Komuniti Lokal dan Akses Peran Serta Mereka Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam


Oleh: Adi Prasetijo

Tulisan ini pernah dimuat dibuku “Akses Peran Serta Masyarakat”, terbitan ICSD, 2003

Indonesia adalah sebuah negara yang masyarakatnya bersifat majemuk (plural society). Masyarakat majemuk adalah suatu masyarakat yang penduduknya terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan sosial yang berbeda dimana mereka hidup dalam satuan-satuan kelompoknya masing-masing dan hanya bertemu dalam arena-arena publik saja. Sebagai suatu masyarakat yang majemuk, Indonesia dipersatukan oleh suatu sistem nasional yang mempersatukan suku-suku bangsa dan kebudayaan yang beraneka warna tersebut.  Sistem nasional itu adalah bhinneka tunggal ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Meskipun mempunyai bermacam-macam suku bangsa namun tetap satu, yaitu Indonesia. Berdasarkan survey penduduk terakhir yang dilakukan Kennedy dimana ia mengelompokkan penduduk Indonesia berdasarkan suku bangsanya, tidak kurang ia menemukan bahwa di Indonesia terdapat 3.000 suku bangsa. Masing-masing suku bangsa ini mempunyai kebudayaan yang berbeda (Kennedy,1935). Tidak mengherankan kemudian masyarakat di Indonesia mempunyai berbagai bentuk dan jenis kebudayaan yang berbeda. Dari mulai kebudayaan berburu dan meramu hingga kebudayaan industri, seperti Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Continue reading “Komuniti Lokal dan Akses Peran Serta Mereka Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam”

Old and New Identities, Old and New Ethnicities:


Stuart Hall

dalam Culture, Globalization and The World-System: Contempory Conditions for The Representation of Identity edited by Anthony D. King. Houdmills, Basingstoke, hampshire and London: MacMillan Education Ltd, 1991.

Meskipun tulisan ini tergolong lawas, namun menurut saya tulisan Hall ini adalah salah satu tulisan yang terbaik berkenaan bagaimana kita mendefinisikan identitas dalam masa-masa kontemporer, dimana batas-batas golongan dan masyarakat begitu tipisnya. Dalam artikel ini, sebenarnya Hall ingin membuka atau menjawab pertanyaan berkaitan dengan locus lokal dan global, dimana keduanya biasanya dilihat dalam konteks yang selalu untuk dikontraskan sebagai formulasi yang kontradiktif dan dalam 2 ruang yg berbeda sama sekali. Berkebalikan dengan premis itu, Hall melihat antara lokal dan global sebenarnya bukanlah 2 entitas yg perlu dikontraskan atau bersebarangan, terkecuali apabila kita berbicara dalam domain politik. Menurut Hall identitas terbentuk dari proses dialektika antara 2 entitas tersebut, lokal dan global. Continue reading “Old and New Identities, Old and New Ethnicities:”

Kajian Kesukubangsaan Dalam Antropologi


Oleh Adi Prasetijo (Tijok),prasetijo@gmail.com

Dalam Antropologi, kajian mengenai kesukubangsaan (etnisitas) telah mengalami pergeseran fokus kajian yang cukup mendasar. Dari kajian kesukubangsaan yang berfokus pada isi kebudayaan suatu suku bangsa berwujud dalam suatu taksonomi kebudayaan, berubah menjadi suatu kajian yang lebih berfokus kepada identitas suku bangsa yang muncul dan ada dalam interaksi sosial. Sebagai ilustrasi kajian kesukubangsaan yang mendasarkan pada isi kebudayaan dapat kita simak bagaimana misalnya Ruth Benedict mencoba mengklasifikasikan dan mengkontraskan 3 kebudayaan dari 3 suku bangsa yang berbeda, yaitu masyarakat Indian Pueblo (Zuni & Hopi), masyarakat Dobu yang tinggal di pantai selatan timur Papua New Guinea, dan masyarakat Indian barat laut (Tsimshian, Kwaliutl, Coast Salish) yang hidup antara Puget Sound dan barat daya Alaska. Sebagai contoh ia menulis bahwa masyarakat Dobu adalah kelompok yang paranoid dan bernafsu. Ia menyebutnya sebagai masyarakat yang berwajah keras, sopan, dan bernafsu, diliputi oleh rasa keirian, kecurigaan dan kemarahan. Lalu kemudian ia mengkontraskannya dengan masyarakat Zuni sebagai kelompok masyarakat yang penuh dengan martabat dan kesopanan. Suatu masyarakat yang tidak mempunyai keingingan untuk memimpin dan seseorang yang tidak pernah mengleluarkan komentar atas tetangganya. Dan yang terakhir ia mengkarakterkan masyarakat Pueblo sebagai kelompok masyarakat yang tenang dan harmonis. Masyarakat Kwalitul sendiri, ia lihat sebagai masyarakat yang memperkaya diri sendiri dan mengagungkan diri-sendiri (Jerry D. Moore,1997,79-87).

Continue reading “Kajian Kesukubangsaan Dalam Antropologi”

Create Sustainable Peace in West Kalimantan


 

Conflict Background in West Kalimantan

West Kalimantan plays a significant role in the history of ethnic conflicts in Indonesia which causes communal violence. Based upon UNSFIR (The United Nations Support Facility for Indonesian Recovery) research on communal violence in Indonesia between 1990-2003, West Kalimantan rank on third place (After North Maluku and Maluku) with the death toll of 1.151 lives out of 11.160 victims who died of communal violence or around 13, 6% from the total death count. The largest contribution on west Kalimantan’s communal violence victims happens on the Dayak-Melayu and Maduranese ethnic conflicts in 1996-1997. Interestingly, the large effect that it gives it happens only in a contain incidence. UNSFIR notes there are only 78 cases of communal violence or just 1.8% of all 4.270 conflict cases that happens in Indonesia. This shows, though rare and short, the damage that it causes are extensive. What has happened caused such significant impact on the people of West Kalimantan, trauma of violence, refugee, lost of belongings, and community disintegration? In those events at least 20.000 people seeks asylum migrating away from their home out of the conflicting area.

Continue reading “Create Sustainable Peace in West Kalimantan”