Kebakaran Hutan dan Perkebunan Sawit


Oleh Adi Prasetijo

Ini adalah tulisan lawas  (15 Juni 2001), tapi sepertinya masih layak untuk disimak karena kebarakan hutap tetap saja terjadi.

 

Latar Belakang

Pada tahun 1997-1998, di Indonesia terjadi kebakaran hutan yang dashyat. Kebakaran hutan di Indonesia pada waktu itu, terjadi bersamaan dengan fenomena El-Nino.[1] Dari hasil pemantauan CRISP (The Singapore Center for Remote Sensing) tercatat bahwa di tahun 1997, diperkirakan ada 1,5 juta ha. areal telah terbakar di Sumatra dan 3 juta ha ketika itu. di Kalimantan. Menurut kesimpulan CRISP sebagian besar kebakaran terjadi di daerah hutan dataran rendah yang berdekatan dengan sungai dan jalan, hutan diareal pegununangan tidak tersentuh api pada tahun itu (Barber & Schweithelm, 2000, 11). Hasil deteksi satelit pada tahun 1997 menunjukkan, titik-titik itu di atas 90 persen berasal dari hutan yang dikonversi. Dari ketiga lokasi kebakaran yang ditangkap oleh titik-titik hot spot yang terjadi di Kalimantan, yaitu di lokasi hutan rawa gemuk (peat swamp), hutan rawa-rawa (wetland) dan hutan dataran rendah, WWF menemukan bahwa sebagian besar titik hot spot tersebut ditemukan di lokasi hutan dataran rendah. Continue reading “Kebakaran Hutan dan Perkebunan Sawit”

The Root of Green Budgeting


By: Adi Prasetijo & Pia Buschman (2014) – Indonesia Center for Sustainable Development

Green Budgeting

Within the region of South-east Asia, Indonesia is one of the most vulnerable countries to multiple climate change hazards like drought, floods, sea-level rise and landslide. These aspects of a warming climate will have a negative impact on food security, water resources, coastal areas, forests, marine biodiversity, farming and coastal livelihoods, and health, disproportionally affecting the poorest Indonesians. Climate change has a strong influence on the economic development of Indonesia, representing the highest potential cost to the economy in a long-term perspective. By the end of the century these costs mount up to annual losses of between 2.5 and 7.0 percent of GDP. Generating almost 10 percent of the total sum of the world’s greenhouse gases, Indonesia represents the second largest greenhouse gas emitter among developing countries in the region and one of the world’s leading emitters. The main sources of the Indonesian emissions represent illegal logging, forest fires, and peatland degradation (World Bank, 2009).

Continue reading “The Root of Green Budgeting”

Toleransi tidak didapatkan jatuh dari langit tapi dibangun


Ini datang dari pengalaman saya beberapa hari ini. Refleksi ini datang tanpa sengaja, membuat saya mengingat kembali masa-masa bersekolahdasar dulu. Ceritanya melalui FB (thanks to FB), saya terkoneksikan dengan seorang teman lama ketika masa SD dahulu. SD..Ya SD. Coba bayangkan, sudah beberapa tahun lamanya terpisah. Perbincangan dengan teman itu membuat saya mencoba banyak-banyak mengingat apa saja yang terjadi ketika itu, juga apa yang saya rasakan ketika itu. Terus terang, sejak saya lulus SD dan pindah ke smp, hubungan dengan sekolah dasar tempat saya belajar seakan telah putus. SD tempat saya adalah sekolah dasar katolik. Karena alasan mutu, begitu kata orang tua saya, saya dan adik disekolahkan ke TK dan SD katolik, meskipun kami sendiri beragama Islam. SD tempat saya sekolah adalah sekolah katolik yang tumbuh dari pengalaman tradisi kedisiplinan katolik yang tinggi. Betapa tidak, SD tempat saya sekolah adalah sekolah praktek untuk kakak-kakak sekolah guru yang ada dalam kompleks itu juga. Sekolah saya memang berada dalam satu kompleks dengan SPG (Sekolah Pendidikan Guru), tempat tinggal para pastor & Romo, dan satu sekolah SMP. Bisa dibayangkan ramenya ketika semua ketemu dalam satu ruang. Untungnya kita memang tidak pernah ketemu dalam satu ruang. Dengan menjadi sekolah praktek, guru-gurunya sangat disiplin dalam mengajar. Kita diajarkan untuk bertanggungjawab atas diri kita sendiri. Jika kita tidak membawa pinsil, seharian penuh kita hari itu nggak bisa nulis. Meminjam itu haram !!!. Pernah saya mengalaminya dan habis sudah daya ingat saya untuk mengingat-mengingat pelajaran hari itu. Continue reading “Toleransi tidak didapatkan jatuh dari langit tapi dibangun”

Konsep Rekonsiliasi


Adi Prasetijo

Pendahuluan
Perbedaan adalah suatu konsekuansi logis yang muncul dalam setiap masyarakat yang bertipe masyarakat majemuk, seperti masyarakat Indonesia. Perbedaan bisa muncul dimana saja. Seperti misalnya perbedaan akan intertepretasi atas suatu gejala sosial yang sama oleh kelompok atau golongan yang berbeda adalah hal yang lumrah dalam masyarakat majemuk. Perbedaan interpretasi tersebut bisa terjadi karena setiap kelompok dan golongan masyarakat mempunyai nilai-nilai dalam kebudayaannya sendiri sebagai acuannya dalam menginterpretasikan atas sesuatu. Ia mempunyai kebenarannya sendiri dalam menginterpretasikan suatu gejala atau simbol yang dilihatnya. Sudah barang tentu perbedaan dalam masyarakat majemuk seperti ini akan membawa efek pada hubungan relasional manusia, tidak saja ditingkat antar individu tetapi juga ditingkat hubungan antar kelompok dan golongan yang berbeda. Continue reading “Konsep Rekonsiliasi”

Good Governance dan Pembangunan Berkelanjutan


Adi Prasetijo
dr berbagai sumber

dalam: Meretas Pemikiran Naya: Apreasiasi 37 Tahun Masa Pengabdian Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat, Ph.D, ICSD & SBM ITB, Bandung 2009

Dalam suatu percakapan informal seorang teman bertanya; Mengapa, lingkungan hidup Indonesia semakin memprihatinkan?. Apakah dapat diperbaiki dan bagaimana memperbaikinya?.

Pertanyaan tersebut tidak hanya diajukan oleh kawan tersebut tetapi oleh banyak kawan lainnya yang ikut prihatin dengan kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang kita miliki bersama. Jawaban politisnya mudah yaitu; karena kita miskin dan semakin miskin maka lingkungan hidup yang sudah rusak semakin rusak. Jawaban simplistik yang menyalahkan kemiskinan sebagai penyebab semakin parahnya kerusakan lingkungan hidup bukanlah jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan. Continue reading “Good Governance dan Pembangunan Berkelanjutan”

Pinjam meminjam budaya itu biasa bung..


Klaim tari pendet, klaim batik, wayang, dan lain-lain, jadi membuat saya berpikir tentang batasan budaya suatu bangsa.  Apa bener proses klaim mengklaim seperti ini juga baru terjadi sekarang-sekarang saja ?, Jadi berpikir kemudian apa sih yg namanya identitas budaya, kemudian apa batas identitasnya dan dimana sih  batasnya.. Continue reading “Pinjam meminjam budaya itu biasa bung..”

Mempertanyakan Kebudayaan Nasional Indonesia


” tidak ada yang namanya bangsa Indonesia, yang ada hanyalah negara Indonesia”

Pramudya Ananta Toer dalam  Coen Husain Pontoh, 2000.

Adi Prasetijo

Konsep Kebudayaan Indonesia

Kebudayaan dapat dipahami sebagai suatu sistem ide/gagasan yang dimiliki suatu masyarakat lewat proses belajar dan dijadikan acuan tingkah laku dalam kehidupan sosial bagi masyarakat tersebut. Sedangkan sistem budaya sendiri dapat dikatakan sebagai seperangkat pengetahuan yang meliputi pandangan hidup, keyakinan, nilai, norma, aturan, hukum yang diacu untuk menata, menilai, dan menginterpretasikan benda dan peristiwa dalam berbagai aspek kehidupannya. Nilai-nilai yang menjadi salah satu unsur sistem budaya, merupakan konsepsi abstrak yang dianggap baik dan amat bernilai dalam hidup, yang kemudian menjadi pedoman tertinggi bagi kelakuan dalam suatu masyarakat. Bertitik tolak dari pemahaman tersebut, konsep kebudayaan Indonesia dibangun oleh para pendahulu kita. Konsep kebudayaan Indonesia disini mengacu kepada nilai-nilai yang dipahami, dianut, dan dipedomani bersama oleh bangsa Indonesia. Nilai-nilai inilah yang kemudian dianggap sebagai nilai luhur, sebagai acuan pembangunan Indonesia. Nilai-nilai itu antara lain adalah taqwa, iman, kebenaran, tertib, setia kawan, harmoni, rukun, disiplin, harga diri, tenggang rasa, ramah tamah, ikhtiar, kompetitif, kebersamaan, dan kreatif.  Nilai-nilai itu ada dalam sistem budaya etnik yang ada di Indonesia. Nilai-nilai tersebut dianggap sebagai puncak-puncak kebudayaan daerah, sebagaimana sifat/ciri khas kebudayaan suatu bangsa Indonesia (Junus Melalatoa, 1997, 102). Konsep kebudayaan Indonesia ini kemudian diikat dalam satu konsep persatuan dan kesatuan bangsa yaitu konsep Bhineka Tunggal Ika. Continue reading “Mempertanyakan Kebudayaan Nasional Indonesia”

Komuniti Lokal dan Akses Peran Serta Mereka Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam


Oleh: Adi Prasetijo

Tulisan ini pernah dimuat dibuku “Akses Peran Serta Masyarakat”, terbitan ICSD, 2003

Indonesia adalah sebuah negara yang masyarakatnya bersifat majemuk (plural society). Masyarakat majemuk adalah suatu masyarakat yang penduduknya terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan sosial yang berbeda dimana mereka hidup dalam satuan-satuan kelompoknya masing-masing dan hanya bertemu dalam arena-arena publik saja. Sebagai suatu masyarakat yang majemuk, Indonesia dipersatukan oleh suatu sistem nasional yang mempersatukan suku-suku bangsa dan kebudayaan yang beraneka warna tersebut.  Sistem nasional itu adalah bhinneka tunggal ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Meskipun mempunyai bermacam-macam suku bangsa namun tetap satu, yaitu Indonesia. Berdasarkan survey penduduk terakhir yang dilakukan Kennedy dimana ia mengelompokkan penduduk Indonesia berdasarkan suku bangsanya, tidak kurang ia menemukan bahwa di Indonesia terdapat 3.000 suku bangsa. Masing-masing suku bangsa ini mempunyai kebudayaan yang berbeda (Kennedy,1935). Tidak mengherankan kemudian masyarakat di Indonesia mempunyai berbagai bentuk dan jenis kebudayaan yang berbeda. Dari mulai kebudayaan berburu dan meramu hingga kebudayaan industri, seperti Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Continue reading “Komuniti Lokal dan Akses Peran Serta Mereka Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam”

Nasionalisme Kita


Oleh :Adi Prasetijo

Pendahuluan

Dalam suatu seminar yang diadakan untuk mengenang 100 tahun Dr Johannes Leimena di Jakarta pada bulan September 2005, terungkap kekhawatiran para ahli bahwa nasionalisme Indonesia telah banyak mengalami kemunduran atau kalau boleh dikatakan sebagai meranggas. Fakta terungkap bahwa bukannya nasionalisme sebagai bangsa yang menguat tapi gejala komunalisme-lah yang semakin menguat dan mengakar dimasyarakat. Peristiwa-peristiwa konflik antar kesukuan dan kelompok atas nama agama dan sentimen kesukuan menguat (Kompas, 26/9/2005). Terungkap juga dalam kesempatan yang lain bahwa semangat nasionalisme dikalangan para anak muda bangsa kita yang sedang giat-giatnya membangun mengejar ketertinggalan juga menunjukkan kemerosotan. Dalam catatan merah suatu sarasehan Dinamika Pemuda dan Budaya Indonesia yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta pada bulan Februari 2006, terkuak bahwa para generasi pejuang yang turut memerdekan bangsa ini semakin khawatir aras tergerusnya nilai-nilai dan semangat nasionalisme dikalangan anak muda Indonesia (Kompas, 18/2/2006). Continue reading “Nasionalisme Kita”

Mencermati Kasus Konflik Etnis di Kalimantan Barat : Tantangan Untuk Mempertahankan Perdamaian Berkesinambungan


Peristiwa ketegangan antar warga di kawasan Tanjungpura Pontianak yang hampir saja membuahkan amuk massa atau kekerasan komunal pada hari kamis (6/12) kemarin tentu saja sangat kita sayangkan. Meskipun sudah dilakukan pertemuan perdamaian antar tokoh keduabelah etnis, hampir saja kekerasan komunal terjadi lagi. Untunglah kepolisian bisa bertindak sigap dan tegas sehingga gosip dan sentimen tidak menyebar. Namun sampai kapan polisi sanggup memainkan perannya sebagai pemadam kebakaran konflik yang ada di Kalimantan Barat jika isu-isu utama yang menjadi akar konflik tersembunyi tetap tidak terselesaikan ?

Tak pelak lagi kasus perselisihan warga yang hampir menyeret konflik etnis tersebut telah mengusik ingatan kita tentang kasus konflik etnis antara tahun 1997-1999. Semua konflik yang melibatkan komunal selalu dimulai oleh permasalahan-permasalahan yang terkesan sepele, yang kadang tidak ada hubungannya dengan masalah etnis sekalipun. Namun dengan cepat ia membakar sentimen keetnisan warganya dengan cepat, hingga menjadi tidak terkendali.
Continue reading “Mencermati Kasus Konflik Etnis di Kalimantan Barat : Tantangan Untuk Mempertahankan Perdamaian Berkesinambungan”