Masyarakat dan Kebudayaan


oleh: Almr. Prof. Parsudi Suparlan

Dari Buku: Hubungan Antar Suku Bangsa, YPKIK, 2004

A.Masyarakat  

Masyarakat adalah sekelompok individu yang secara langsung atau tidak langsung saling berhubungan  sehingga merupakan sebuah satuan kehidupan yang berkaitan antara sesamanya dalam sebuah satuan kehidupan yang dimana mempunyai kebudayaan tersendiri, berbeda dari kebudayaan yang dipunyai  oleh masyarakat lain.  Sebagai satuan kehidupan, sebuah  masyarakat biasanya menempati sebuah wilayah yang  menjadi tempatnya  hidup dan lestarinya masyarakat tersebut, karena warga masyarakat tersebut hidup dan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dalam wilayah tempat mereka itu hidup untk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup mereka sebagai manusia. Maka terdapat semacam keterkaitan hubungan antara sebuah masyarakat dengan wilayah tempat masyarakat itu hidup. sebuah masyarakat merupakan sebuah struktur yang terdiri atas saling berhubungan peranan-peranan dan para warga, peranan-peranan tersebut dijalankan sesuai norma-norma yang berlaku. Saling berhubungan diantara peranan-peranan ini mewujudkan struktur-struktur peranan yang biasanya terwujud sebagai pranata-pranata. untuk mewujudkan peranata-peranata itu dalam kehidupan manusia bermasyarakat untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup sebagai manusia, yang dianggap penting oleh masyarakat yang bersangkutan. Melalui pranata-pranata yang ada, sebuah masyarakat dapat tetap lestari dan berkembang. Pranata-pranata yang ada dalam masyarakat, antara lain, adalah pranata keluarga, pranata ekonomi, pranata politik, pranata keagamaan, dsb. Continue reading “Masyarakat dan Kebudayaan”

Batasan Sosial Etnik: Bagaimana Mengartikan Kelompok Etnik Menurut Barth


Apa itu etnik ? Apa bedanya dengan ras atau kebudayaan ? Tulisan Barth tentang ethnic boundaries memang menakjubkan. Dari karya tulisan Barth, muncul banyak pertanyaan baru yang dahulu hanya berfokus pada isi kebudayaan saja. Tulisan tentang ethnic boundaries ditulis Barth tahun 1969. Ia memunculkan suatu analisa baru tentang kajian etnik ketika itu, ketika perdebatan antara peneliti primordialist dan instrumentalist berkutat pada apakah etnik itu masalah budaya “bawaan” sejak lahir atau masalah sosial politik.

Untuk paham siapa itu Fredrik Bath, silahkan klik link berikut:
Thomas Fredrik Weybye Barth

Berikut adalah summary saya tentang tulisan pengantar Barth, judulnya “Kelompok Etnik dan Batasannya: Tatanan Sosial dari Perbedaan Kebudayaan” Editor Fredrik Barth UI – Press, Jakarta, 1988. Buku ini diterjemahkan dari Ethnic Group and Boundaries, 1969. Continue reading “Batasan Sosial Etnik: Bagaimana Mengartikan Kelompok Etnik Menurut Barth”

Membaca Eric Wolf


Pagi yang buta. Sebentar lagi menjelang terang. Mata belum terkantuk. Pathways of power dan Europe People Without History milik Eric Wolf masih tergeletak disamping laptopku. Membaca kedua buku ini memang seakan menjelajahi pemikiran Marx dalam konteks yang lain. Jika biasanya membaca Marx dalam konteks gerakan maka marx ditangan Wolf seakan hidup dalam konteks sejarah dan budaya. Memang Wolf bukan orang pertama yang membaca Marx dalam antropologi. Tetapi bagi saya ia yang membumikan dan mempopulerkan pemikiran Marx dalam kajian antropologi. Ia mengotak-atik mode of production dan power seakan menjadi hidup. Kalau biasanya konteks itu hidup dalam masyarakat modern, Wolf menghidupkannya dalam sisi-sisi masyarakat tradisional dan menghubungkannya dengan masyarakat. Continue reading “Membaca Eric Wolf”

Antara Masyarakat Ulu dan Ilir di Sumatra


Catatan tentang buku “To Live As Brother; Southeast Sumatra in the Seventeenth and Eighteenth Centuries”
Barbara Watson Andaya
University of Hawaii Press, Honolulu, 1993.

Bagi saya buku ini adalah buku yang penting untuk memahami sibak tabir budaya kelompok-kelompok masyarakat yang ad adi Sumatra, khusus Sumatra bagian tengah dan pesisir timur. Mengapa demikian ? karena dalam pembahasannya banyak hal temuan Andaya, meskipun pada abad 17 & 19 masehi, relevan dihubungkan dengan konteks kebudayaan masyarakat Sumatra saat ini.

Tesis Andaya adalah ketika ia membagi masyarakat Melayu Jambi menjadi 2 sub kebudayaan yaitu kebudayaan masyarakat Melayu yang ada didaerah hulu (pedalaman) dan hilir (pesisir) dimana keduanya mempunyai bentuk kebudayaan yang berbeda. Masyarakat pedalaman, menurutnya hidup secara independen dan tersebar berada di kawasan sumber daya alam yang produktif. Menurut Andaya, Orang Kubu adalah salah satu bentuk kelompok masyarakat Melayu yang menjadi penghuni hutan. Selain Orang Kubu, terdapat orang-orang Bathin, suatu komunitas tertua yang ada di Jambi (Andaya,1993;14). Continue reading “Antara Masyarakat Ulu dan Ilir di Sumatra”

Antara Superhero, Win, dan WASP


Apa sih hubungannya antara patriotisme dan kebudayaan ?

Hubungan itu baru saja saya temukan ditulisannya Samuel Huntington, “Who Are We”.  Bukunya sudah lama sih, 2004, tapi baru kebaca beberapa hari ini. Penjelasan-penjelasan yang ada dalam buku ini seperti  menyambungkan serpihan kenyataan yang kita lihat tentang Amerika dan masyarakatnya. 

Semua ini berawal dari rasa penasaranku tentang fenomena ” superhero” dalam masyarakat amerika. Sebagai penggemar film-film action Hollywood, yang namanya superhero atau hero selalu menjadi pahlawan dalam setiap semua kesulitan. Entah bagaimanapun sulitnya kondisi yang dihadapi masyarakatnya atau begitu gelapnya sehingga seakan tidak mungkin terselesaikan masalahnya, namun dengan superhero, semua masalah seperti bisa teratasi oada detik-detik akhir. Konteksnya saja yang berbeda-beda. Kadang tentang masalah olahraga. Sudah diramalkan kalah, tanpa punya keunggulan sedikitpun tapi bisa menang. Atau misalnya seorang superhero yang secara fisik kelelahan namun bisa menang akhirnya. Muncul sebuah idiom bahwa “lakone kalah dhisik, menang’e keri”. Yang namanya lakon pasti kalah dulu, baru kemudian menang diakhir. Continue reading “Antara Superhero, Win, dan WASP”

Rethinking Ethnicity, Argumens and Explorations: Richard Jenkins Sage Publications, London, 1997.


Resensi:

adi prasetijo

Barth menekankan bahwa identitas etnik adalah dihasilkan, dikonfirmasikan atau ditranformaikan di dalam bagian/corak (course) interaksi dan transaksi antara pengambilan keputusan, dan strategi individu. Etnisitas dalam Barth  menjadi bahan politik, pengambil keputusan, dan orientasi tujuan (jenkin, 12).

  • Etnik/suku bangsa adalah tentang perbedaan kultural – meskipun , menulangi pertanyaan tema utama dari identitas sosial, identitas adalah selalu merupakan dialektika antara kesamaan & perbedaan
  • Etnisitas  adalah dipusatkan pada perhatian dengan kebudayaan – makna yang dibagi bersama (shared meaning)- tetapi ini juga berakar di dalam, dan pada suatu kepentingan yang luas ttg hasil dari interaksi sosial
  • Etnisitas tidak lagi mapan atau tak berubah daripada kebudayaan dari dimana ini merupakan sebuah komponen atau situasi dimana ini diproduksi dan direproduksi
  • Etnisitas sebagai sebuah identitas sosial adalah kolektif/kumpulan dan individual, dieksternalisasikan di dalam interaksi sosial dan diinternalisasikan dalam identifikasi diri personal (Jenkins, 13-14). Continue reading “Rethinking Ethnicity, Argumens and Explorations: Richard Jenkins Sage Publications, London, 1997.”

Douglas, Mary “The Abomination of Leviticus “, dalam Reader in (‘omparative Religion: an Anthropological Approach, (William A Lessa and E. Vogt), New York: Harper & Row, 1979


resensi..

Adi Prasetijo

Artikel ini sebenarnya ingin mencoba untuk menjelaskan dan menggambarkan bahwa upacara yang sifatnya suci dan tidak suci adalah menciptakan suatu kesatuan yang tunggal dan tidak dapat dipisahkan. Taboo (pantangan) secara umum dapat diartikan sebagai suatu  interpretasi akan ketidakbersihan (kotor) danpenghindaran terhadap pelanggaran yang merusak keharmonisan hubungannya dengan alam, apabila terjadi pelanggaran maka sangsinya ada di dunia, misalnya penyakit, gempa bumi Continue reading “Douglas, Mary “The Abomination of Leviticus “, dalam Reader in (‘omparative Religion: an Anthropological Approach, (William A Lessa and E. Vogt), New York: Harper & Row, 1979”

SINOPSIS Actions, Variations, and Change: The Emerging Anti-Essentialist View in Anthropology By Andrew Vayda


Adi Prasetijo;

resensi buku lawas Andrew Vayda, tp masih perlu utk dibaca

Vayda mengatakan  bahwa sebenarnya munculnya pandangan bahwa pola dan “order” dalam studi antropologi terlalu dilebih-lebihkan dan sebaiknya variasi dan variabilitaslah yang seharusnya diteliti oleh para peneliti. Kemudian ia  menggunakan terminologi anti-esesensialist untuk menggambarkan  peneliti (Pelto & Pelto, Borosfsky, Fredrick Barth &Vayda sendiri) yang berusaha menghindarkan atau menghilangkan studinya dari orientasi pola dan menggantikannya dengan orientasi variasi dan proses bagaimana pengetahuan itu didapatkan, dipertahankan, dan ditransmisikan, yang kesemuanya itu bersifat kontekstual. Ia kemudian menggunakan terminologi essensialist untuk menggambarkan para peneliti(ernest & Pearl Beaglehole) yang melihat unsur pola sebagai orientasi penelitiannya, yang tentu saja berdasar pada keseragaman kultural dan bersifat struktural. Juga pada reaksi mereka yang lebih cenderung kepada data sebagai suatu yang sudah dijadikan pedoman dan cenderung stabil serta dianggap lebih, daripada data lain yang bersifat oposisi. Continue reading “SINOPSIS Actions, Variations, and Change: The Emerging Anti-Essentialist View in Anthropology By Andrew Vayda”

Orang Kubu Dalam Kaca Mata Edwin Loeb


Resensi Sumatra, Its History And People, By Edwin M.Loeb (1935 ?)

Oleh Adi Prasetijo

Buku ini sebenarnya menceritakan sejarah pulau Sumatra dan masyarakat yang hidup di pulau itu. Salah satu yang menjadi kajian Loeb adalah Orang Kubu. Loeb membagi tulisannya tentang orang Kubu dalam 4 bagian, yaitu; pendahuluan yang berisi sejarah Orang Kubu, lokasi mereka, dan pengistilahan Kubu sendiri; kehidupan ekonomi yang mencoba menjelaskan mata pencaharian mereka; organisasi sosial yang menjelaskan dengan singkat tentang sistem kekerabatan, perkawinan, dan daur hidup mereka (kelahiran – kematian); dan yang terakhir tentang agama mereka.
Continue reading “Orang Kubu Dalam Kaca Mata Edwin Loeb”

Old and New Identities, Old and New Ethnicities:


Stuart Hall

dalam Culture, Globalization and The World-System: Contempory Conditions for The Representation of Identity edited by Anthony D. King. Houdmills, Basingstoke, hampshire and London: MacMillan Education Ltd, 1991.

Meskipun tulisan ini tergolong lawas, namun menurut saya tulisan Hall ini adalah salah satu tulisan yang terbaik berkenaan bagaimana kita mendefinisikan identitas dalam masa-masa kontemporer, dimana batas-batas golongan dan masyarakat begitu tipisnya. Dalam artikel ini, sebenarnya Hall ingin membuka atau menjawab pertanyaan berkaitan dengan locus lokal dan global, dimana keduanya biasanya dilihat dalam konteks yang selalu untuk dikontraskan sebagai formulasi yang kontradiktif dan dalam 2 ruang yg berbeda sama sekali. Berkebalikan dengan premis itu, Hall melihat antara lokal dan global sebenarnya bukanlah 2 entitas yg perlu dikontraskan atau bersebarangan, terkecuali apabila kita berbicara dalam domain politik. Menurut Hall identitas terbentuk dari proses dialektika antara 2 entitas tersebut, lokal dan global. Continue reading “Old and New Identities, Old and New Ethnicities:”