Sustainable Livelihood Approach in Corporate Social Responsibility


by Adi Prasetijo & Ratna Amini, Paper for IPA Conference -2010

Introduction

Corporate Social Responsibility (CSR) issues have a very massive growth in Indonesia. This can be seen with the Law No.40/2007 Law 40/2009 regarding limited company liability on social responsibility and the environment. This law has pro and contra on the implications. However, irrespective of the fact that it is important to get attention are how CSR programs that are run by many companies not only as a sticker, but the program can be significant, both for the company as well as targets of the program itself. The costs that incurred become useless if the outcome not measured. Even the benefit of the program is not optimal and sustainable. Continue reading “Sustainable Livelihood Approach in Corporate Social Responsibility”

Museum Kerinci di Malaysia, apa yang salah ?


Berita dikompas tanggal 12 April 2011, tentang pembangunan musem kerinci di Malaysia memang cukup mengundang pertanyaan dan pro-kontra. Dengan judul artikel, Duh! Museum Krinci Dibangun di Malaysia, Kompas mewartakan bahwa ini adalah museum yang dibangun atas permintaan warga negara Malaysia yang berasal Kerinci. Mereka ingin mengenang tentang kebudayaan asalnya. Pro-kontra tetap muncul. Budayawan Jambi banyak menyesalkan hal itu. Saya yang pernah bermukim di Jambipun, dan sekarang saya tinggal di Malaysia, rasanyapun menjadi merasa aneh. Kenapa kita mesti belajar budaya kerinci ke Malaysia ?. Buat saya ini tamparan keras buat orang Jambi. Ibaratnya begini, jangankan museum kerinci – museum negeri Jambi saja, saya kira pasti tak banyak pengunjungnya dari orang lokal Jambi sendiri. Terlepas pro-kontra dan isu Malaysia yang “jahil” suka klaim sana sini. Saya mencoba merefleksikan kepada kita sendiri. Mari kita lihat apa yang terjadi pada kita, sebelum kita lihat orang lain. Continue reading “Museum Kerinci di Malaysia, apa yang salah ?”

Seminggu ini


Memang hidup itu “up and down”. Naik turun. Kadang cepet kadang lambat naik turunnya. Tapi intinya ya tetap sama. Ya naik turun itu. Nggak ada hidup yang lurus atau stabil terus. Ya seperti yang aku alami seminggu ini. Sebelumnya dapat pemberitahuan dari kantor kalo gw any longer works at my office for next month & year ..hahaha..ya sdh gimana lagi. Susah senang harus ditanggung sendiri khan. Yang jelas alasannya bukan karena kualitas pekerjaan gw atau attitude gw dikantor tp karena ya krisis global. Ya nggak apa-apa.  Live must be goes on bro. Continue reading “Seminggu ini”

Memberi


Memberi. Gw kemarin sempat tercenung memikirkan makna kata memberi dalam hidup gw. Nggak tahu gw sempat terpikirkan kata-kata nasehat adik gw. Dia berkata begini, ” Memberi itu nggak akan membikin kita jadi semakin miskin tapi akan semakin membuat kita semakin kaya”. ” Dengan memberi nggak bakalan membuat kita tambah miskin”. Waktu itu gw tau apa maksudnya. Memberi ya memberi berarti mengurangi sesuatu dari diri kita. Misalnya, kita punya duit sepuluh ribu terus kita kasih ke pengemis jalanan dua ribu berarti uang kita akan berkurang jadi delapan ribu. Nambah kayanya dari mana coba ?. Gw pikir memang ada-ada aja pikiran adik gw itu. Pokoknya mana bisalah memberi menjadi bertambah dikita. Hil yang mustahal !! itu katanya Asmuni almarhum.  Continue reading “Memberi”

Dari Masyarakat Terasing ke Komunitas Adat Terpencil


Paradigma Indigenous People dari Negara

Adi Prasetijo
Pengantar
Paradigma adalah jendela sudut pandang yang mendasari kita dalam melihat suatu gejala tertentu dimana dalam paradigma itu bersandar pada suatu konsep/teori tertentu yang mendasari keseluruhan sudur pandang kita. Demikian pula ketika Depsos/pemerintah dalam melihat gejala “masayarakat terasing” ini. Kebijakan yang mereka hasilkan terhadap “masyarakat terasing”  merupakan cerminan dari sudut pandang  pemerintah     dalam menghadapi permasalahan ini. Tentunya sudut pandang/paradigma yang mereka gunakan juga tidak lepas dari paradigma ilmu-ilmu sosial yang  digunakan dalam pembangunan Indonesia. Continue reading “Dari Masyarakat Terasing ke Komunitas Adat Terpencil”

Hubungan Patron Klien


oleh: adi prasetijo (tijok)

Tulisan ini sebenarnya merupakan rangkuman dari tulisannya James Scott (Moral Petani, Perlawanan kaum Petani, dll). Hubungan patron klien adalah pertukaran hubungan antara kedua peran yang dapat dinyatakan sebagai kasus khusus dari ikatan yang melibatkan persahabatan instrumental dimana seorang individu dengan status sosio-ekonominya yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumber dayanya untuk menyediakan perlindungan, serta keuntungan-keuntungan bagi seseorang dengan status yang dianggapnyanya lebih rendah (klien). Klien kemudian membalasnya dengan menawarkan dukungan umum dan bantuan termasuk jasa pribadi kepada patronnya. Sebagai pola pertukaran yang tersebar, jasa dan barang yang dipertukarkan oleh patron dan klien mencerminkan kebutuhan yang timbul dan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing pihak Continue reading “Hubungan Patron Klien”