Bhinneka Tunggal Ika: Keanekaragaman Sukubangsa atau Kebudayaan?


Oleh Parsudi Suparlan (alm.), Hubungan Antar Sukubangsa, YKIK 2004

 

Pendahuluan: Masyarakat Majemuk Indonesia dan Permasalahannya 

Dalam berbagai tulisan, antara lain Suparlan (2001a, 2001b), telah saya tunjukan bahwa corak masyarakat majemuk, atau bhineka tunggal ika, Indonesia di tandai oleh penekanannya pada kesukubangsaan yang mengacu pada kelompok-kelompok atau masyarakat-masyarakat sukubangsa dengan masing-masing kebudayaanya yang dipersatukan dan diatur secara administratif oleh sistem nasional Indonesia yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945. di bawah pemerintahan presiden Suharto sistem nasional tersebut didominasi oleh coraknya yang sentralistik, otoriter-militeristik, korup, pemanipulasian SARA dan juga pemanipulasian hukum legal, hukum adat dan berbagai konvesi sosial untuk kepentingan penguasa/pejabat dan kekuasaan rezim. Hak warga dan komuniti (masyarakat lokal atau kolektiva sosial) diabaikan atau tidak dihargai, dan hak hidup sukubangsa dan kebudayaannya serta pranata-pranatanya ditekan selama tidak mendukung keberadaan dan kemantapan penguasa dalam rezim Suharto, yang dalam kegiatan rezim ini melakukan eksploitasi secara maksimal atas semua sumber-sumber daya yang ada di Indonesia. Continue reading “Bhinneka Tunggal Ika: Keanekaragaman Sukubangsa atau Kebudayaan?”

Masyarakat dan Kebudayaan


oleh: Almr. Prof. Parsudi Suparlan

Dari Buku: Hubungan Antar Suku Bangsa, YPKIK, 2004

A.Masyarakat  

Masyarakat adalah sekelompok individu yang secara langsung atau tidak langsung saling berhubungan  sehingga merupakan sebuah satuan kehidupan yang berkaitan antara sesamanya dalam sebuah satuan kehidupan yang dimana mempunyai kebudayaan tersendiri, berbeda dari kebudayaan yang dipunyai  oleh masyarakat lain.  Sebagai satuan kehidupan, sebuah  masyarakat biasanya menempati sebuah wilayah yang  menjadi tempatnya  hidup dan lestarinya masyarakat tersebut, karena warga masyarakat tersebut hidup dan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dalam wilayah tempat mereka itu hidup untk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup mereka sebagai manusia. Maka terdapat semacam keterkaitan hubungan antara sebuah masyarakat dengan wilayah tempat masyarakat itu hidup. sebuah masyarakat merupakan sebuah struktur yang terdiri atas saling berhubungan peranan-peranan dan para warga, peranan-peranan tersebut dijalankan sesuai norma-norma yang berlaku. Saling berhubungan diantara peranan-peranan ini mewujudkan struktur-struktur peranan yang biasanya terwujud sebagai pranata-pranata. untuk mewujudkan peranata-peranata itu dalam kehidupan manusia bermasyarakat untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup sebagai manusia, yang dianggap penting oleh masyarakat yang bersangkutan. Melalui pranata-pranata yang ada, sebuah masyarakat dapat tetap lestari dan berkembang. Pranata-pranata yang ada dalam masyarakat, antara lain, adalah pranata keluarga, pranata ekonomi, pranata politik, pranata keagamaan, dsb. Continue reading “Masyarakat dan Kebudayaan”

Teori dan Konsep Hubungan Antar Suku Bangsa, Masyarakat, dan Budaya


Oleh : Parsudi Suparlan

Sumber: Bab 1.Teori dan Konsep Hubungan Antar Suku Bangsa, Masyarakat, dan Budaya, dalam Buku Hubungan Antar Suku Bangsa, terbitan YPKIK, 2004

A. Masyarakat

Masyarakat adalah sekelompok individu yang secara langsung atau tidak langsung saling berhubungan  sehingga merupakan sebuah satuan kehidupan yang berkaitan antara sesamanya dalam sebuah satuan kehidupan yang dimana mempunyai kebudayaan tersendiri, berbeda dari kebudayaan yang dipunyai  oleh masyarakat lain.  Sebagai satuan kehidupan, sebuah  masyarakat biasanya menempati sebuah wilayah yang  menjadi Continue reading “Teori dan Konsep Hubungan Antar Suku Bangsa, Masyarakat, dan Budaya”

Kesukubangsaan dan Primordialitas:


Program Ayam di desa Mwapi, Timika, Irian Jaya
Oleh : Parsudi Suparlan
Pernah dimuat di Jurnal Antropologi no 54 th XXI Des 1997-April 1998

Kesukubangsaan sebagai sebuah konsep ilmiah telah bergeser pengertiaannya dari mengenai isi kebudayaan menjadi mengenai jatidiri atau identitas yang muncul dalam interaksi sosial, dan yang karena itu kajian mengenai kesukubangsaan menjadi terfokus pada batas-batas sukubangsa dimana atribut-atribut kesukubangsaan yang mencakup simbol-simbol kebudayaan sebagaimana didefinisikan oleh para pelakunya menentukan corak kesukubangsaan yang bersangkutan. Continue reading “Kesukubangsaan dan Primordialitas:”

Kemajemukan, Hipotesis Kebudayaan Dominan dan Kesukubangsaan


oleh Parsudi Suparlan
dimuat dalam Jurnal Antropologi, tahun XXIII No. 58, Januari-April 1999

Pendahuluan: Hipotesis Kebudayaan

Kesukubangsaan di antara para migran di kota Bandung dan Medan, Bruner (1974) telah menunjukkan kegunaan hipotesis kebudayaan dominan yang dibuatnya sebagai model analisis. Hipotesis kebudayaan dominan adalah sebuah model substantif yang merefleksikan kenyataan hubungan antar sukubangsa dalam sebuah konteks struktur kekuatan setempat. Produk dari hubungan antar suku tersebut ditentukan oleh corak hubungan di antara suku-suku bangsa yang ada, dan oleh corak hubungan antara masing-masing suku bangsa tersebut dengan struktur kekuatan setempat yang ada. Continue reading “Kemajemukan, Hipotesis Kebudayaan Dominan dan Kesukubangsaan”

Hak Budaya Komuniti dan Integrasi Kebangsaan


Parsudi Suparlan, Universitas Indonesia
Disampaikan dalam Diskusi Gandi Afternoon Forum Nasionalisme Dalam Kesetaraan Warganegara Memperkokoh Integrasi Kebangsaan
Gerakan Perjuangan Anti Diskriminasi (Gandi)
Jakarta , 26 Oktober 2000

I
Indonesia adalah sebuah masyarakat majemuk atau Bhineka Tunggal Ika (Suparlan, 1979) yang sedang mengalami transisi dari coraknya yang otoriter dan militeristik menuju masyarakat majemuk yang demokratis. Dalam proses demokrasinya Indonesia hanya mengakui dua kekuatan politik yaitu negara (pemerintah) dan individu (HAM). Pedoman bagi kehidupan atau kebudayaan demokrasi adalah konflik. Konflik yang terwujud sebagai proses-proses persaingan dan pertentangan untuk memenagkan sesuatu kepentingan atau sumber-su mberdaya yang ada dalam masyarakatnya. Dalam mengacu pada hukum dan konvensi yang berlaku, yang selalu ada wasit atau jurinya, menghasilkan kehancuran atau chaos. Sebab. Bila sampai terjadi chaos maka ada yang bukan lagi demikrasi tetapi sewenang-wenangan atau otoriter. Sebab prinsip mendasar yang menjadi tujuan dari demokrasi adalah produktivitas. Produktivitas yang menjamin terwujudnya kesejahteraan masyarakat dan kemakmuran bangsa dan negara. Continue reading “Hak Budaya Komuniti dan Integrasi Kebangsaan”

Konflik Antar Sukubangsa Melayu dan Dayak Dengan Madura di Kab. Sambas, Kalbar


Oleh Parsudi Suparlan
dimuat dalam buku beliau di Hubungan Antar Sukubangsa, Terbitan YPKIK, UI, 2004

Pendahuluan
Tulisan ini adalah mengenai konflik antar sukubangsa yang telah terjadi di Kabupaten Sambas antara sukubangsa atau orang Melayu dan orang Dayak disatu pihak dengan orang Madura di pihak lain. Konflik antara orang melayu dengan orang madura telah terjadi pada tahun 1999, yang merupakan sebuah konflik yang pertama terjadi dan yang terakhir. Karena setelah konflik tersebut berakhir orang-orang Madura terusir dari wilayah Kabupaten Sambas. Sedangkan konflik antara orang Dayak dan Madura telah berlangsung selama 11 kali sejak tahun 1962 yang berakhir pada tahun 1999. Konflik pada tahun 1999 terjadi pada saat sedang berlangsungnya konflik antara orang melayu dengan orang Madura. Continue reading “Konflik Antar Sukubangsa Melayu dan Dayak Dengan Madura di Kab. Sambas, Kalbar”