihan Wawasan Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Dosen Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, R.I. Tugu, Bogor, 26 November 1994

Pendahuluan

Dalam salah satu tulisan saya (1988: v), saya kemukakan bahwa: “Agama, secara mendasar dan umum, dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan lingkungannya”. Dalam definisi tersebut, agama dilihat sebagai sebuah doktrin atau teks suci sedangkan hubungan agama dengan manusia yang meyakininya dan khususnya kegiatan-kegiatan manusia penganut agama tersebut tidak tercakup dalam definisi tersebut. Para ahli ilmu-ilmu sosial, khususnya Antropologi dan Sosiologi, yang perhatian utamanya adalah kebudayaan dan masyarakat manusia, telah mencoba untuk melihat agama dari perspektif masing-masing bidang ilmu dan pendekatan-pendekatan yang mereka gunakan, dalam upaya mereka untuk dapat memahami hakekat agama dalam kehidupan manusia dan masyarakatnya. Continue reading “Pendekatan Budaya Terhadap Agama”

Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural


Parsudi Suparlan

*Simposium Jurnal Antropologi ke 3, Bali 16-21 Juli 2002

Pendahuluan

Dalam tulisan saya (Suparlan 2001a, 2001b) telah saya bahas dan tunjukkan bahwa cita-cita reformasi untuk membangun Indonesia Baru harus dilakukan dengan cara membangun dari hasil perombakan terhadap keseluruhan tatanan kehidupan yang dibangun oleh Orde Baru.  Inti dari cita-cita tersebut adalah sebuah masyarakat sipil demokratis, adanya dan ditegakkannya hukum untuk supremasi keadilan, pemerintahan yang bersih dari KKN, terwujudnya keteraturan sosial dan rasa aman dalam masyarakat yang menjamin kelancaran produktivitas warga masyarakat, dan kehidupan ekonomi yang mensejahterakan rakyat Indonesia.  Bangunan Indonesia Baru dari hasil reformasi atau perombakan tatanan kehidupan Orde Baru adalah sebuah “masyarakat multikultural Indonesia” dari puing-puing tatanan kehidupan Orde Baru yang bercorak “masyarakat majemuk” (plural society).  Sehingga, corak masyarakat Indonesia yang bhinneka tunggal ika bukan lagi keanekaragaman sukubangsaa dan kebudayaannya tetapi keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia. Continue reading “Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural”

Dari Masyarakat Terasing ke Komunitas Adat Terpencil


Paradigma Indigenous People dari Negara

Adi Prasetijo
Pengantar
Paradigma adalah jendela sudut pandang yang mendasari kita dalam melihat suatu gejala tertentu dimana dalam paradigma itu bersandar pada suatu konsep/teori tertentu yang mendasari keseluruhan sudur pandang kita. Demikian pula ketika Depsos/pemerintah dalam melihat gejala “masayarakat terasing” ini. Kebijakan yang mereka hasilkan terhadap “masyarakat terasing”  merupakan cerminan dari sudut pandang  pemerintah     dalam menghadapi permasalahan ini. Tentunya sudut pandang/paradigma yang mereka gunakan juga tidak lepas dari paradigma ilmu-ilmu sosial yang  digunakan dalam pembangunan Indonesia. Continue reading “Dari Masyarakat Terasing ke Komunitas Adat Terpencil”

Definisi Kebudayaan Menurut Parsudi Suparlan (alm.)


Tulisan-tulisan alm. Pak Parsudi ini gw kumpulin semenjak kuliah dulu dari beberapa situs, gw sendiri juga lupa alamat situsnya dan sumbernya. Jadi silahkan dijadikan bahan rujukan pemahaman tentang pemikiran pak parsudi ttg kebudayaan tapi jangan dikutip untuk karangan ilmiah. Lebih baik cari bukunya “Hubungan Antar Sukubangsa”, terbitan YIK (Yayasan Ilmu Kepolisian), thn 2003 (kalo nggak salah)….

prasetijo@gmail.com

Definisi Kebudayaan

“Kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia, dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan tindakan-tindakannya.” (Hlm. 2-18 alinea I) Continue reading “Definisi Kebudayaan Menurut Parsudi Suparlan (alm.)”

Hubungan Patron Klien


oleh: adi prasetijo (tijok)

Tulisan ini sebenarnya merupakan rangkuman dari tulisannya James Scott (Moral Petani, Perlawanan kaum Petani, dll). Hubungan patron klien adalah pertukaran hubungan antara kedua peran yang dapat dinyatakan sebagai kasus khusus dari ikatan yang melibatkan persahabatan instrumental dimana seorang individu dengan status sosio-ekonominya yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumber dayanya untuk menyediakan perlindungan, serta keuntungan-keuntungan bagi seseorang dengan status yang dianggapnyanya lebih rendah (klien). Klien kemudian membalasnya dengan menawarkan dukungan umum dan bantuan termasuk jasa pribadi kepada patronnya. Sebagai pola pertukaran yang tersebar, jasa dan barang yang dipertukarkan oleh patron dan klien mencerminkan kebutuhan yang timbul dan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing pihak Continue reading “Hubungan Patron Klien”

Old and New Identities, Old and New Ethnicities:


Stuart Hall

dalam Culture, Globalization and The World-System: Contempory Conditions for The Representation of Identity edited by Anthony D. King. Houdmills, Basingstoke, hampshire and London: MacMillan Education Ltd, 1991.

Meskipun tulisan ini tergolong lawas, namun menurut saya tulisan Hall ini adalah salah satu tulisan yang terbaik berkenaan bagaimana kita mendefinisikan identitas dalam masa-masa kontemporer, dimana batas-batas golongan dan masyarakat begitu tipisnya. Dalam artikel ini, sebenarnya Hall ingin membuka atau menjawab pertanyaan berkaitan dengan locus lokal dan global, dimana keduanya biasanya dilihat dalam konteks yang selalu untuk dikontraskan sebagai formulasi yang kontradiktif dan dalam 2 ruang yg berbeda sama sekali. Berkebalikan dengan premis itu, Hall melihat antara lokal dan global sebenarnya bukanlah 2 entitas yg perlu dikontraskan atau bersebarangan, terkecuali apabila kita berbicara dalam domain politik. Menurut Hall identitas terbentuk dari proses dialektika antara 2 entitas tersebut, lokal dan global. Continue reading “Old and New Identities, Old and New Ethnicities:”

Konsep Kebudayaan Menurut Geertz


Oleh Adi Prasetijo (prasetijo@gmail.com)

Pendahuluan
Konsep kebudayaan yang dikemukakan oleh Geertz memang sebuah konsep yang dianggap baru pada masanya. Seperti dalam bukunya Interpretation of Culture, ia mencoba mendefinsikan kebudayaan yang beranjak dari konsep yang diajukan oleh Kluckholn sebelumnya, yang menurutnya agak terbatas dan tidak mempunyai standard yang baku dalam penentuannya. Berbeda dengan Kluckholn, ia menawarkan konsep kebudayaan yang sifatnya interpretatif, sebuah konsep semiotik, dimana ia melihat kebudayaan sebagai suatu teks yang perlu diinterpretasikan maknanya daripada sebagai suatu pola perilaku yang sifatnya kongkrit (Geertz; 1992, 5). Dalam usahanya untuk memahami kebudayaan, ia melihat kebudayaan sebagai teks sehingga perlu dilakukan penafsiran untuk menangkap makna yang terkandung dalam kebudayaan tersebut. Kebudayaan dilihatnya sebagai jaringan makna simbol yang dalam penafsirannya perlu dilakukan suatu pendeskripsian yang sifatnya mendalam (thick description). Continue reading “Konsep Kebudayaan Menurut Geertz”

Kajian Kesukubangsaan Dalam Antropologi


Oleh Adi Prasetijo (Tijok),prasetijo@gmail.com

Dalam Antropologi, kajian mengenai kesukubangsaan (etnisitas) telah mengalami pergeseran fokus kajian yang cukup mendasar. Dari kajian kesukubangsaan yang berfokus pada isi kebudayaan suatu suku bangsa berwujud dalam suatu taksonomi kebudayaan, berubah menjadi suatu kajian yang lebih berfokus kepada identitas suku bangsa yang muncul dan ada dalam interaksi sosial. Sebagai ilustrasi kajian kesukubangsaan yang mendasarkan pada isi kebudayaan dapat kita simak bagaimana misalnya Ruth Benedict mencoba mengklasifikasikan dan mengkontraskan 3 kebudayaan dari 3 suku bangsa yang berbeda, yaitu masyarakat Indian Pueblo (Zuni & Hopi), masyarakat Dobu yang tinggal di pantai selatan timur Papua New Guinea, dan masyarakat Indian barat laut (Tsimshian, Kwaliutl, Coast Salish) yang hidup antara Puget Sound dan barat daya Alaska. Sebagai contoh ia menulis bahwa masyarakat Dobu adalah kelompok yang paranoid dan bernafsu. Ia menyebutnya sebagai masyarakat yang berwajah keras, sopan, dan bernafsu, diliputi oleh rasa keirian, kecurigaan dan kemarahan. Lalu kemudian ia mengkontraskannya dengan masyarakat Zuni sebagai kelompok masyarakat yang penuh dengan martabat dan kesopanan. Suatu masyarakat yang tidak mempunyai keingingan untuk memimpin dan seseorang yang tidak pernah mengleluarkan komentar atas tetangganya. Dan yang terakhir ia mengkarakterkan masyarakat Pueblo sebagai kelompok masyarakat yang tenang dan harmonis. Masyarakat Kwalitul sendiri, ia lihat sebagai masyarakat yang memperkaya diri sendiri dan mengagungkan diri-sendiri (Jerry D. Moore,1997,79-87).

Continue reading “Kajian Kesukubangsaan Dalam Antropologi”

Adaptasi Dalam Antropologi


Oleh Adi Prasetijo (tijok).prasetijo@gmail.com

Didalam dunia antropologi, khususnya Antropologi Ekologi terdapat suatu konsep yang menurut saya cukup unik dan masih relevan kita bicarakan hingga kini. Konsep tersebut adalah konsep tentang adaptasi. Kita harus memahami latarbelakang munculnya teori adaptasi ini dimana ketika itu ilmu pasti menjadi “dewa” dalam paradigma perkembangan teori ilmu sosial, khususnya antropologi. Konsep-konsep biologi dan ilmu pasti dijadikan dasar untuk menjelaskan fenomena-fenomena sosial yang ada. Tidak mengherankan jika secara epistemologi teori adaptasi ini mempunyai sifat alur penalaran yang menurut saya sangat deduktif, yaitu mencoba menalar suatu gejala sosial dengan penalaran bangunan konseptual terlebih dahulu untuk menjelaskanya. Ini berbeda memang dengan kebanyakan teori sosial dalam antropologi kemudian yang banyak mendasarkannya pada proses penalaran induktif – dari gejala empiris terlebih dahulu kemudian ke bangunan konseptual. Ciri deduktif ini memang sangat kental dalam era perkembangan teori ekologi yang awalnya banyak dibangun oleh para ahli ekologi, seperti Julian Steward, Marvin Harris, Marshal Sahlin, dll. Dan memang wajar karena domain ilmiah itu adalah terukur atau kebenaran sejati itu sesungguhnya adalah ukuran-ukuran yang jelas, menjadi dasar pemahaman para antropolog saat itu. Continue reading “Adaptasi Dalam Antropologi”

Pak Parsudi : Guru Yang Sebenarnya


Nama pak parsudi sesungguhnya bukanlah nama asing bagi orang-orang yang berkecimpung  di dunia antropologi. Buku-buku beliau telah menjadi buku bacaan wajib bagi para mahasiswa antropologi. Demikian pula dengan halnya saya. Background pendidikan S-1 saya bukanlah antropologi, namun saya banyak membaca buku-buku beliau terutama berkaitan dengan kehidupan kelompok suku-sukubangsa minoritas. Buku beliau tentang Orang Sakai adalah buku wajib yang saya baca. Ini memang berkaitan dengan dunia kerja yang saya geluti sebagai staf suatu project internasional pembangunan Orang Rimba yang ada di Jambi.  Pada waktu itu saya hanya mendengar bagaimana dan apa itu antropologi dari teman-teman kerja saya, yang kebanyakan berasal dari lulusan antropologi universitas di Indonesia. Continue reading “Pak Parsudi : Guru Yang Sebenarnya”